ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Sad Story. Show all posts
Showing posts with label Sad Story. Show all posts
Friday, 27 March 2020

HACK? and WORST EXPERIENCE

1 comments


Dalam hidupku, ada banyak hal yang slalu kusesali. Tapi salah satu yang paling aku kecewakan lantaran karna kesalahanku juga adalah masalah "HACK TWITTER" 

HACK atau PHISING atau apalah namanya, yang pasti aku gaakan pernah maafin orang yang ngelakuin itu. Padahal baru kemarin, pagi, aku iseng baca-baca email dan akhirnya aku ngisi objection form itu. Bodohnya aku ga nanya dulu. Dan sekarang akun 21.9K Followersku ilang, i don't have power anymore. Aku selalu membanggakan diriku pada orang-orang bahwa aku adalah seorang influencer. 

Bahkan aku pernah ikut lomba cerita inspiratif dan meraih peringkat 7. Ofcourse i'm proud. Tapi itu ga merubah apa-apa. Aku hanya mendapat sertifikat. But wait, bukan itu yang mau aku bahas. Jadi, di cerita itu aku menceritakan bagaimana perjalanan hidupku dari yang bukan apa-apa hingga menjadi seorang penulis puisi dan influencer di twitter. I'm not kidding, that's true. Aku juga punya buku tentang tulisanku sendiri.

Dan rasanya sakit sekali saat tahu itu semua direnggut. Semua kenanganku menghilang, cukup kurasakan pahitnya dua tahun tanpa twitter karena di suspend, dan sekarang setelah balik menjadi akun besar lalu berubah menjadi akun kecil. Dan aku memang selama ini salah, karena terlalu mengumbar privasi, dari mulai banyaknya mutual yang selalu memberikan aku dukungan, maupun material. Ada juga endorse yang berdatangan yang tak pernah kudapatkan di sosial media mana pun.

Lalu semuanya punah, sirna, aku merelakan semua hal itu. Mutual bukan berarti tidak apa-apa bagiku, tapi mereka masih senantiasa follow aku dan peduli. Aku terharu, aku selalu berucap pada diriku bahwa, okey, aku memang kehilangan akunku, tapi aku tidak akan pernah kehilangan mereka. Thankyou guys. 

Selagi pun ini bukan pertama kalinya aku sial. Pernah juga asramaku kena banjir, hape vivo pemberian ayahku lenyap, laptop pemberian ayahku lenyap. Dan aku sangat sedih sekali, mengingat hal itu tak mungkin terulang karena ayahku juga sekarang udah sakit. Sudah sulit untuk bekerja, fisiknya tak seperti dulu lagi. Dulu yang kekar sekarang kurus tak berdaya. Aku tak sanggup menahan beban seberat itu lantaran aku anak pertama.

Sebisa mungkin mulai dari sekarang aku harus cari uang, tapi yang aku lakukan selama ini berleha-leha bersama twitter, padahal aku punya skill menulis yang harusnya bisa kukembangkan. Ayahku bahkan sering kali mengeluh karena aku hanya bisa terus meminta tanpa pernah memberi. Lagi pula ini memang kewajibanku kan sebagai anak. 

"Lama kali pulak kalian bekerja." Kata-kata itu terus terngiang di pikiranku. Apa yang kulakukan selama ini mungkin selalu kurang,selalu setengah-setengah, mendapatkan IPK yang bagus bukanlah hal yang mudah, dan banyak pengorbanan. Aku selalu mengingat kedua orang tuaku ketika harus bermalas-malasan. Tapi aku adalah orang yang hobi sekali jalan-jalan, dan aku lebih memilih hal itu daripada belajar. 

Bertubi-tubi cobaan datang padaku, kejadiaan banjir itu membuat ijazah ku hampir saja hangus, aku bahkan hampir tidak pernah bersekolah. Aku tidak bisa membayangkan hal semacam itu. Belum lagi di kamarku setelahnya yang penuh dengan kotoran, aku pernah membagikannya melalui twitter, dan lagi-lagi twitterku tidak ada dan tidak akan pernah ada sehingga kenangan itu hanya bisa aku simpan di memoriku.

Aku bukan seseorang yang terkenal, tapi pernah aku berpikir untuk menjadi terkenal. Tapi yang aku lakukan kadang-kadang hanya mempermalukanku, bahwasanya aku pernah diterpa kasus miring oleh teman-temanku, untungnya temanku yang lain mampu menyelesaikannya. Tapi tetap saja tidak bisa menjadikan alasan akun itu harus kubuang.

Terakhir kali aku tweet di twitter adalah, 
"People: I'm nothing without you
Me: "I'm nothing without Twitter"
And then, twitter take it from me.

Akun itu bukan akun baru, aku membuatnya sembilan tahun yang lalu, dari tahun 2011, dan aku yakin pasti kenangan aku dari SMP, dari jaman alaynya ada di situ. Ke mana lagi harus kucari kenangan itu? Tidak cukupkan laptopku yang direnggut dan hardisknya juga tidak kebaca, bahwa hardisk 500GB itu menyimpan kenangan yang nyata dan juga tidak bisa dipulihkan? Kenapa harus direnggut semuanya dariku? Kenapa?

