ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Thursday, 7 May 2020

Seindah Kunang-Kunang [The End]

2 comments

Saat itu, mereka berjalan memenuhi koridor, tertawa lepas sembari merangkul, perbedaan gender juga tidak membatasi, mereka melindungi sang putri dan membuat semua yang melihat tersenyum.

“Dan pada akhirnya, semua berjalan sesuai Takdir Tuhan, takdir kita adalah bersatu, saling merangkul satu sama lain dan menjadikan pengalaman menjadi guru yang terbaik, tidak ada saling mencemooh, menjelekkan, saling memfitnah dan menyalahkan, semuanya harus saling memberikan nasehat tanpa harus menjatuhkan, karena Indonesia itu satu, kesatuan itu dimulai dalam lintasan terkecil, termasuk fakultas. Setelah itu, kekuatan itu akan dengan mudah dibangun, karena hanya Indonesia yang memiliki keberagaman sebanyak itu, maka jangan pernah menghujat dan membicarakan orang lain tanpa tahu kebenarannya, karena itu yang akan memecah-belah Indonesia.”

Demikian tulisanku kembali dimuat. Hanya berisi bagian terkecil tapi sangat berarti bagi orang yang membacanya.

“Aku pernah membenci orang lain, tapi aku menanggapinya dengan caramu, dan aku malah menyukai orang itu, terima kasih atas sarannya.” Perempuan yang kutahu bernama Nadia itu tersenyum sembari menepuk pundakku. Aku bersyukur, setidaknya tulisanku bermanfaat bagi orang lain, terutama pada bangsa Indonesia sendiri.

Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti kunang-kunang yang tetap bersinar di gelapnya malam tanpa berpura-pura baik layaknya bunga mawar yang kita tahu menyimpan banyak duri di tangkainya.

***
Keterangan:
1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
2 Aku belum lancar sekali bahasa Indonesia di sini.
3 Aku takut mereka tidak mau memaafkanku.
4Aku memang belum fasih, tapi semoga aku bisa lancar, dengarkan ya.

***
Nb: Semoga dibaca semua chapternya ya, soalnya keterangan ceritanya ada di akhir :) Thankyou

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost
Continue reading →
Sunday, 3 November 2019

Truth or Dare [End]

0 comments

Pertanyaan itu bukan untukku, melainkan untuk Murni. Karena sekarang dia terduduk menatap ketakutan padaku. Murni menutup mata sembari berkata, "Malam di mana aku melihat Sinta dan Usai berdua, mereka membicarakanku yang terlalu memohon cinta pada Usai. Padahal nyatanya, mereka saling mencintai. Sinta merelakan perasaannya seolah Usai memang memilihku padahal nyatanya ini semua adalah rekayasa. Aku juga tahu bahwa satu-satunya yang mencintaiku hanya Dide. Tapi Dide juga merelakan perasaannya pada Usai. Aku adalah benalu di sini, bukan?"

Aku tertegun. Murni ternyata mengetahui perjumpaan malam itu, awal dari semua kisah adalah memang karena Usai menyukaiku dan aku juga menyukainya hanya saja aku selama ini berpura-pura. "Dan aku mengetahui alasan kenapa kalian hanya berdua di sini, itu karena kau ingin merayakan ulang tahun dia kan, Usai?" tanya Murni sembari membentak.

Dide menunduk perlahan, berusaha menenangkan Murni. Tapi Murni menepisnya, dan melanjutkan, "Dide, kau pikir aku tidak tahu karena siapa orang tua Usai bertengkar. Karena mereka mendengar darimu bahwa Usai sering kali dibully  di sekolah, dipukul, itu karena orang tuanya tidak mendidik dia dengan benar, padahal nyatanya, kaulah yang menyebabkan Usai dibully.

Aku tertegun kembali, ini permainan yang sangat tidak adil. Ini sangat di luar akal pikiran manusia, bagaimana sosok itu bisa tahu detail apa saja yang terjadi antara semuanya. Aku kemudian menutup mata dan memegang tangan Usai jika sewaktu-waktu ada yang terjadi, juga menggenggam tangan Dide. Berada di antara mereka dan Murni di hadapanku walaupun aku tidak bisa melihat eskpresi wajahnya.

"Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh pembuatnya, sebutkan nama panjangnya."

Suara itu datang lagi, muncul dan membuat semua menoleh saat lampu itu akhirnya hidup, dan hanya satu orang yang bersuara, "Namaku, Dide Karisma."

Murni menatap sekeliling dan akhirnya terjatuh pingsan. Aku menenangkan Usai yang hendak memukul Dide karena kutukan itu berasal darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu sampai sebuah sosok bisa menghampirinya. Tepat saat itu ayah Usai dan ibuku benar-benar datang dan memeluk kami berdua. Aku memeluknya erat, walaupun dalam hati terasa sakit.

Ibuku dan ayah Usai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Sedangkan Dide masih tidak berkutik, dia hanya menggumam sembari berkata, "Aku tidak tahu sosok apa itu, dia seolah mengikutiku, sekali aku memainkan permainan itu bersama temanku, sosok itu mengikutinya, sama seperti itu mengikuti kalian. Maafkan aku, karena aku juga tidak ingin terkena kutukan itu."

Murni kemudian bangun, dan meminum segelas air putih sembari Dide di sampingnya menatap dengan tulus. Usai dan aku di sisi lain juga merasa khawatir terhadap Murni. Murni menatapku lama dan akhirnya memelukku. Mengucap penyesalan akan semua yang terjadi, mengucapkan belasungkawa juga terhadap Usai, dan mengucapkan permintaan maaf karena tidak pernah menyadari kehadiran Dide.

Malam itu, malam terpanjang menuju Halloween. Menyisakan beberapa kenangan, untuk tidak memainkan permainan di luar akal itu. Aku dan Usai memutuskan untuk tetap merasakan perasaan yang sama hingga akhirnya tiba sementara Murni dan Dide juga menjadi sahabat sampai Murni bisa menerimanya. Permainan termudah, tapi kemudian menjadi tersulit karena teka-teki iu ternyata lebih rumit dari yang seharusnya. :")

***
Tulisan ini fiktif oleh penulis dan merupakan tantangan pekan akhir untuk RWC ODOP BATCH 7. Selamat Membaca. :)
Continue reading →

Truth or Dare [4]

0 comments

"Dare or Dare? Bukankah permainannya antara Truth or Dare?" Aku bertanya tapi tidak ada jawaban. Sampai seseorang lagi mengetuk, dan kukenali suara berat di balik pintu sana. Dide, sahabat kecilku yang kutahu menyukai Murni sejak pertama kali aku memperkenalkan mereka.  Sayangnya, Murni lebih memilih Usai.

"Aku ke sini ingin mengabarkan sesuatu, Ibumu Sin, babak belur, katanya seseorang memukulnya." Dide membuat jantungku berdebar lagi, sakit sekali rasanya. Aku ingin pulang, aku harus meninggalkan mimpi buruk ini.

