ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Review Film. Show all posts
Showing posts with label Review Film. Show all posts
Thursday, 16 April 2020

REVIEW FILM "KILL GAME" : SEBURUK ITUKAH?

0 comments
Halo. Selamat Malam. As usual, mungkin aku lebih sering ngereview film-film yang aku tonton tapi dengan versi aku sendiri. Sebenernya ini ga resmi sih, bukan untuk dijadiin bahan review mata pelajaran Bahasa Indonesia yah. Kali ini kita akan ngebahas film "Kill Game". Daripada berlama-lama, langsung aja, let's talk about the synopsis. 



But wait, sebelum kita membahas sinopsisnya, aku mau membahas sedikit kejanggalan pada film ini. For the rest of my life, aku baru menemukan satu film yang tidak ada di penjelasan wikipedia. Jadi selama ini kalo kita nonton film ya pasti searching filmnya kan di google, dan yang pasti google bakal nunjukin hasil teratas dalam wikipedia. Anehnya, yang muncul malah "A View To Kill (Video Game)."

Tapi tenang, aku akhirnya mendapatkan sinopsis dari website Amazon.com berikut ini:
"KILL GAME adalah kisah sekelompok anak-anak sekolah menengah yang menghibur diri mereka sendiri dengan mengolok-olok siswa dan guru yang tidak bersalah."




Penampakan cover Kill Game



Sekilas, jika dilihat dari judulnya film ini sangatlah mudah ditebak alurnya. "KILL GAME" yakni 
"Permainan pembunuhan." Dan mungkin bagi sebagian orang film ini tidak layak ditonton di bioskop karena judulnya juga tidak menarik. Mungkin kalian juga bertanya-tanya, kalau bahkan film ini tidak pernah aku tonton di bioskop, dari mana aku mendapatkan rekomendasi filmnya? 


Well, aku tidak dapat rekomendasi dari siapapun. Sebenarnya aku hanya iseng membuka channel TV dan menemukan film ini. Konfliknya bagus, dan menyimpan banyak misteri. Walaupun film ini mendapat penilaian buruk dari IMDB yang hanya 3.9/10 dan bahkan Rotten Tomatoes tidak memberi rating. 

Saking penasarannya, aku bahkan mencoba mencari tahu informasi tentang sutradara film tersebut, and here we go, Robert Mearns hanya memiliki satu film dan bahkan tidak ada informasi spesifik. Lucunya lagi, trailer film ini juga tidak ada di youtube tapi full filmnya ada. Full filmnya juga hanya ditonton 10 ribu kali serta 9 komentar dan rata-rata bahasa turki. 



Padahal aku yakin banget, film itu berbahasa Inggris dari awal sampai akhir. Horrornya dapat, hanya saja, CGInya terlalu kelihatan, tidak rapi, potongan-potongan kepalanya juga terlihat editan. Aku gabakal bilang film ini sampah kayak rating IMDB juga karena aku suka plot twistnya. Karena ternyata pembunuhnya adalah salah satu dari mereka berlima. Waw, can u imagine? 

Ending paling menyedihkan yang pernah aku lihat adalah, ketika Liam, kembaran si korban (Brandon) bullying itu tertembak oleh polisi saat menyelamatkan Beth, perempuan yang disukai Brandon. Pembunuh bertopeng itu adalah Ryan. Ryan bahkan tega membunuh pacarnya sendiri dan sahabat-sahabatnya yang lain. Actually, aku sempat kagum sih sama Ryan karena dia ganteng maksimal. Begitupun Liam dan Brandon. 


Michael Galante as Liam
Pierson Fode as Ryan
Funfact:
Ternyata Joe Adler yang berperan sebagai Nathan pernah main di film Prom dan The Maze Runner. 
Pierson Fode pernah berpacaran dengan Victoria Justice selama 2 tahun dan putus di tahun 2015.