Mungkin aku terngiang, "Apa yang menurutmu baik belum tentu benar-benar baik, dan yang buruk belum tentu benar-benar buruk. Mungkin saja hardisk itu menyimpan bencana, atau akun aku juga bakal menyimpan bencana sehingga dideact." 

"Harusnya aku mengganti kata sandinya kala itu."
"Harusnya aku tidak mengisinya."

Tapi seberapa sering aku mengenang-ngenang hal itu, dia tidak akan pernah kembali. Ia tidak akan pernah pulih, dan aku juga akan pusing sendiri. Jadi aku langsung membuat thread dan ternyata banyak yang relate sama kisah itu. Aku bersyukur mereka bisa terhindar, tapi tetap saja, aku masih merindukan akun itu. Aku minta maaf gaes kalo aku ada salah, aku tidak pernah berniat untuk menyakiti siapa pun, segala yang kulakukan saat aku bercanda dan hatimu sakit, aku minta maaf. Karena aku akan lebih tahu mana yang paling membuatku merasa bersalah saat aku serius tapi lupa saat aku bercanda.

Aku sepenuh hati tidak pernah menginginkan pertengkaran, hanya saja, kuakui memang egoku susah dikuasai, sehingga kadang terkesan marah sendiri. Tapi percayalah, di awal tahun 2019, aku membuat akun itu menjadi sesuatu yang berarti, membuatnya menjadi sebuah diary, tapi aku lupa bahwa itulah hal terakhir kali yang kuingat terjadi. Bahwa sekarang, akun itu tidak akan pernah bisa aku pegang lagi.

Aku memutuskan untuk membuat akun baru, tapi seperti biasa, memulai memang sangat sulit. Apalagi aku tidak ada basic untuk membuat konten-konten seru sehingga twitku masuk ke ig. Lalu banyak orang langsung memfollowku, sepertinya bukan seperti itu cara mainnya. Butuh satu tahun untuk membesarkan akun itu lagi, dan aku mungkin tidak akan fokus pada itu, bukan itu tujuan utamaku. Tapi aku akan fokus pada tulisanku dulu, aku ingin menjadi seorang penulis dari dulu, dan selalu menyimpan naskahnya di komputerku, sayangnya, jaman dulu masih sulit untuk mengirim ke penerbit, dan jaman sekarang udah canggih tapi aku masih sangat bodoh untuk tidak memulainya.

Thankyou for who read this, aku membuat ini agar aku sedikit lega. Begitu pun saat tahun 2015, ketika aku sakit, aku selalu menuliskan semuanya di laptop layaknya buku harian. Sayang, semua dokumen itu ada di hardisk, dan tak mungkin terselamatkan sejak hampir setahun. Dan juga, laptop aku dulu udah jadi bangkai. Laptop aku sekarang adalah pinjeman dari temen online aku, emang manusia itu ga semuanya jahat, ada juga yang baik. Buat kamu temen online, maaf ya laptopnya aku pake lama, nanti kalo aku udah siap makenya, pasti aku balikin, aku janji. 

For you all, kemungkinan besar yang baca ini pasti tahu blog aku dan tahu siapa aku, dan makasih udah support aku, makasih udah bantu nyenengin aku di saat bingung ngerjain laporan waktu itu. Makasih juga buat selebtwit yang udah mau follback aku dulu dan sekarang hehe, aku sumpah gayakin kalo kalian bisa kenal samaku :(. Makasih buat mutual yang udah jbjb hehehe, aku bukan siapa-siapa kok hehe. 

Dan aku juga ingin kalian mendoakan Wina Mardianti, temen online aku juga yang sudah meninggal tahun kemarin karena ada orang keji yang sekarang udah bunuh diri juga. Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya. Amin. :')  
Continue reading →
Saturday, 23 November 2019

CERITA MALAM

0 comments
Aku pernah berada di titik terendah dalam setiap denyut nadi.

Menjelma seolah hal itu adalah yang paling utama dari setiap peristiwa.

Berdalih bahwa apa yang kulakukan adalah benar padahal nyatanya banyak yang berantakan.

Aku perlu beberapa titik di mana keindahan itu tak lagi nampak, bukan karna aku benci, tapi karna aku sadar aku tak bisa dikhianati lagi.

Begini, aku ingin bercerita perihal patah hati terburuk yang pernah aku temui. Laptop aku terendam banjir, ijazah aku juga begitu. Dan masih banyak hak lain yang membuat aku pusing karna semuanya nampak tidak baik-baik saja. 

Lalu aku mengalami suatu penipuan, di mana uang ku 300ribu lenyap akibat ditipu gara-gara tergiur dengan pembelian diamond mobile legend. Belum lagi dengan penipuan akhir-akhir ini, yakni rekeningku dibobol dengan total uang hilang 999ribu menyisakan 100 ribu di rekeningku.

Aku langsung memblokir nomor kartu di atm dan menggantinya. Guess what? Ternyata banyak bangettt orang baik. Tepat malam aku curhat akan kesedihanku, dan salah satu temanku bilang, dia ingin membantuku.

Teman yang kukenal dari twitter dan membantuku dengan cuma-cuma mengganti uang itu senilai 1 juga. Aku tertegun, rasanya haru. Bahkan aku sempat meminta uang pada adikku untuk aku makan. Tak lupa, aku juga punya utang pada orang lain.