Namun belum sempat aku beranjak, pintu itu tertutup dan sulit rasanya dibuka. Seolah suara itu sangat dekat sekali, dia masih menyuruhku memilih Dare. Jika aku tidak menjawab selama satu menit, sesuatu akan terjadi padaku. Aku memilih untuk tidak percaya dan masih berkutat melawan pintu sampai Usai akhirnya bersuara dan menyuruhku untuk melakukan Dare sebelum semuanya berakhir tragis.

"Dare," ucapku. Akhirnya suara itu menghilang, tapi tidak untuk beberapa saat karena kemudian dia datang lagi dan membawakan tantangan yang di luar dugaanku. Dia menyuruhku untuk menampar Usai seperti sakit hatiku pada ayahnya. Jika kau bersikap lembut, maka aku berbohong dan aku tidak ingin sesuatu terjadi.

Murni melihatku dengan berkaca-kaca, sedangkan Dide memegang bahuku agar tak kulakukan hal keji itu. Dan tanpa kusadari, tanganku melayang dan menampar Usai dengan sangat keras sampai Usai terbaring dan Murni mengusap pipinya yang merah.

Dide yang melihat kejadian sadis itu akhirnya berontak dan menyuruh sosok itu bertanya pada dirinya. Dia tidak percaya dengan hal itu sampai, suara itu datang lagi dan menyuruhnya memilih antara Truth atau Dare. Dide tidak menjawab apa pun, dia bahkan menantang sosok itu untuk datang sembari dia memegang pisau sewaktu-waktu ingin membunuh.

Tapi beberapa detik kemudian, Dide malah mengarahkan pisau itu ke dirinya sendiri seolah ingin membunuh. Aku tidak membiarkan itu terjadi, aku menahan pisau itu sekuat yang kubisa dan akhirnya membuangnya. Dide termenung, dan akhirnya sadar bahwa permainan itu tidak main-main. Itu bukan lagi suatu permainan.

"Ceritakan kejadian seminggu yang lalu saat berada di jembatan. Akan kucabut kutukannya."
Continue reading →

Truth or Dare [3]

0 comments

"Sinta. Buka pintunya!" Suara ketukan itu mengagetkanku sekaligus berdiri dan membukanya, karena aku tahu persis suara siapa dibalik itu, Murni. Pacar Usai sekaligus sahabatku jauh sebelum aku bertemu dengan Usai. "Ada apa?" lanjutnya.

Aku hanya menariknya masuk dan menyuruhnya duduk. Sementara Usai masih berkutat dengan telepon genggam itu. Tanpa berlama-lama dia akhirnya memilih Truth. Tidak ada jawaban di telepon itu sampai kemudian suara itu muncul lagi, tapi lebih besar seolah dekat dengan kami bertiga.

"Apa yang kau lakukan kemarin malam?"

Usai tertegun. Matanya seperti ketakutan akan jawaban jika berbohong. Murni akhirnya memegang bahunya, dan menyuruhnya agar tenang dan menjawab.

"Aku memukul ayahku, sebab dia kutemukan bersama perempuan lain di ruangan ini," ujar Usai sembari menangis dan membuatku tertegun. Permainan ini bukan permainan sembarangan lagi, ini dapat membongkar semua peristiwa atau aib yang kita sembunyikan. Tapi nyatanya, aku pun tidak tahu apa dampak jika kami tidak menjawabnya dengan jujur.

"Jujurlah, atau malam ini akan jadi malam terakhir kalian."

Usai kemudian menahan tangisnya lagi, dan melanjutkan keseluruhan ceritanya. "Aku memukul ayahku, dan kutemukan dia bersama ibumu, Sinta."

Napasku tak terkendali, aku ingin pingsan saat itu juga, sampai Murni akhirnya menangkapku dan menenangkanku. Dia menyuruhku untuk tetap berpikiran positif bahwa yang terjadi bukan seperti yang diketahui oleh sosok itu. Aku benci permainan ini, aku tidak ingin lagi mendengar omong kosong ini. Aku memutuskan untuk beranjak dan menghidupkan lampu seolah saklar itu tidak ada yang mengendalikan.

Sekali aku menaikkan arah saklarnya lalu yang kuketahui sedetik kemudian adalah, lampu itu turun dan membuatnya mati lagi. Diselingi pertanyaan yang baru, Dare or Dare?
Continue reading →

Truth or Dare[2]

0 comments

"Truth or Dare? Pilih."

Suara itu kian dekat, membuat aku dan Usai saling bertatapan. Wajahnya pucat pasi, padahal kulitnya seharusnya tidak seputih itu. Dan tanpa kusadari, ternyata Usai memeriksa handphonenya sekaligus menghubungi teman-teman yang lain untuk datang ke sini. 

"Jawab, Sinta." Jantungku berdetak tak karuan saat sosok itu menyebut namaku. Bersamaan dengan matinya lampu dan membuatku sontak berteriak. Bahkan wajah Usai tak lagi bisa kulihat. Sembari  menghela napas, aku menjawab, "Truth."

"Di mana kau kemarin malam?" tanya sosok yang belum kelihatan wujudnya itu. Aku meneteskan mata perlahan, tak sanggup menceritakan kejadian pelik yang kualami kemarin. 

"Aku berada di jembatan, menyaksikan sebuah mobil kecelakaan dan kemudian mobilnya hangus terbakar," jawabku sambil menutup mata agar aku tak pernah melihat sosok apa pun di gelapnya ruangan ini. 

Tiba-tiba Usai berteriak, bahkan handphonenya terjatuh dan kursi itu bergetar seperti orang yang baru menerima kabar buruk. "Ibuku ... dia meninggal dalam kecelakaan di jembatan kemarin malam. Mereka baru mengabariku."

Seketika duniaku berhenti, permainan macam apa ini. Sungguh sangat tidak lucu, bahwa apa yang kemarin kualami bisa ada sangkut pautnya dengan yang terjadi malam ini. Sosok itu kemudian tidak terdengar lagi, lampu akhirnya hidup dan aku menemukan Usai dalam keadaan pingsan. Ternyata sejak tadi dia menangis dan terpukul akan kepergian ibunya. 

"Ibuku berjanji, akan melihaku tumbuh dewasa bersama orang yang kucintai," isaknya. Usai berulang kali terseduh mengingat kenangan yang terjadi bersama kedua orang tuanya sebelum pergi. Saat itu ayah dan ibunya sempat bertengkar namun akhirnya baikan dan ibu memutuskan untuk ke luar kota. Sedangkan ayahnya tinggal di rumah bersamanya. Lucunya, ayahnya juga belum pulang setelah berangkat kerja tadi pagi. Sampai sebuah telepon datang dan membuat dia sontak mengunci semua area rumah.

"Truth or Dare?"
Continue reading →

Truth or Dare [1]

0 comments


"Boo!" Aku mengagetkannya malam itu, tepat 30 Oktober di hari ulang tahunku. Dia yang masih ketakutan dan sangat anti dengan Halloween, tapi aku tanpa rasa bersalah mendatangi rumahnya. Beberapa menit dia tidak menggubrisku, bahkan menghela napas untuk jengkel pun tidak ada sama sekali. Ekspresinya datar, dan aku yang jadi takut malam ini.