Okay, balik lagi ke Kill Game, aku juga baru nyadar kalau pemeran Beth juga tidak banyak diketahui informasinya. Aku masih ga habis pikir sama film ini, kok bisa-bisanya pemerannya tidak ada umurnya, tidak ada asalnya, filmnya cuma dua. Dia ini tokoh utama loh, dan aku lumayan suka aktingnya apalagi pas Liam tertembak. Bahkan di scene ini aku ikutan nangis ngeliat dia teriak, "Not Him." :(


Sebenarnya, film ini banyak mengandung makna, untuk tidak sembarangan ngebully orang, atau melakukan suatu kejahatan karena kita gapernah tahu siapa yang benar-benar marah dan ingin balas dendam. Atau mungkin kita lupa kita pernah buat salah, tapi korban menyimpan trauma, dan suatu saat dia pasti menuntut maaf. Cuma lagi-lagi aku agak terganggu dengan scene potong tangan, kepala, dsb yang darahnya aja keliatan editan. Tapi sesuai dengan rating, bisa diterimalah. 

Jadi, keseluruhannya menurut aku film not bad, paling wasting time  di awal aja, dan beberapa dialog yang kurang mumpuni. Akting polisinya yang maksa banget dan sekaligus peran yang ga aku suka karena beraninya nembak Liam. Last but not least, aku baru aja nemu movie review yang bisa kamu jadikan bahan referensi, langsung klik aja di sini  atau klik website : https://crypticrock.com/kill-game-movie-review/ walaupun sebenernya tahunnya agak ambigu sih, di google katanya 2018, ada juga yang 2017 sedangkan di movie review tersebut malah tahun 2015. But it's your choice if you want to watch it or not. Don't forget to Stay At Home and keep your healthy. 😃😃


Continue reading →
Friday, 24 January 2020

Review Film "13 Going on 30"

2 comments
  • Judul :13 Going on 30 (2004)
  • Tanggal Rilis Perdana : 23 April 2004
  • Genre : Fantasi, Romance, Family
  • Sutradara : Gary Winick
  • Penulis : Josh Goldsmith, Cathy Yuspa
  • Produser : Susan Arnold, Donna Arkoff Roth, Gina Matthews, Todd Garner
  • Produksi : Columbia Pictures, Revolution Studios
  • Durasi : 97 Menit
  • Rating : Remaja (R)
  • Cast : Jennifer Garner, Mark Ruffalo, Judy Greer, Andy Serkis, Christa B. Allen, Sean Marquette, Lynn Collins, Ashley Benson, and Brie Larson.

"Aku merasa kita semua ingin merasakan sesuatu yang telah lama kita lupakan atau kita tinggalkan di belakang. Karena mungkin kita tidak sadar berapa banyak hal yang telah kita sia-siakan." -Jenna Rink

"Aku melanjutkan hidup. Kau juga melanjutkan hidup. Kita sudah saling berpisah jalan lama sekali. Kita sudah membuat pilihan." -Matty Flamhaff


Sebuah film Fantasy sekaligus menghadirkan sentuhan Romance yang luar biasa, yang berjudul "13 Going on 30 (2004)" ini, menceritakan seorang gadis berumur 13 tahun bernama Jenna Rink (Christa B. Allen) yang ingin sekali menjadi bagian Six Chick (geng para perempuan paling populer) di sekolahnya. Ia memiliki sahabat bernama Matty Flamhaff (Sean Marquette) yang tepat di hari ulang tahunnya mengundang semua anggota Six Chick dan juga sahabatnya. 

Di sinilah hal Fantasy itu terjadi, ketika Jenna menyadari bahwa dia tidak menginginkan untuk menjadi anak kecil yang hanya berumur 13 tahun, tapi ingin menjadi wanita dewasa yang cantik, kaya, dan punya segalanya, di umur 30 tahun. 

Matty yang sangat dekat dengannya memberikan hadiah ulang tahun berupa Rumah Impian yang berisikan poster dirinya, idolanya, dan Matty. Di sinilah semuanya dimulai, saat Matty ternyata memberikan serbuk ajaib yang dapat mengabulkan keinginan Jenna. Karena ketika Jenna sedang berada di dalam kamar dengan mata tertutup, dan menginginkan Chris Grandy yang mendatanginya, namun Mattylah yang membuka pintu.

Kemarahan Jenna membuat ia semakin yakin untuk ingin menjadi gadis berumur 30 tahun. Ia terus berdoa, dan tanpa sadar Rumah Impian itu tersenggol dan menumpahkan serbuk ajaib itu bersamaan dengan Jenna yang terbangun di apartemennya dengan menggunakan tubuh orang dewasa yang tak lain adalah dirinya sendiri. 