Dan aku tidak tahu apa inti dari tulisan ini, aku hanya berbagi akan kesedihanku. Di malam yang dingin, di Sibolangit, aku mengingat kenangan bagaimana aku diperlakukan semena-mena. Dibentak, dimarahi, dipermalukan. Tapi itu 2 tahun yang lalu, untungnya sekarang sudah jadi senior dan giliran kami yang begitu ke mereka. Tapi tetap saja, aku tidak tega.

Dan, ini berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Semoga kami pulang dengan selamat:)
Continue reading →
Saturday, 2 November 2019

Dear Raka

3 comments


Hari ini hujan turun sangat deras, sampai aku dan teman-temanku terus diusik petir dan akhirnya mati lampu. Aku tidak bisa menutup rasa sesalku kala aku tidak bisa pergi kemana-mana padahal ini malam minggu. 

Belum lagi rasa kangenku yang teramat sangat pada sang pujaan hati yang sedang "bekerja", anggap saja begitu. Setidaknya aku mengenalnya, dan aku kerap mengobrol dengannya via chat. 

Dia mengucap kangen berulang kali seolah sudah lama tidak berjumpa. Oh iya, aku melupakan fakta bahwa besok masih hari Minggu dan ada waktu untuk mengerjakan laporanku. 

Aku dirundung laporan beberapa hari ini, dasar teoriku belum kukerjakan, dan tulisan tangan itu belum kusentuh. Ah, aku sangat membenci praktikum. Membenci segala hal tentang laboratorium yang memaksaku melakukan hal pembodohan. 

Di sini, aku bersama kedua temanku menatap gelapnya cahaya padahal masih di waktu sore. Inginku menghidupkan data dan mentionan dengan teman onlineku, atau setidaknya membalas pesan whatsapp orang lain, namun ketakutan akan petir yang menyambut handphoneku membuat aku mengundurkan diri. 

Mengundurkan diri untuk menghidupkan data maksudnya. Padahal siang itu aku sudah makan tapi rasanya masih ingin makan lagi, dan kami pun memutuskan untuk makan bolu yanh kemarin dibeli temanku, Aliza. 

Sementara aku selesai memotong pepaya, petir itu terus menerus berdatangan, membuatku tak nyaman. Ingin tidur, tapi kasurnya terlalu sempit untuk ukuranku. Alhasil aku hanya menyender di kulkas sembari mengaku bahwa aku sangat benci hujan akhir-akhir ini. 

Hujan memang rezeki, banya kota yang belum mendapatkan hujan apalagi sederas ini, tapi di sini terlalu sering dan membuatku jenuh. Apalagi jika hujannya disertai petir dan angin kencang, jalan setapak akan banjir dan jemuran pun akan berhamburan. 

Sebuah pesan membuatku kembali terpaku. Maklum, sebagai orang yang dirundung cinta padahal bukan siapa-siapa. Bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa aku di hidupnya. 

"Di sini tidak hujan," ucapnya.

Aku kembali mengetik dan mengatakan tunggu saja bahwa hujan itu akan mengarah ke sana. Lagi-lagi ia menepis. 

"Aku bisa saja berkendara sekarang dan membuktikan bahwa hari ini tidak hujan." Ia tertawa terpingkal-pingkal. Aku tetap menyuruhnya untuk melakukan pekerjaannya. 

"Nanti temanmu marah karena terlalu sering membuka hp," balasku.

"Mereka senang ada yang jadi bucin." Lagi-lagi ia membuatku menahan tawa. Bucin adalah budak cinta, sebutan bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta dan mau menyenangkan orang yang disukainya. Belum tentu pacaran loh ya, contohnya kami ini. 

"Aku ke sana yah," ucapnya mengakhiri obrolan itu. Aku tidak menjawab, setidaknya aku tahu dia tidak pernah mengingkari janji. Aku juga melanjutkan aktivitasku bersama temanku yang lain, masih diselimuti gelapnya senja. 

Tapi tak sedetik pun ada kabarnya, aku lelah menunggu. Entah aku tahu dia benar-benar datang atau semuanya hanya khayalan. Atau dia tidak sedang baik-baik saja. 

Hingga dering telfon itu berbunyi, persis menggetarkan hatiku dan jantungku berdegup kencang. Aku mendengar bahwa dia menghilang, hanya motornya yang ditemukan berasap layaknya disambar petir atau kecelakaan. 

Tidak ada kabar darinya, tidak ada kekuatan yang membuatku paham tentang semuanya. Apakah dia memang masih baik-baik saja atau sudah menghilang dan tak pernah kembali. Handphonenya, bajunya, tidak ditemukan satu pun di malam itu. 

Sampai satu pesan mengakhiri pengharapanku di malam yang kelabu. Satu pesan yang membuat isak tangisku menggebu-gebu. Bahwa ia tak akan pernah kembali. 

Hari ini dia sudah ditemukan, sebentar lagi disholatkan dan dimakamkan. Kami mengharapkanmu datang. 

Satu kali aku mengecewakan diriku sendiri, lebih berat dari kecewanya aku mengetahui bahwa ia sudah tiada. Aku tidak tahu ingin menyalahkan siapa, karena kemauan dirinya sendiri yang ke sini. Apa aku harus menyalahkan Tuhan?