Kemudian dia berdiri dan menyalakan komputernya, seperti mencari sesuatu dan aku masih melihat gerak-geriknya dari belakang. Dan tidak berapa lama, aku mendengar suaranya tertawa terbahak-bahak layaknya orang kesurupan. Aku berusaha untuk tetap biasa saja, tapi suasana semakin mencengkam, aku akhirnya lari menuju pintu keluar. Sayangnya, langkahku tak secepat langkahnya, karena saat ini, di rumah itu hanya ada kami berdua. Dan dia sedang menatapiku yang sedang jantungan.

"Takut, ya?" tanyanya dengan senyum sumringah disusul oleh tawanya yang menggema di rumah itu. Persis saat itulah baru aku menarik napas dengan lega. Berapa kali aku memukulinya dan membuat dia memekik kesakitan. Tidak setimpal dengan jantungku yang berkejar-kejaran. "Gitu aja takut," balasnya.

Aku memilih untuk diam dan menyeduh tehku. Sedangkan dia terus menerus meminta maaf padaku. Beberapa kali aku melihatnya merasa bersalah, padahal aku sudah memaafkannya. Lagi pula salahku juga yang memancing dia duluan. "Satu syarat," ujarku.

Dia kemudian duduk di sampingku sembari mengiyakan. Aku langsung mengeluarkan catatanku dan menulis Truth or Dare di beberapa baris itu. Truth or Dare, sebuah permainan antara kejujuran atau tantangan. Setiap pemain harus bertanya bergantian. Kebetulan karena hanya ada dua pemain, maka ini hanya antara aku dan Usai.

"Truth or Dare?"

Bulu kudukku merinding, tanganku bergetar, kami berdua bertatapan seperti orang yang melihat setan padahal tidak. Setidaknya aku tidak melihat wujudnya, karena suara itu bukan antara aku dan Usai, sebuah suara sebelum kami sempat memulainya.
Continue reading →
Saturday, 2 November 2019

Dear Raka

3 comments


Hari ini hujan turun sangat deras, sampai aku dan teman-temanku terus diusik petir dan akhirnya mati lampu. Aku tidak bisa menutup rasa sesalku kala aku tidak bisa pergi kemana-mana padahal ini malam minggu. 

Belum lagi rasa kangenku yang teramat sangat pada sang pujaan hati yang sedang "bekerja", anggap saja begitu. Setidaknya aku mengenalnya, dan aku kerap mengobrol dengannya via chat. 

Dia mengucap kangen berulang kali seolah sudah lama tidak berjumpa. Oh iya, aku melupakan fakta bahwa besok masih hari Minggu dan ada waktu untuk mengerjakan laporanku. 

Aku dirundung laporan beberapa hari ini, dasar teoriku belum kukerjakan, dan tulisan tangan itu belum kusentuh. Ah, aku sangat membenci praktikum. Membenci segala hal tentang laboratorium yang memaksaku melakukan hal pembodohan. 

Di sini, aku bersama kedua temanku menatap gelapnya cahaya padahal masih di waktu sore. Inginku menghidupkan data dan mentionan dengan teman onlineku, atau setidaknya membalas pesan whatsapp orang lain, namun ketakutan akan petir yang menyambut handphoneku membuat aku mengundurkan diri. 

Mengundurkan diri untuk menghidupkan data maksudnya. Padahal siang itu aku sudah makan tapi rasanya masih ingin makan lagi, dan kami pun memutuskan untuk makan bolu yanh kemarin dibeli temanku, Aliza. 

Sementara aku selesai memotong pepaya, petir itu terus menerus berdatangan, membuatku tak nyaman. Ingin tidur, tapi kasurnya terlalu sempit untuk ukuranku. Alhasil aku hanya menyender di kulkas sembari mengaku bahwa aku sangat benci hujan akhir-akhir ini. 

Hujan memang rezeki, banya kota yang belum mendapatkan hujan apalagi sederas ini, tapi di sini terlalu sering dan membuatku jenuh. Apalagi jika hujannya disertai petir dan angin kencang, jalan setapak akan banjir dan jemuran pun akan berhamburan. 

Sebuah pesan membuatku kembali terpaku. Maklum, sebagai orang yang dirundung cinta padahal bukan siapa-siapa. Bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa aku di hidupnya. 

"Di sini tidak hujan," ucapnya.

Aku kembali mengetik dan mengatakan tunggu saja bahwa hujan itu akan mengarah ke sana. Lagi-lagi ia menepis. 

"Aku bisa saja berkendara sekarang dan membuktikan bahwa hari ini tidak hujan." Ia tertawa terpingkal-pingkal. Aku tetap menyuruhnya untuk melakukan pekerjaannya. 

"Nanti temanmu marah karena terlalu sering membuka hp," balasku.

"Mereka senang ada yang jadi bucin." Lagi-lagi ia membuatku menahan tawa. Bucin adalah budak cinta, sebutan bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta dan mau menyenangkan orang yang disukainya. Belum tentu pacaran loh ya, contohnya kami ini. 

"Aku ke sana yah," ucapnya mengakhiri obrolan itu. Aku tidak menjawab, setidaknya aku tahu dia tidak pernah mengingkari janji. Aku juga melanjutkan aktivitasku bersama temanku yang lain, masih diselimuti gelapnya senja. 

Tapi tak sedetik pun ada kabarnya, aku lelah menunggu. Entah aku tahu dia benar-benar datang atau semuanya hanya khayalan. Atau dia tidak sedang baik-baik saja. 

Hingga dering telfon itu berbunyi, persis menggetarkan hatiku dan jantungku berdegup kencang. Aku mendengar bahwa dia menghilang, hanya motornya yang ditemukan berasap layaknya disambar petir atau kecelakaan. 

Tidak ada kabar darinya, tidak ada kekuatan yang membuatku paham tentang semuanya. Apakah dia memang masih baik-baik saja atau sudah menghilang dan tak pernah kembali. Handphonenya, bajunya, tidak ditemukan satu pun di malam itu. 

Sampai satu pesan mengakhiri pengharapanku di malam yang kelabu. Satu pesan yang membuat isak tangisku menggebu-gebu. Bahwa ia tak akan pernah kembali. 

Hari ini dia sudah ditemukan, sebentar lagi disholatkan dan dimakamkan. Kami mengharapkanmu datang. 

Satu kali aku mengecewakan diriku sendiri, lebih berat dari kecewanya aku mengetahui bahwa ia sudah tiada. Aku tidak tahu ingin menyalahkan siapa, karena kemauan dirinya sendiri yang ke sini. Apa aku harus menyalahkan Tuhan?

Seolah hari ini kami masih bertemu, berkeluh kesah, dia selalu mengantarku ke mana pun sebisanya. Lalu aku patahkan pengharapannya sebab aku selalu membencinya. Dan di malam ini aku menyadari, betapa aku merindukannya. Betapa aku mencintainya dengan jiwa ragaku. Seorang sahabat yang selalu ada suka dan duka.

Bahkan keluarganya juga sangat menyayangiku. Aku tidak tahu apakah ini nyata atau tidak, tapi hujan itu semakin deras, diselingin dengan isak tangisku yang akhirnya disadari oleh temanku. Mereka bertanya perihal apa, tapi kujawab dengan tangisanku. Hingga mereka menenangkanku. 