Acting Jennifer Garner sebagai Jenna dewasa sangat diacungi jempol. Dia bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi, dan masih sangat malu dengan laki-laki tanpa busana yang ada di ruangannya, persis seperti gadis berumur 13 tahun yang berada di tubuh orang dewasa. Ketika ia turun, ia mendapati Lucy Wyman (Judy Greer) yang dulunya ternyata Tom-tom sang ketua Six Chick. Ia menyadari bahwa, banyak hal yang berubah di masa dewasanya. 

Hanya satu orang yang mungkin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, yakni Matty Flamhaff yang diperankan oleh Mark Ruffalo. Acting Mark Ruffalo juga sangat patut diacungi jempol, senyumnya yang manis, tingkah lakunya yang persis seperti Matty dulu, dan chemistry di antara mereka yang membuat kita bisa senyum sendiri. Bahwa Matt yang dulu bukanlah ia yang sekarang. 

Alurnya memang terkesan klise, atau sering digunakan, tapi sebenarnya tidak bosan untuk ditonton, karena kenyataannya Matty dan Jenna tidak lagi bersahabat sejak berumur 13 tahun. Hal ini menjawab pertanyaan yang sedari dulu ingin Jenna tanyakan. Yang Matt tahu, Jenna adalah seorang gadis sukses yang bekerja di Majalah Poise bersama dengan Lucy Wyman yang dulu bagian anggota Six Chick, dan di malam saat Jenna ulang tahun, Rumah Impian yang Matt bangun dilemparkan begitu saja. Kejadian ini sangat plot twist sebenarnya, dan masih banyak hal lain yang bisa mengimpress kita untuk menjadi lebih baik. 

Kejadian lainnya yang membuat kita kesal adalah saat Jenna mendengar bahwa Lucy ingin menyingkirkan dirinya dari majalah Poise. Namun hal ini langsung ditepis Jenna dengan memberikan sesuatu yang baru pula terhadap Majalah Poise yakni menyewa Matt untuk menjadi fotografer baginya. Dan kedekatan Matty dan Jenna terutama saat mereka bermain ayunan membuat aku sangat menyukai Mark Ruffalo yang pernah berperan dalam serial Hulk. Mark Ruffalo sangat manis dan sifatnya persis seperti sahabat yang sangat baik. Namun seolah Jenna tidak tahu apa-apa, selama mereka sama-sama menghilang, rasa itu kemudian timbul. Ia mencintai Matt.

"Aku merasa kita semua ingin merasakan sesuatu yang telah lama kita lupakan atau kita tinggalkan di belakang. Karena mungkin kita tidak sadar berapa banyak hal yang telah kita sia-siakan." -Jenna Rink

Adalah ungkapan Jenna saat presentasi mengalahkan Rivalnya, Lucy. Presentasi dia bersama fotografer Matt patut diacungi jempol, dan mungkin bisa mengalahkan Sparkle, lawan berat Majalah Poise. Namun lagi-lagi hal yang tanpa diduganya terjadi, ternyata Lucy melihat surat dari Sparkle yang terletak di meja Jenna. Lagi-lagi bagian Plot Twist, karena ternyata Jenna bukanlah orang baik, selama ini Jenna selalu memberikan idenya untuk Sparkle, dan Lucy memanfaatkan siuasi tersebut sehingga walaupun ia keluar dari Poise, ia bisa bekerja di Sparkle. 

Banyak sekali kelebihan yang terdapat dalam cerita ini, apalagi khususnya remaja yang masih tidak bersyukur bisa melalui umur 13 tahun dan disayangi orang tua dengan sangat manja. Tidak seperti Jenna yang ternyata di umurnya 30 tahun, tidak pernah lagi merayakan Natal bersama orang tuanya. Hal ini membuatnya sangat rindu, dan kemudian minta maaf pada orang tuanya. 

Pesan moral lainnya adalah, tidak semua hal yang terjadi di masa tua nanti, sekalipun segalanya mungkin terlihat menyenangkan, ternyata masih banyak masalah yang dihadapi orang dewasa. Terlebih lagi tentang kisah cinta, tidak semuanya bisa diputar sesuka kita. Matt dan Jenna mungkin bersahabat saat 13 tahun, tapi kemudian tidak ada lagi yang tahu setelah itu. Matt dulunya mungkin menyukai Jenna, tapi tidak untuk sekarang, karena Matt sudah memiliki Wendy. 