Seolah hari ini kami masih bertemu, berkeluh kesah, dia selalu mengantarku ke mana pun sebisanya. Lalu aku patahkan pengharapannya sebab aku selalu membencinya. Dan di malam ini aku menyadari, betapa aku merindukannya. Betapa aku mencintainya dengan jiwa ragaku. Seorang sahabat yang selalu ada suka dan duka.

Bahkan keluarganya juga sangat menyayangiku. Aku tidak tahu apakah ini nyata atau tidak, tapi hujan itu semakin deras, diselingin dengan isak tangisku yang akhirnya disadari oleh temanku. Mereka bertanya perihal apa, tapi kujawab dengan tangisanku. Hingga mereka menenangkanku. 

Aku benci hujan, sangat membencinya. Dia merenggut Raka Aditya dari genggamanku. Setidaknya aku belum pernah menjawab pertanyaannya atau pengakuan balik bahwa aku mencintainya. 


Continue reading →
Saturday, 24 August 2019

My Rose

0 comments

"Ketika kau merasa dikhianati tanpa tahu penyebab penyakit hati yang kian membekas hingga melumpuhkan kesadaran dan berakhir penyesalan" (My Rose)





“Aku juga mencintaimu.” Suaranya membuyarkan lamunanku.

Kala itu, aku menatap bintang-bintang di malam hari, yang bersinar terang seperti dirinya. Aku terhanyut dan terbawa arus pada hal terindah saat dia senyum menatapku.

Kala itu, aku sangat gembira hingga ingin kubawa bulan itu dari atas sana. Karena saat itu, ia menerima cintaku dan mengungkapkan perasaannya.

Tapi sejak seminggu yang lalu, dia yang kerap dipanggil Delsa memalingkan wajahnya. Menatap bengis wajahku setiap kami bertemu.

Dua minggu hingga sebulan lamanya, dia menghindar dariku. Seperti ketakutan akan kehilangannya, hatiku tiba-tiba bergejolak, ingin bertanya sebab kenapa Delsa yang ceria menjauh dariku.

“Delsa,” panggilku keras sembari berlari mengejar dirinya.

“Jangan mengejar, tolong berbaliklah, aku tidak benar-benar mencintaimu.” Delsa berlari, dia hanya meninggalkan ucapan yang membuatku tertohok.

Delsa benar-benar pergi, dan aku benar-benar membencinya. Mawar merah yang dulu kuberikan padanya ingin kugoreskan di tangannya.

Tapi kenangan itu membuat mataku berair. Kakiku jatuh lunglai ke tanah, mawar hitam itu ingin kulukis berwarna merah seolah ingin Delsa kembali.

Aku tak pernah membayangkan Delsa menyayat nadinya. Perjalanannya masih panjang, tapi karena tekanan keluarganya, dia harus pergi selamanya.

Mawar hitam itu menjadi saksi tragis pupusnya cintaku, hilangnya harapanku, dan kesalahanku yang telah membencinya. Sejujurnya, aku menangis, ingin berteriak agar dia kembali.

Continue reading →
Monday, 19 August 2019

MOTIVASI : Lika Liku Sebelum Kuliah

0 comments


Hello. Sebagai pengingat agar tak lupa hari, cuma mau mengingatkan kalau sekarang hari Senin. Dan sebagai topik malam ini, aku ingin bercerita tentang lika-liku sebelum kuliah.


Jadi, sebagai pembukaan, aku lahir pada Desember 1999, dan menjadikanku sangat tua di antara keluargaku. Ya, aku anak sulung dari empat bersaudara. Ibuku tidak bekerja, dan ayahku hanya wiraswasta biasa. Aku punya adik perempuan yang dua tahun tepat di bawahku dan selebihnya laki-laki. Ada bagian penting yang akan kuceritakan mengenai ini, tapi kita beralih ke kehidupanku dulu.

Aku memulai sekolah di TK Asyiah dan SD 081232. Pada saat itu, sekitar tahun 2005, SD 081232 menjadi SD favorit di Sibolga. Dan terlebih lagi, aku masuk di kelas B yang pada saat itu merupakan kelas dengan murid favorit pula (menurutku). Walaupun banyak juga SD yang favorit seperti SD Kota Baringin, SD 5, tapi yah menurutku yang paling dekat dengan rumahku ya di SD itu. Mungkin tidak sampai sepuluh menit jika menggunakan sepeda motor.

Aku merupakan salah satu murid favorit di kelas. Selain memiliki paras yang cantik (walaupun aku tidak pernah menyetujuinya), aku juga merupakan tiga teratas di kelas. Dari kelas 1 - 2 SD aku berada di peringkat tiga, dan dari kelas tiga sejak aku menjadi sekretaris tetap di kelas, aku bergeser ke peringkat dua. Dan hingga tamat, aku tidak pernah bisa menyaingin Rahmi, sang juara satu di kelas. Tapi aku selalu mengakui kepintarannya, terlebih lagi karena dia juga sangat baik padaku.

Oke, mungkin jika kuceritakan peliknya masa SDku takkan ada habisnya, apalagi pada saat insiden aku diejek karena ayahku preman. Padahal kan ayahku orang baik.