Aku benci hujan, sangat membencinya. Dia merenggut Raka Aditya dari genggamanku. Setidaknya aku belum pernah menjawab pertanyaannya atau pengakuan balik bahwa aku mencintainya. 


Continue reading →
Thursday, 31 October 2019

Love Hate

0 comments
"I'm fine, i would be fine," gumamnya sambil sesekali melihat ke setapak jalan. Genangan air hujan itu kini sudah semata kaki, dan sepatunya mau tidak mau harus basah dan membuat ia semakin mengigil.

Dentingan detik itu terus bergemuruh di telinganya. Seperti bom atom yang menghitung mundur demi menelan korbannya. Karena, ia tidak pernah pulang selarut ini.
Setiap toko yang dilewatinya sudah tutup dan hanya tersisa lampu jalanan yang cahayanya bahkan sudah redup.

Ia menghela napas panjang sambil memeluk tas sandangnya yang mungil sembari berlari menuju halte yang sedari tadi menarik perhatiannya. Bahkan bus tidak ada lagi yang melintas, orang-orang tidak ada lagi yang duduk di halte itu. Just her, alone.

"How stupid you are, I would be die." Ia bergumam sambil mengetuk kepalanya.
"Kau bahkan belum mencobanya." Ia langsung menatap ke asal suara. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan jas hujan sedang menatapnya sambil tersenyum.

Ia menggeleng pelan. Laki-laki itu pasti sedang menelepon seseorang, bukan ia yang laki-laki itu ajak bicara.

"Kau terlihat gelisah, matamu tidak lepas dari arloji basah itu, dan aku melihat kau bergumam sambil mengetuk kepala, kau takut dimarahi seseorang, bukan?" tanya laki-laki itu lagi.

Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun, walaupun ia mulai merasa bahwa laki-laki itu sedang menjawab apa yang ada dalam pikirannya.

"Aku berbicara padamu, kenapa kau tidak menjawabnya?" Laki-laki itu sekarang sedang berlutut di hadapannya. Dan kali itu, ia sadar, laki-laki itu tampan, bahkan dengan cahaya seadanya, siluet laki-laki itu seperti menghentikan waktu yang sedang berjalan.

"Siapa kau?" tanyanya tajam. Walaupun wajah itu mengalihkan perhatiannya, ia masih tetap mengacuhkan laki-laki itu.

"Apa kau tidak ingin mencoba pulang? Kau tahu, gadis sepertimu tidak baik masih berada di sini sampai jam satu pagi," kata laki-laki itu sambil duduk di sampingnya tanpa menjawab pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya.

Ingin ia beranjak dari tempat itu kalau saja hujan itu tidak turun lagi dengan derasnya. Baru kali ini, ia benar-benar terjebak di suatu halte dengan orang asing yang terus-terusan menanyainya.

"Aku sudah memberitahumu dari awal." Sekarang laki-laki itu tertawa mengejeknya, ia memang mengakui, harusnya ia pergi daritadi sejak laki-laki itu bertanya pertama kali. "Aku akan mengantarmu jika kau mau, Muthia."

Deg. Jantungnya berdegup kencang, karena ia tidak pernah memberitahu namanya dan sekarang laki-laki itu menyebut "Muthia". Seakan bersikap biasa, ia malah pergi menerobos hujan.

Tapi tidak sampai setengah jalan, ia kembali, karena tidak kuat merasakan hujan yang menyerbu tubuhnya yang hanya dibalut kaos. Dan belum sempat ia meminta, laki-laki itu langsung memakaikannya jas yang sebelumnya laki-laki itu pakai.

"Ayo." Laki-laki itu menggenggam tangannya sembari menariknya menerobos hujan yang lebat itu. Entah kenapa, genggaman itu menimbulkan getaran aneh dan kehangatan mulai muncul di saat yang bersamaan.

Dalam beberapa menit itu, ia hanya memandang wajah laki-laki itu, tersenyum sendiri sampai ia lupa menatap arlojinya.

"Kau bisa berhenti menatap wajahku sekarang," kata laki-laki itu yang membuatnya menghela napas, ia bahkan tidak sadar laki-laki itu menyadarinya.

Dan taman itu membuatnya sadar, rumah berwarna coklat itu membuat matanya membelalak lebar, dan pagar hitam itu menyadarkannya satu hal, ini adalah kediamannya.

"Harusnya kau mengenalku, Muthia." Suara itu membuatnya menoleh.

Laki-laki itu menjauh pergi bahkan sebelum ia sempat bertanya. Dan sebelum ia sempat mengejar, ibunya membuka pagar dan memeluknya erat.
"Thia, jangan buat kami khawatir lagi."
Malam itu, hanya satu pertanyaan yang ada di benaknya, "Siapa dia sebenarnya?"
Continue reading →
Sunday, 27 October 2019

Sepenggal Mawar

4 comments





“Aw!” pekik Ani saat kakinya menginjak kulit pisang dan membuat pantatnya harus mencium tanah.

“Hahaha.” Gelak tawa terdengar dari beberapa mulut anak sekolah yang hanya berjalan tanpa menghiraukan Ani yang masih duduk memijit kakinya yang memar.  

Bukan sekali dua kali ia melalui hal semacam itu, melainkan berulang kali dan semakin parah. Semua orang menatap wajahnya dengan sinis seperti hendak menerkam mangsa yang kakinya sudah terluka.
 
Tapi, satu hal yang baru terjadi pada hari ini ialah laki-laki itu. Laki-laki berseragam putih abu-abu dengan badan kekar tinggi mengenakan pangkat tiga di dasinya, menandakan ia merupakan siswa kelas dua belas.  

“Kau tidak apa?” tanya laki-laki itu padanya yang masih ternganga diam di tempatnya. Wajah laki-laki itu sangar, tapi tatapan matanya begitu menghanyutkan.

Mendengar Ani bahkan tidak berkutik, laki-laki itu pun menjentikkan jarinya agar menyadari bahwa laki-laki itu sedang bertanya padanya.

“Kau siswi kelas sepuluh, bukan? Aku bisa mengantarmu ke UKS jika kau mau.” Laki-laki itu menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangannya, membuat Ani seperti menatap malaikat yang tercipta di bumi.  

Tanpa berlama-lama, Ani menyambut uluran tangan itu dengan senyum tipis namun tulus. Tangannya yang semula perih mendadak hangat saat menyentuh tangan laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata memiliki bet nama dengan tulisan Ibrah. 

Jarak UKS dari tempat Ani jatuh tidak begitu jauh, sehingga dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai di UKS yang penuh dengan siswa-siswi yang malas pulang ke rumah dan memilih untuk tiduran dalam UKS yang sejuk itu.

Sekolah yang memiliki kelas yang banyak, namun fasilitas yang sedikit. Seperti kotak P3K yang bahkan sudah habis dan tidak pernah diganti. Perpustakaan yang tidak banyak memiliki buku pelajaran. Serta senioritas tinggi dengan pembullyan yang sering terjadi.