Source: 13 Going on 30 Quotes on Google

"Aku melanjutkan hidup. Kau juga melanjutkan hidup. Kita sudah saling berpisah jalan lama sekali. Kita sudah membuat pilihan." -Matty Flamhaff

Quotes tersebut sukses membuat air mata jatuh, apalagi saat Jenna menyatakan perasaannya dan begitu pula Matt tepat di hari pernikahan Matt bersama Wendy. Scene ini adalah scene terbaik dalam rincian film yang semuanya baik. Lagi-lagi membuat para perempuan kembali jatuh cinta pada sosok Mark Ruffalo yang ternyata setia, lembut, dan dapat menyesuaikan sesuatu hal yang terjadi pada dirinya. 

Source: 13 Going on 30 Quotes on Google


Para penyuka film remaja, apalagi bergenre fantasy maupun romance, sangat cocok sekali menonton film ini. Alurnya bagus, dijelaskan dengan rinci, bahkan kejadian-kejadiannya tidak ada yang bisa menebak. Walaupun dirilis tahun 2004, tapi cita rasanya tidak pernah mati. Never Dies.  Film ini mengajarkan agar kita mencintai kehidupan kita yang sekarang, jangan pernah marah akan sesuatu hal yang belum tentu baik. Walaupun diri kita tidak baik, setidaknya beranilah merubahnya. Jangan menikmati sesuatu hal yang didapatkan dengan cara yang tidak baik. 

Dan plot twist lainnya yang sangat membuatku seratus persen jatuh cinta dengan film ini adalah, happy ending. Di hari pernikahan tersebut, Matt memberikan Rumah Impian yang telah lama disimpannya setelah di umur 13 tahun, Jenna pernah melemparkannya. Jenna membawa rumah itu turun dan kemudian menangis di sela-sela angin yang berhembus. Saat itulah, ia kembali menjadi gadis berumur 13 tahun yang matanya tertutup di sebuah kamar. 

Matt kemudian membuka pintu, dan menemukan Jenna yang sudah berlari ke arahnya. Mereka berpelukan, dan Jenna mengusir Six Chick dari rumahnya. Mereka terus bersama hingga sampai di hari pernikahan yang Jenna impikan bersama Matt. Hal ini juga mengubah perspektif Jenna di masa lalu yang sangat menyukai Chris Grandy yang ternyata di masa depan hanya seorang supir angkot yang jelek. Bahwa yang dapat dikutip adalah, "Apa yang kita lihat dari seseorang sekarang belum tentu sama persis dengan apa yang terjadi di masa mendatang. Jangan menilai orang hanya dari fisiknya."

Matt yang dulunya gemuk, culun, ternyata mampu membuat Jenna lebih menyukainya ketimbang bersama dengan laki-laki keren yang pernah menjadi pacarnya tanpa ia sadari. Selain itu, Lucy yang dia anggap teman ternyata busuk, dan ingin menyingkirkannya. Artinya, tidak semua hal dapat kita percaya. Walaupun dialog terkesan mudah, dan kualitas videonya sangat rendah, tapi untuk film lama yang diproduksi lebih dari satu dekade ini patut diapresiasi. Semoga bermanfaat dan silahkan tunggu untuk review film selanjutnya. Untuk menambahkan betapa relatablenya film ini di kehidupan sehari-hari kamu bisa temukan quotes-quotes menarik lainnya melalui link berikut https://www.theodysseyonline.com/13-quotes-live-13-30

Film ini ternyata meraup $96.5 juta Box office dengan budget $37 Juta. Artinya banyak mendapat respon positif dari penonton di tahun 2004. Selain itu, soundtrack paling sering didengarkan adalah Thriller oleh Michael Jackson, dengan tariannya. Sangat cocok ditonton untuk para remaja. Namun tetap harus diawasi karena terdapat adegan ciuman walaupun tidak intens Dan funfact lainnya adalah, Brie Larson ternyata anggota Six Chick yang sekarang ini dikenal dengan Captain Marvel. Bahkan Mark Ruffalo sendiri yang dipercaya memerankan Hulk baru tahu bahwa Brie Larson pernah satu film dengannya. 





Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)