Beralih ke cerita berikutnya, aku mendapat nilai bagus pada saat UN dan saat itu ibuku ingin sekali aku masuk unggulan pemko, di SMP Negeri 2 Sibolga. Agar biaya sekolah dan baju juga ditanggung pemerintah. Sayangnya, aku tidak lulus. Padahal pada saat ujian aku berusaha sungguh-sungguh, aku tidak tahu salahku di psikotes, atau kesemaptaan, padahal nilai ujianku bagus. Dan pada saat pengumuman, aku berada di Warnet dalam keadaan hujan dan sedang main Point Blank.

Oke jadi biar aku ceritakan bagian ini, dulu ibuku mempunyai pekerjaan. Ibuku seorang juragan minyak dan aku selalu membantu ibuku, penghasilannya juga lumayan, bahkan warnet di samping kedai minyak itu selalu kukunjungi. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba perusahaan minyak tidak dipakai lagi, orang-orang sudah menggunakan kompor gas, dan akhirnya kedai kami tutup. Aku benar-benar sedih karena aku juga tidak bisa mendapat jajan seperti sebanyak sebelumnya.

Jadi, sejak ke warnet aku kenal banyak sekali teman, terutama laki-laki. Mereka mengajari dan mendaftarkan akun point blankku. Aku benar-benar cepat belajar, dan pada saat itu juga musim WWE, dan aku benar-benar suka Smackdown. Aku dan adikku sama-sama memiliki jagoan, yaitu Micki James. Ya sudah lupakan itu, kembali ke masa SMP.

Setelah ibuku tahu aku tidak lulus, kami langsung mendaftar ke SMP Negeri 3 Sibolga. Beruntungnya, unggulan sekolah masih terbuka. Namanya International Class. Setelah melalui beberapa tahap yang sama, dari ujian hingga kesemaptaan, aku berhasil lulus. Alhamdulillah. Aku bersyukur akan itu. Di kelasku, orang-orangnya sangat pintar, dan sebagian anak orang kaya. Di jaman aku dulu, pembayaran uang sekolah berdasarkan penghasilan orang tua atau seikhlasnya, jadi yang tergolong menengah ke atas membayar sekolah seratus ribu ke atas.

Karena terpengaruh lingkungan, aku harus menghadapi kelas tujuhku yang buruk. Aku mendadak sangat bodoh, dan nakal. Tak jarang aku masuk BP karena mengganggu temanku dan berkelahi apalagi melawan guru. Benar-benar ‘tomboy’kata mereka. Aku tidak menepis hal itu, karena aku memang jarang berteman dengan perempuan, dan terbiasa dengan permainan laki-laki, dulu aku tidak menggunakan hijab, jadi rambutku selalu kukuncir dan karena itu pula aku tidak pernah merasa sok cantik.


Sampai akhirnya di kelas dua SMP, aku menyukai seorang laki-laki di kelasku. Dia benar-benar tipe idaman, mungkin sampai sekarang pun dia tidak akan mengetahuinya apalagi mempercayainya. Karena bagaimana pun, teman-teman sekelasku menganggap bahwa aku tidak suka pria, padahal banyak di antara mereka yang bisa saja kusukai. Dan laki-laki itu adalah yang terpintar di kelas. Aku tidak berhenti berusaha untuk memberikan dia cerita lucu untuk dia baca, dan akhirnya tertawa. Tawanya yang khas dan menular.

Oleh karena itu, aku intropeksi diri dan mulai berlaku normal serta belajar dengan giat. Sampai akhirnya aku sadar yang menyukai dia tidak aku saja. Dan lagi pun aku mendengar isu dia menyukai perempuan lain. Aku benar-benar terpukul, di satu sisi aku menemukan ada orang lain yang menyukaiku. Dia selalu memberiku motivasi agar tetap menjadi diri sendiri. Banyak yang tidak tahu karena aku pun selalu menyembunyikannya.

Lambat laun, dia yang jadi motivasiku membuatku berubah. Nilaiku naik drastis, orang-orang semakin menyemangatiku dan kagum. Aku berhasil bertahan setelah sebelumnya teman-temanku banyak yang dipindahkan. Masa SMP adalah masa terindah dalam hidupku. Sampai saat perpisahan, di saat mereka berpelukan, aku hanya mengambil foto-foto mereka. Mereka enggan memelukku, apalagi aku memakai hijab disuruh ibuku.

Mereka sangat mengagumi tulisanku. Mereka selalu memintaku untuk menyelesaikan ceritaku tentang pasangan yang ada di kelas. Aku benar-benar menyayangi mereka. Seperti bakatku tidak pernah sia-sia di mata mereka.

Di saat itulah titik terendahku dimulai. Ibuku dan aku jauh-jauh ke Pandan untuk mendaftar SMA Matauli yang sangat terkenal. Biaya pendaftarannya saja 350 ribu rupiah. Ibuku bahkan terobsesi jika aku bisa masuk kelas A padahal itu sangat mustahil. Sejak ujian, aku diberikan beribu dukungan. Apalagi setelah aku lulus ujian dan tinggal mengikuti tes kesehatan, psikotes, dan kesemaptaan.

Namun lagi dan lagi, aku gagal. Entah kenapa ketika aku sudah mempertaruhkan jiwa raga hanya untuk itu, aku malah gagal. Dulu aku punya teman spesial yang kukenal sewaktu les, dan dia sangat kecewa saat tahu aku tidak masuk Matauli. Dan kami hilang kontak.