Hampir satu bulan Ani di sini dan tidak sedikit pun ada penyambutan istimewa tentang sekolah ini. Sekolah yang katanya favorit tapi tidak menghasilkan murid-murid yang memiliki sopan santun, modal pintar hingga bisa mencapai jenjang kuliah yang lebih tinggi. Itulah yang selalu disesali Ani sampai saat ini.  

“Aku minta maaf mewakili Kepala Sekolah yang sampai saat ini belum melengkapi fasilitas, termasuk UKS. Jadi, jika kau tidak keberatan, biar aku antar pulang saja,” kata Ibrah dengan wajah datar namun dengan mata yang begitu tulus.

Ani lagi-lagi mengangguk dan mengikuti Ibrah menuju parkir untuk mengambil motornya segera. Tepat di saat itulah Ani merasa ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya. Ani bahkan sengaja balik menuju kelas hingga ia terpeleset hanya untuk mengambil benda itu, tapi sekarang ia melupakannya.

Secepat mungkin Ani berbalik menuju kelas dan mengambil smartphonenya yang tergeletak sembarang di atas mejanya. Terlebih lagi, lacinya sudah mendadak bersih dan tidak ada lagi bekas sampah tempat biasa teman-temannya yang lain meletakkannya. 

Dan benar saja, kecurigaannya semakin timbul saat tiba-tiba setangkai bunga mawar oranye telah terpapar rapi di laci paling sudut dengan wangi yang begitu harum dan segar. Mawar terindah yang pernah Ani lihat sepanjang hidupnya.   

Tiba-tiba Ani terlupa lagi akan Ibrah. Ani kembali melupakan sesuatu yang pada akhirnya menghilang. Karena Ibrah bahkan sudah tidak terlihat lagi di sepanjang parkir. Yang tersisa hanya beberapa motor berplat merah, menandakan bahwa yang masih tinggal hanya guru. Mau tidak mau, Ani terpaksa berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolahnya.

Tepat keesokan harinya, setelah Ani bersiap hendak pergi, lagi-lagi ibu dan ayahnya tidak bisa mengantarnya. Hal tersulit yang paling Ani lakukan adalah pergi naik becak dan ibu ayahnya naik mobil bersama. Bahkan apa pun keluhan Ani takkan pernah tersampaikan melihat betapa sibuk orangtuanya dalam mengurus pekerjaan.  

Setibanya Ani di sekolah, ia lagi-lagi disambut dengan tatapan sinis dan kakak kelas galak yang senantiasa menghukum Ani untuk mencabut rumput, menyaring sampah dan bahkan disuruh untuk mengerjai murid-murid lain dengan menggantung tasnya bahkan jika pun ia tidak pernah terlambat.  

“Hey, kau lihat tas berwarna merah itu? Cepat kau bawakan ke kelas dua belas IPA dua, katakan bahwa itu tasmu, Evelyn akan memastikannya nanti.” Greta sudah sering melakukan hal semacam ini berulang kali, membuat Evelyn merasa tidak akan pernah dihukum sepanjang hidup akan keterlambatan karena dengan mudah, ada saja siswa kelas sepuluh yang membawakan tasnya.  

Dengan hati setengah paksa, Ani membawakan tas merah yang bahkan tidak bisa disebut tas karena tidak berat seakan buku tidak pernah berada di dalamnya. Tepat saat Ani berada di depan pintu, ia melihat Ibrah sedang berdiri sambil memasang dasinya. Ingin ia menyuruh Ibrah untuk meletakkan tas itu saat tiba-tiba Evelyn datang dan mengambil tas itu dan menyuruhnya untuk pergi.

Ibrah bahkan tidak memandangnya, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena meninggalkannya kemarin. Membuat ia berpikir dua kali untuk menganggap bahwa Ibrah berlaku istimewa padanya.  

Bahkan pelajaran matematika kesukaannya mendadak menjadi hal paling membosankan karena pikiran tentang Ibrah yang terus mengganggunya. Hingga bel berbunyi dan lagi-lagi ia menunggu beberapa jam untuk memastikan bahwa kulit pisang tidak akan lagi membuatnya jatuh.  

Seperti biasa, Ani membersihkan kelas sebelum pulang, dan lagi-lagi bunga mawar oranye itu terpapar rapi di lacinya. Membuat perhatiannya akhirnya tertuju penuh pada seseorang yang memberikan bunga mawar berwarna oranye.  

“Tolong aku!” Seorang siswa menjerit ketakutan saat para senior itu mengeluarkan semua isi tasnya dan berlalu begitu saja. Pemandangan paling suram yang dapat dilihat dari kaca jendela.  

Ani berjalan menuju laki-laki itu dan membantu membereskan peralatannya, kalau tidak saja bunga mawar oranye itu membuat matanya mengerling bertanya-tanya.  

“Ayahku mengirim mawar ini pada ibu saat melamarnya. Berarti bahwa ayah ingin menjadi bagian dari hidup ibu. Aku bisa membawakanmu bunga ini jika kau tertarik.” Laki-laki itu tersenyum seakan menjawab pertanyaannya. “Lutfi.”  

Lutfi tipe laki-laki kutu buku dan memakai kacamata. Lutfi juga mengenalkannya macam-macam bunga, dimulai dari sexy red, red passion, white avalance, pink universe, sampai voodoo, bunga oranye yang kerap menghantuinya.  

Ternyata orangtua Lutfi seorang penjual bunga dan memiliki kebun bunga tersendiri yang membuat Ani semakin tertarik bersama Lutfi. Selain karena Lutfi juga kelas sepuluh, ia juga merupakan tipe laki-laki yang tidak kasar. Sampai hal itu akhirnya menjadi rumor dan kakak kelas sering menghina mereka berdua.  

“Hey, kau yang bernama Ani, bukan? Jadi kau sudah berpacaran dengan Lutfi? Selamat ya.”  

Ani bahkan tidak menggubris tatapan hinaan dari semua kakak kelas. Sedangkan Lutfi tetap tenang menghadapi situasi. Bahkan sampai enam bulan, Ani resmi bersahabat dengannya. Tapi sampai saat ini pula, seorang pengirim mawar itu tidak pernah Ani temukan.  

Satu kali Ani tidak sengaja mendapati seorang laki-laki menyelundupkan bunga mawar itu, tapi secepat kilat pula laki-laki itu berlalu tanpa terlihat wajahnya.

“Kau beruntung, Lutfi,” kata Ani pelan saat Lutfi mengajaknya ke Taman yang penuh dengan bunga saat di penghujung semester satu sebelum mereka sama-sama berlibur.   

“Tidak ada orang yang beruntung Ani, kau menganggap mereka beruntung hanya karena kau berpikir bahwa hidupmu tidak seperti yang kau bayangkan, banyak orang yang ingin bertukar tempat denganmu, dan kau ingin bertukar tempat dengan orang lain, kadang hidup sekejam itu, Ani,” balas Lutfi sambil tersenyum dan menghirup wangi bunga yang menyengat.  

“Kau ingin bertukar tempat denganku?” tanya Ani.

“Hanya jika aku perempuan sepertimu, aku mau,” jawab Lutfi sambil berjalan dan memetik setangkai bunga mawar oranye. “Berikan pada seseorang yang kau yakin kau ingin memilikinya.”  