Tapi aku tidak putus asa, aku dengan lapang dada menenangkan orang tuaku dan mendaftar ke SMA Negeri 1 Sibolga. Salah satu SMA favorit di SIbolga yang aku juga sangat menginginkan kelas unggulannya. Aku bersama teman sebangkuku sejak SMP, Nur, yang selalu bisa memotivasiku untuk menjadi lebih baik. Dan dengan kemampuanku dalam bahasa Inggris, aku dikenal guru tanpa harus ikut ujian. X MIA 3 merupakan momen terbaik dalam hidupku. Selain teman-teman yang asik, aku menjadi salah satu yang paling terlihat di antara sekelas.

Dan hasilnya benar-benar memuaskan, aku akhirnya bisa mendapat juara 2 dan Rizki juara 1 setelah sebelumnya Nur sudah pindah ke unggulan Pemko. Namun aku terpukul karena aku malah tersingkir ke IPA 4. Dalam hidup, aku tidak henti-hentinya bersyukur apalagi semenjak tahu ada pergantian orang menuju kelas unggulan. Unggulan yang kuidamkan, dengan baju yang berbeda dengan kelas reguler, adanya les tiap jam makan siang hingga sore, dan semuanya gratis.

Aku berhak mendapatkan kesempatan itu dan melalui ujian tulis. Aku dan beberapa temanku yang lain, akhirnya lulus setelah dua minggu aku berada di IPA 4. Allah benar-benar sudah merancang semuanya untukku. Tidak lulus di Matauli tapi akhirnya lulus di unggulan Pemko dengan cara yang lain.

Lalu aku melewati masa-masa sulit di kelasku yang baru. Ada beberapa hal yang tidak bisa kuceritakan karena aku dibully karena kesalahanku sendiri walaupun niatku hanya bercanda. Aku menyesal telah membuat sahabatku sendiri menangis karena ulahku. Aku benar-benar menyesal. Maaf yang tidak pernah aku sampaikan pada mereka. Apalagi pada saat itu, aku sempat menyukai orang yang membenciku. Ingin kubuang wajahku sejauh-jauhnya. Apalagi pada saat itu, orang yang kusuka dulu waktu SMP ada di kelas sebelah.

Dua tahun aku menjalani masa SMA yang sangat sulit. Aku kehilangan orang yang kusayang, kehilangan kepercayaan mereka, sampai aku mencari kehidupan baru dengan dua versi. Aku di organisasi yang disegani dan disukai, dan aku yang dibenci dan dibully di sekolah. Mereka tidak benar-benar paham siapa aku sebenarnya.

Walaupun dulu ada beberapa yang tetap bersamaku, dan selalu meminta film dariku, tapi tetap aku merasa aku ini dibenci oleh mereka semua. Masa SMA yang harusnya penuh bunga malah dihujami dengan petir. Benar-benar kelam. Aku ingin secepatnya tamat dari sekolah itu.

Di organisasi, aku dikagumi, banyak sekali yang menyatakan perasaannya padaku, yang selalu kujawab dengan ulasan bahwa aku tidak mau pacaran. Biarlah aku merasa dicintai hanya di organisasi saja. Ibuku tidak pernah tahu apa yang terjadi padaku di sekolah, baginya aku selalu baik-baik saja.

Hingga semuanya akhirnya berakhir. Aku terbebas dari kelas itu. Aku melupakan semua kenangan yang ada di dalamnya, aku bahkan tidak lagi merasa aku mencintai rivalku itu. Bagiku, sekarang mereka hanya kenangan. Dan sejak libur, aku banyak belajar. Aku bahkan termotivasi untuk masuk STAN. Pertama kali try out STAN, aku berada di peringkat 3 padahal aku sama sekali tidak ikut les.

Semenjak saat itu, aku lebih giat lagi belajar. Aku bahkan ikut les Adzkia yang saat itu bahkan dilarang ayahku. Aku tidak pernah ikut bimbel sejak SMP. Jadi aku berontak agar diberi izin. Dan akhirnya aku diberi izin hingga sampai les ke Medan. Banyak sekali tentor dan kenalan yang mendukungku. Mereka selalu yakin aku pasti bisa.

Dan sampai di titik aku akhirnya sujud syukur karena ternyata aku lulus ujian dari seratus ribu peserta. Padahal teman-temanku banyak yang tidak lulus, bahkan teman sekamarku juga. Tapi dia tidak marah, dia justru menyemangatiku hingga tes yang kedua. Tes kesehatan yang saat itu aku baru bangun tidur langsung dikirim screenshot kalau aku lulus. Aku sangat senang dan lagi-lagi bersyukur. Saat itu aku memang mengatur pola hidup sehat, selalu olahraga dan membersihkan karang gigi.

Hingga tes tahap terakhir, TKD. Semuanya serasa sudah aku kerjakan sungguh-sungguh, namun apa daya yang aku hapal tidak ada yang keluar satu pun. Otakku buntu, analytical reasoning membuat otakku tidak bisa berpikir. Begitu banyak soal panjang yang menghabiskan waktuku. Tidak seperti soal teman-temanku yang lain yang hanya sekedar hitungan. Aku benar-benar ingin menangis. Sedih sekali rasanya saat skorku hanya mampu mencapai 343 walaupun hitungan lulus.