Ani menerima mawar oranye itu sambil tersenyum dan akhirnya terpikir pada seseorang yang pertama kali menolongnya, seseorang dengan mata teduh layaknya malaikat, dan pergi menghilang seperti hantu, seseorang yang bernama Ibrah.

Senin itu, Ani sengaja datang pagi sekali dan berencana menaruh mawar oranye itu ke laci Ibrah. Ani yakin tidak akan ada seorang pun yang tahu dan ia hanya mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya, walaupun bukan itu arti sebenarnya.

Ani dengan mudah mengenali meja itu, meja yang sudah diberi identitas untuk mengikuti try out UN siang nanti. Bunga itu persis ia letakkan di laci dengan surat bertuliskan terima kasih dan sesegera mungkin menuju kelas.
  
Tapi berhari-hari tidak ada tanda-tanda Ibrah mendatanginya seperti hanya berucap sama-sama. Membuat Ani khawatir dan akhirnya nekat mendatangi Evelyn dan menanyakan di mana Ibrah.

“Harusnya aku curiga kau menyukainya, dia sakit berhari-hari sejak kecelakaan itu.” Seakan menjawab keterkejutannya, Evelyn melanjutkan, “Di penghujung semester satu, ia ditemukan memar dan luka di sekujur tubuhnya di sekitar Taman, aku juga tidak mengerti kenapa ia sering sekali ke tempat itu. Beruntung setelah itu liburan, dan dia dirawat di Rumah Sakit Metta Medika selama dua minggu, kadang-kadang dia masuk, kadang sakit dan harus pulang.”  

Seakan ada sayatan pisau yang begitu dalam dan membuat hatinya remuk tergores. Saat itu ia berada di Taman bersama Lutfi dan bahkan tidak melihat Ibrah. Air matanya ingin bercucuran akibat tertohok sakit di sekujur tubuhnya.  
“Lutfi, apa kau pernah mengirim bunga padaku?” tanya Ani sehari setelah kejadian itu.
“Belum. Tapi mungkin nanti aku akan mengirimnya,” jawab Lutfi tersenyum tulus. Dunia seakan hambar dan jantungnya seakan mati. Ibrah dan si pengirim mawar terus menghantuinya, membuat wajahnya kusut memikirkan semua kemungkinkan. Ia ingin menjenguk Ibrah, tapi ia tahu ia bukan siapa-siapa. “Ani, aku tahu siapa orangnya.”

Tanpa berlama-lama, Ani menyuruh Lutfi mengantarkannya pada orang itu. Sampai hawa rumah sakit menusuk hidungnya, menandakan bahwa pengirim itu tidak sedang baik-baik saja.  

Dan tepat saat ia berada di balik ruangan itu, laki-laki itu terbaring pucat dengan impus yang melekat di tangannya.  

“Ibrahim Reynaldi, laki-laki itu adalah dirinya.” Seketika tangis Ani tumpah dan terduduk begitu saja serta bersandar di bahu Lutfi yang menenangkannya. Kekesalannya terhadap Ibrah mencair begitu saja, ketakutan luar biasa akan kenyataan bahwa Ibrah tak akan pernah bangun lagi.
Teringat akan bunga mawar itu, ia akhirnya berlari menuju Taman dan mencabut satu bunga dan mengantarkannya pada Ibrah. Tepat di samping kasurnya saat suster memberikan izin untuk menemuinya.  

“Aku membencimu Ibrah, di hari pertama kita bertemu dan kau meninggalkanku, aku membencimu karena kau selalu mengirim mawar itu tanpa menunjukkan identitasmu, aku benci kau tidak pernah menatap mataku lagi,” katanya parau sambil menangis. “Dan akhirnya membuatku harus mengirim kembali bunga itu untuk berterima kasih atas semuanya.”


Tiba-tiba dunia seakan berhenti saat laki-laki terdengar bersusah payah mengeluarkan suaranya. Ibrah menggerakkan tangannya sambil berkata, “Kau mengirimku bunga?”

Ani yang semula menangis akhirnya bahagia mendengar bahwa Ibrah masih baik-baik saja. Bahkan setelah kejadian itu, Ibrah semakin membaik, dan semakin dekat pula dengan Ani sampai Ibrah lulus dan kuliah di Universitas favorit.  

“Kau tahu kenapa aku mengirimimu bunga mawar?” tanya Ibrah di bandara sebelum ia berangkat menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

“Aku juga tidak tahu bagaimana mungkin kau ingin menjadikanku bagian dari hidupmu padahal aku baru mengenalmu,” jawab Ani.

Sambil tesenyum, Ibrah melengkapi kebahagiaannya dengan menjawab semua keraguan yang sedari dulu ia tanyakan dengan  berkata, “Awalnya itu hanya sebuah tantangan, saat seseorang menginjak kulit pisang itu, aku harus mengiriminya bunga, dan aku mengambilnya dari namamu, tapi rasa penasaranku semakin timbul saat kau tidak memarahiku padahal aku sengaja meninggalkanmu, dan aku mulai cemburu dengan Lutfi, sampai akhirnya kau memberiku semangat hari itu, aku yakin kau akan menungguku untuk menjadi bagian dari hidupmu. Anita Mawar Rahmadani, aku ingin kau tahu bahwa, aku juga mencintaimu.” 
Dan sepenggal mawar itu menjadi saksi bisu bagaimana cinta itu bermula.
Continue reading →

Final Destiny

5 comments

               


 “AAAAAA,” pekiknya lagi. Gadis berdandan itu lagi-lagi bermimpi. Berteriak dan membangunkan seisi keluarga. “Tidak bisakah Lisa tidur di gudang saja, Bu?” tanya Ara selaku kakak kandung Lisa yang sekamar dengannya. 

                Keluarga yang sederhana. Tidak pernah harmonis dan tidak pernah tertawa. Bahkan keramahan tidak sedikitpun tercermin di anggota keluarga itu, kecuali Lisa. Sayangnya, hanya Lisa pula yang sering bermimpi buruk di keluarga itu. Kebiasaannya yang sering berdandan saat tidur dijadikan alasan penyebab mimpi itu. 

                “Mimpi datang seperti tiupan angin, berkilau sangat lembut, membuat suara desisan kecil, bersenandung seperti musik--,” laki-laki itu memberi jeda saat Lisa mengangkat tangan tepat di depannya.

                “Dan bagaimana bila itu mimpi buruk?” tanya Lisa berkaca-kaca. Laki-laki itu bernama Reynaldi, kakak kelas yang begitu terobsesi dengan mimpi dan sering mengisi ruang kelas yang kosong. “Look at what you have done and there be no forgiveness,” jawab Rey. 

                Awal perjumpaan yang membuat Lisa dan Rey dekat hingga sekarang, tertawa bersama, dan tidak ada kesedihan di mata Lisa maupun Rey di tiap harinya. Sampai hari itu datang. Rey pergi meninggalkan Lisa untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa kabar dan ia harus menahan perih selama satu tahun terakhir di sekolahnya.