Tepat setelah aku tahu aku tidak mungkin lulus, teman-temanku mendatangiku. Mereka bercerita bahwa skorku hanya kurang 1. Batas yang diterima adalah 344. Aku mendadak tidak nafsu makan mendengar pengumuman itu apalagi saat bulan puasa. Sebelumnya aku sudah mengikuti SBMPTN yang padahal belajar saja tidak, hanya berpangku pada pengetahuan tentang STANku. Namun aku lulus, di teknik elektro USU. Aku juga diterima di Pendidikan Bahasa Inggris UIN Medan. Tapi apa yang kucita-citakan lagi-lagi tidak terkabul sedari awal.

Mimpiku punah, setelah aku tahu aku juga gagal di tahun kedua. Setelah tragedi berdarah-darah yang aku lewati hingga mengorbankan mata kuliahku, aku memutuskan untuk mulai menjalani kuliahku. Ya, aku memutuskan untuk mengambil elektro USU apalagi sejak tahu kalau aku dapat beasiswa sampai S2. Selain bebas uang kuliah, aku juga diberi uang saku. Sedangkan orang yang kusuka dulu, di tahun kedua mendapat STIS dan aku sangat bangga padanya.

Namun aku tidak berhenti untuk berjuang, bahkan sekarang aku punya mimpi lebih tinggi setelah tamat dari jurusanku. Mungkin terdengar mustahil awalnya, sama seperti apa yang kualami dulu sewaktu sekolah. Bahwa dalam menggapai hal yang kita inginkan, tidak selalu dengan jalan lurus, mungkin ada jalan lain yang membawa kita untuk menggapainya. Lalu masih pantaskah kita bersedih? Sudahkah hari ini kita bersyukur?

Hal yang paling membuatku intropeksi diri adalah ketika aku melihat teman-temanku tidak kuliah, ada yang kuliah tapi tidak beasiswa, ada yang beasiswa tapi memutuskan untuk berhenti. Lantas, pantaskah kita berlarut dalam kesedihan? Ada juga yang menganggap semuanya baik-baik saja lantas mengorbankan IP dan mata kuliah? Aku punya banyak sekali suka duka semenjak kuliah. Aku menemukan jati diriku, dan teman-teman yang menerimaku apa adanya. Mereka yang selalu membantu dalam keadaan apa pun. Bahwa yang dikatakan orang-orang benar, proses kita gagal dalam pendidikan memang sakit, tapi proses setelah kita mendapatkan pendidikan itu lebih sakit. Dan membandingkan apa yang kita punya dengan orang lain hanya akan semakin membuat kita terpukul.

Mulailah dari diri sendiri, “bahwa hidup adalah pilihan, dan jangan biarkan orang lain mencemoohmu.” 


Quotes ini akan aku jabarkan di blog selanjutnya juga dengan suka duka teknik sebagai bahan pembelajaran. Aku menulis dari hati, dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan jika kalian tidak menyukainya, aku minta maaf karena aku juga manusia, tapi jika kalian menghargai dan meluangkan waktu membaca sampai habis, aku sangat menghargai kalian juga, semoga esok, lusa dan setelahnya, usaha kalian dilancarkan dan dapat menerima apa yang dicita-citakan. Amin

Ttd.
SRH 
Continue reading →
Thursday, 20 June 2019

Mampukah Aku Bertahan?

0 comments
Medan, 19 Juni 2019

 

Dalam setiap keluh kesah tentang beribu rasa, aku mengetahui ada hal yang tak biasa. Dalam dekapan hatiku, aku merindukan sosoknya. Bukan tentang aku yang kerap menghiraukannya, tapi tentang aku yang berusaha tenang di depannya padahal aku sangat bahagia.


Bagaimana mungkin? Sesosok hati yang dulunya kubenci lantas memberikanku kebahagiaan yang berarti. Dia, yang selalu berusaha membuatku tersenyum. Dia, yang jika aku marah berusaha untuk tetap berbicara padaku. Dia, yang jika aku bosan selalu membantuku menghilangkan jenuh.


Hanya saja setelah tak berapa kali bertemu, rasa itu hilang sudah. Tiada lagi degupan jantung yang dulu kerap menyiksaku. Tiada lagi senyum sumringah saat bertemu dengannya. Bahagiaku seakan lenyap begitu saja. Mungkin beberapa orang mengerti, tapi beberapa lainnya hanya bisa menyaksikan. Betapa aku bukan diriku yang dulu.


Perasaan mencintaiku hilang sudah, aku tidak mencintai seorang pun, di luar dari keluargaku. Rasanya sudah mati, entah termakan api. Aku benar-benar linglung akan kiasan balik yang terjadi. Apalagi sejak laptopku rusak karena banjir, hidupku terasa hampa. Tiada lagi tulisan-tulisan yang kerap kupertahankan agar kubaca setiap hari, tiada lagi foto-foto lamaku yang selalu kusembunyikan. Semuanya hilang sudah.


Kalau bukan karena orang tua yang selalu menjadi motivasiku untuk tetap berjuang, takkan mungkin aku memilih untuk berada di dunia yang berdarah-darah ini. Berat rasanya, kebahagiaanku seakan hilang ditelan peristiwa itu, Aku ingin merasakan senyum bahagia, tanpa fake smile yang membuatku sadar, aku butuh waktu luang.