                Satu kali Lisa mulai menangis menumpahkan semua sakit hatinya. Dan mimpi buruk yang selalu mendatanginya pun tiba-tiba menghilang digantikan tidur lelap akibat tangisan yang menyiksanya.

                “Kau tidak mendengarkan kami,Nak,” ucap ibunya.

                “Mendengarkan? Sejak kapan ibu peduli? Tanpa Rey sekali pun, aku sudah merasa kehilangan kalian semua,” kata Lisa sambil mengusap air matanya yang tidak pernah berhenti di saat ia terjaga sejak kepergian Rey dua minggu yang lalu.

                Ayah, Ibu dan Ara tertegun. Sesaat mereka berpandangan untuk kemudian memeluk Lisa dan mengutarakan rasa penyesalan satu sama lain. Kehilangan akan menyakitkan apabila kita merasa dipermainkan takdir, sebaliknya bila kita tabah dan menganggap bahwa ini takdir yang baik, kita akan menyadari arti kehilangan sesungguhnya.

Continue reading →
Wednesday, 16 October 2019

Penari Kartini [the End]

8 comments
Keesokan harinya, aku sampai setengah tujuh karena hujan dan terlihat Tika dan Tami sedang dimakeup. Ada sebagian yang disanggul, dan sebagian lagi mengganti baju. Aku dan Zahra yang agak terlambat disuruh mengganti baju yang tersisa dua. 

“Aduh, kok sesek ya, gak bisa dikancing aku Lis,” ujar Zahra sedih. Aku kecewa dengan perlakuan mereka yang tanpa bertanya memilih baju ukuran yang sama. Begitu pun denganku, bajuku sangat sempit bahkan lebih sempit dari Zahra. Sedangkan mereka semua sudah nyaman dengan baju tanpa mau mencoba baju yang lain lagi.

“Aduh, ya sudahlah kalau tidak muat, nanti rusak pula bajunya,” kata Tami selaku penanggung jawab baju. Aku benar-benar kesal dan kecewa dengan perlakuan mereka di hari H. 

“Itu sudah paling besar loh,” kata Kak Iin selaku penyewa baju tari.

“Kalau gitu, kalian gak usah nari aja. Kan pas dua, satu pasangan,” ujar Tami yang sontak membuatku geram.

Lantas selama ini kami latihan terus menerus sia-sia karena fitting baju yang sesuka hati? Harusnya jika sudah tahu akan ada ukuran yang tidak pas kenapa kami masih dipaksa ikut menari?

“Gak bisa gitu dong mi, formasinya pasti berantakan,” kata Kak Putri.

“Mereka ini di bagian belakang kok kak, jadi tidak kelihatan,” balas Tami lagi.

Dan aku baru sadar, sejak saat kami diberhentikan, mereka semua diam, bahkan Sari sendiri yang mengajakku tidak berucap sepatah kata pun. Dan dengan lapang dada aku mengganti bajuku dan melepas manset kulitnya karena ternyata tidak dipakai.

Tidak ada satu pun yang menghentikan kami atau setidaknya minta maaf saat kami pamit meninggalkan ruangan itu. Bagaikan dihujam pisau, kecewaku sangat luar biasa adanya. Tapi aku tetap tersenyum bahkan saat setelah keluar dari acara itu, semua orang bertanya kenapa aku tidak jadi ikut menari. Aku malu luar biasa, sudah banyak waktu kukorbankan untuk latihan, tapi ternyata disambut seperti itu. 

Tapi berlarut-larut hanya akan memaksimalkan luka. Hingga aku dan Zahra memutuskan untuk kembali masuk ke acara dan mengisi absen serta duduk di bangku paling atas agar tidak kelihatan. Dan kami menyaksikan tarian yang kami sudah paham betul gerakannya. Zahra yang sudah menceritakan pada Kris dan Anna perihal itu langsung mengatakan agar kami sabar.

“Semua ada hikmahnya,” kata Kris sambil menepuk pundakku yang kubalas dengan senyuman.
Setelah acara itu selesai, semua penari berfoto bersama dan aku bahkan tidak sanggup untuk menyapa mereka. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyemangati mereka dengan senyuman dan menjaga stand robotikku untuk mencari kesibukan. Sedangkan Zahra pulang, dia tidak sanggup berbicara lantaran kecewa, emosi, bercampur aduk menjadi satu.

Aku berada di acara itu hingga sore, Sari melihatku dan berusaha tersenyum, dan akhirnya menghampiriku.

“Marah ya?” tanya Sari yang kujawab dengan gelengan.

Setelah mendengar jawabanku dia pun pergi bersama panitia acara lainnya, sedangkan aku pulang dan berusaha melupakan semua kejadian yang kualami hari ini. Bahwa jika kita tidak berhati besar dan menjadi pemaaf, kita bukanlah bagian “habislah gelap terbitlah terang” yang pernah diutarakan Kartini. Bahwa apa yang terjadi pasti selalu ada hikmahnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Continue reading →
Tuesday, 15 October 2019

Penari kartini [Chapter 2]

0 comments

Akan tetapi, di era millenial ini aku sadar, bahwa perempuan semakin di depan, bahwa Kartini berhasil membuat perempuan tidak tertindas sehingga kartini masa kini sudah bisa turut andil dalam pembuatan robot dan hal menantang lainnya. Apalagi aku tahu bahwa aku berada di jurusan yang identik dengan laki-laki, yakni teknik elektro di mana dipelajari energi, telekomunikasi, dan komputerisasi.

“Aku memilih keluar IoT saja,” ucapku pada teman setimku hari ini saat di grup studi. Karena pada akhirnya aku harus memilih apa yang menjadi prioritas. Apalagi sejak banyak agenda yang harus kulakukan, aku harus mengorbankan salah satunya. Dan aku lebih memilih menekuni dan memfokuskan lomba di bidang Line Followerku.Walaupun lomba itu diadakan tiga bulan lagi.
Setelah aku melakukan pertemuan dengan rekan timku, aku merasakan getaran handphoneku berulang-ulang, dan terlihat panggilan tak terjawab dari Tami dan Sari. 

Aku membalas pesan mereka dan secepatnya menyusul ke tempat latihan, dan ternyata semuanya sudah lengkap kecuali aku. Aku pun mengambil posisi setelah sebelumnya menaruh tas.

“Duh, telat lagi. Kapan sih kita gak nunggu kekgini,” kata Tika tepat di depanku. Aku tidak tahu maksudnya menyindirku atau bukan, yang pasti aku sangat kesal mendengar ucapannya yang seolah dia tidak pernah izin saja. Aku hanya diam setelah dia mengutarakan itu.

“Kamu kemana aja sih, ditelfon terus kok gak aktif, kamu tahu gak sih, sebelum kamu datang, semuanya membicarakan kamu dari A sampai Z,” kata Zahra di dekatku saat aku duduk di belakang. Aku hanya membalasnya sambil tertawa dan bersikap acuk tak acuh. 

Aku kecewa dengan sikap mereka yang tidak bisa konsisten, apalagi Sari yang kuanggap sahabat ternyata paling semangat membicarakanku. Dan dia masih mengajakku tertawa setelah memperlakukanku seperti itu. Tika dan Lia yang membeli perlengkapan baju untuk besok pun datang dan latihan dimulai lagi.