Aku ingin kembali mencintai, tapi seperti aku lupa bagaimana caranya, hatiku sudah mati rasa. Banyaknya tekanan dalam hidup membuatku menjadi orang yang keras dan tidak tahu lemah lembut. Berulang kali aku menyadarkan diri harus bersikap rendah hati, namun nyatanya egoku tak terkendali. Aku merasa teman-temanku mulai menjauh, kesehatanku semakin berkurang, dan senyumku seakan tak berbekas.


Mampukah aku bertahan?

Setelah sekian raga kupertaruhkan, waktu yang kubuang, dan peluh yang tak terkira?

Nyatanya aku tak sudi untuk berbalik.

Tak sudi untuk tetap mengeluh dan putus asa.
Walaupun aku tahu ujungnya seperti apa.

Terima kasih untuk tetap mendukungku sejauh ini.

Terima kasih untuk tetap memberikanku apa yang kubutuhkan.
Terima kasih untuk yang bersedia meluangkan waktu bersamaku dan menghiburku.
Semoga tulisan ini mampu menyiratkan betapa pedihnya hati yang telah mati, yang dulu pernah berusaha sekuat tenaga bangkit namun nyatanya harus diterkam kenyataan pahit.
Keinginanku besar untuk mengubah segalanya.
Tapi seakan tidak mungkin, segalanya hanya bisa kupasrahkan pada Yang Maha Kuasa.

 Ttd.

SRH
Continue reading →
Sunday, 21 April 2019

HAVE U EVER FAILED?

0 comments
Jangan tanyakan padaku seberapa sering aku mengalami kegagalan. Tidak hanya di dalam pendidikan, kadang, di dunia maya juga sering ditolak. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi patokan setiap orang. Bahkan yang merasa sering menggunakan suatu hal atau aplikasi, belum tentu ia benar-benar mengetahui apa yang dikerjakannya.

Tanpa berlama-lama, jadi ini adalah email dari pihak MGL lantaran tiga review yang kubuat belum lolos di bulan ini. But it's okay, justru hal ini yang membuat kita sadar bahwa, tidak selamanya saat kita memainkan game itu, kita paham betul apa yang ada di dalamnya.

Saya sudah bermain Mobile Legend sejak season 7, kira-kira semester 2 kuliah, aktif bahkan maniac dalam memainkannya, tapi tentu saja tidak mempengaruhi bahwa kita akan lolos dalam suatu karya, bukan? 

Ada 3 karya yang saya kirim, akan tetapi biarlah ini menjadi contoh awal : 

REVIEW MOBILE LEGEND





            Mobile Legend adalah suatu permainan online yang cara bermainnya berbasis war (perang), yang selalu terdiri dari dua tim yang akan bertanding, di mana dalam satu tim terdapat masing-masing lima anggota. Game ini memiliki tempat bertarung yang dinamakan Land of Dawn, serta di dalamnya terdapat tiga lane, yakni, top, bottom, dan middle. Namun, kunci utama dalam memenangkan pertandingan, adalah dengan menghancurkan turret.      
            Banyak Youtuber yang terkenal melalui game ini, yakni Jess No Limit, Oura Gaming, dan beberapa youtuber gaming lainnya. Game ini sangat terkenal hingga didownload seratus juta kali dengan 11.451.368 akun yang tercatat di Playstore.
            Mobile Legend dikembangkan dan diterbitkan oleh Moonton dan dirilis pada 11 Juli 2016. Dan di tahun 2017, game ini sangat booming bahkan anak-anak bisa memainkannya, melalu android maupun PC.         
            Game ini sangat melatih kecerdasan dalam menyusun stategi dan kekompakan tim, layaknya bermain di lapangan. Cara bermainnya pun sangat mudah, dan selalu diberikan tutorial bagi yang baru mendaftar akun, bahkan sekarang bahasanya sudah diperbaharui sebagian ke bahasa Indonesia.         
            Selain mudah dimainkan, game ini juga merupakan salah satu game War yang ukuran aplikasinya kecil, bahkan handphone yang memiliki sedikit RAM dapat mendownloadnya. Sangat cocok dimainkan dalam keadaan suntuk, atau bahkan stuck dalam berpikir, jika tidak ingin bermain untuk mengorbankan bintang, maka ada permainan Classic dan juga Brawl, serta dapat pula berlatih melalu V.S AI.
            Namun, karena semua akun dapat mendownload game ini, banyak anak-anak yang tidak tahu cara memainkannya, bisa keluar sesuka hati, bermain sesuka hati, tanpa melihat kondisi cara bermain tim atau biasa disebut AFK. Hal inilah yang sangat mengganggu performa MLBB (Mobile Legend Bang-bang).      
            Tapi, dalam setiap permainan, selalu ada tombol report untuk pemain yang sering AFK, dan Moonton memberlakukan hukuman yang pantas. Oleh karena itu, game ini sangat direkomendasikan bagi para gaming maupun masyarakat yang ingin mencoba tanpa harus mempelajari dengan sangat susah. Karena selain ukurannya sedikit, permainan ini juga mudah dipelajari, bahkan sesama teman dapat bermain bersama atau biasa disebut, Mabar.        
            Dengan begitu, kemungkinan kenaikan bintang dan menjadi Pro Player serta Youtuber akan sangat besar. Game adalah bagian dari hobi, dan hobi yang bisa menghasilkan adsense adalah salah satu pekerjaan.
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)