Tepat jam enam sore, akhirnya latihan itu selesai dan aku pulang tanpa berpamitan. Egoku memang terlalu tinggi, tapi memang itulah yang sedang kurasakan. Zahra yang seperti mengerti perasaanku pun akhirnya mengantarku pulang. Sekaligus dia juga pulang mengambil baju untuk menginap karena akan diadakan gladi resik sampai malam.

“Di mana Lis? Agak cepat.” Aku kembali mematikan handhphone yang terus mengusikku saat di jalan. Sari menelponku berulang kali sambil marah-marah tapi tidak kujawab sama sekali.
Setelah sampai di koridor Industri tempat latihan menari yang disaksikan oleh senior perempuan lainnya, mereka menatapku tajam dan menyalahkanku, aku juga tidak melihat adanya Zahra. Dan ternyata semua orang membicarakan Zahra atas dirinya yang belum hadir. Sampai saat itu aku sadar, kita tidak pernah benar di mata orang lain saat kita melakukan satu kesalahan.

“Haduh ini dia,” ucap Manda.
“Dari mana aja sih? Lama kali,” balas Tika.
“Kamu aja loh yang ditunggu daritadi,” balas Nisa lagi selaku penanggung jawab.
Tapi Zahra seperti orang kesal datang sambil berkata, “Aku bad mood, tolong ya, ada yang barusan terjadi.” Dan tanpa diduga, Sari melontarkan kata yang membuat Zahra sontak menangis, “Semua orang badmood, gak kamu aja, harusnya mengertilah.” 

Malam itu setelah latihan berakhir, aku dan Zahra sholat, dan dia menceritakan perihal bagaimana dia maupun dua sahabatnya, Kris dan Anna tidak jadi tampil di PITE lantaran panitia tidak tepat waktu memberikan informasi. Kris pulang dengan berjalan kaki setelah tahu tidak ada orang sama sekali di Gelanggang Mahasiswa –tempat acara- untuk melaksanakan gladi resik.

Aku menenangkannya dan berusaha mengajaknya untuk tetap ikut gladi resik. Kami berangkat berdua naik grab menuju Gelanggang Mahasiswa. Dan sesampainya di sana, Sari dan teman yang lain masih makan. Latihan baru dimulai sekita jam sembilan malam. Barulah sekitar jam sebelas malam diperbolehkan pulang, tidur, dan datang besok paling lama jam lima pagi untuk dimakeup.

Keesokan harinya, aku sampai setengah tujuh karena hujan dan terlihat Tika dan Tami sedang dimakeup. Ada sebagian yang disanggul, dan sebagian lagi mengganti baju. Aku dan Zahra yang agak terlambat disuruh mengganti baju yang tersisa dua. 

***
to be continue
Continue reading →
Monday, 14 October 2019

Penari Kartini

6 comments


“Kakak gak mau tahu ya, waktu PITE satu bulan lagi, dan kalian harus tampil semaksimal mungkin,” ujar perempuan hitam manis itu. Aku menghela napas berada di ruangan sempit nan panas itu.
PITE adalah singkatan dari Pekan Ilmiah Teknik Elektro. Diperuntukkan bagi semua mahasiswa yang ada di universitas namun merupakan event tahunan di jurusan teknik elektro sendiri. Dan perempuan hitam manis itu adalah Nanda, lebih tua dua tahun dariku tapi memiliki paras dan badan seperti mahasiswa baru.

Bukan suatu hal baru ketika ada acara pasti ada hiburan, dan itu pula yang terjadi padaku. Awalnya aku hanya diam ketika diadakan rapat antar perempuan itu, tapi temanku Sari menawarkanku untuk menjadi kontributor dalam hiburan menari.

“Terakhir kali aku menari sewaktu TK, loh,” ujar Karin yang alasannya persis sama denganku. Namun kata-kata itu langsung disanggah oleh senior lainnya dengan mengatakan itu adalah hal yang wajar, dan perlahan juga akan tahu.

Lagi-lagi aku hanya menghela napas lantaran kesal alasan secuil apa pun tidak diterima, apalagi aku sadar bahwa jumlah perempuan di jurusan ini juga terbatas. Sari yang merupakan sahabatku berharap aku ikut dalam kelompok menari yang dilatih olehnya, dan dengan terpaksa menghargai keputusan sahabatku, aku pun mengikutinya.

Setidaknya yang paling disesali dari kegiatan ini adalah latihan. Apalagi menyelaraskan waktu sesama perempuan lain untuk latihan. Terkadang aku yang menghilang, kadang Tika yang hilang, dan kadang juga Tami. Selama latihan, tidak pernah kedelapan orang itu lengkap.

“Nanti sehabis ujian kita latihan ya,” kata Sari. Lagi-lagi aku hanya diam membaca info di grup Line itu. Terkadang aku jenuh, bosan dengan aturan-aturan yang dibuat bahkan oleh sahabatku sendiri. Lama-lama aku sadar bahwa memang setiap orang pasti akan berubah sifatnya saat diberi amanah atau pertanggungjawaban lantaran menjadi koordinator sekaligus pelatih tari.

“Coba telfon lagi, atau kita lanjut bertiga aja?” tanya Sari. Aku pun mengangguk mantap, karena menunggu yang tidak pasti hanya menunda waktu. Hanya ada aku, Zahra, dan Sari. Kami berlatih Tari Persembahan itu di Ruang K,  salah satu ruang andalan ketika ada kegiatan rapat atau jam ganti dengan dosen.

Seterusnya hanya ada selalu beberapa orang, sampai ada yang mengundurkan diri dan minta digantikan, yakni Karin. Karin tidak bisa ikut menari karena sangat sibuk dan ada yang lebih penting dikerjakan, oleh karena itu, Karin meminta Adis untuk menggantikannya.

Adis maupun Manda jarang sekali datang ketika latihan. Tidak hanya itu, Tika, Lia juga sering izin karena ada hal yang dikerjakan. Kadang terbesit di benakku kenapa aku tidak mundur saja, toh juga tidak pernah kompak. Belum lagi saat waktu berlalu, dan ujian di depan mata, selama tiga minggu ujian dan pulang dipercepat, pasti selalu ada alasan untuk tidak datang latihan padahal hari H sudah di depan mata.

Acara PITE diadakan di akhir bulan April, sedangkan persiapan latihan di  pertengahan bulan tidak sampai empat puluh persen. Masih banyak gerakan yang salah, kurang kompak dan lain sebagainya. Padahal gerakannya tidak terlalu susah dan mudah dipahami.
 
“Nanti sehabis zuhur, latihan ya,” kata Sari setidaknya dua kali dalam satu minggu untuk proses latihan. Tapi selalu saja tidak lengkap, apalagi sejak lab sudah berlangsung. Lab adalah sebutan bagi praktikum yang dilaksanakan di tiap mata kuliah yang setidaknya memiliki tiga sks. Lab biasanya memang memakan waktu banyak dibanding jadwal kuliah dengan dosen, apalagi mengumpulkan kelompok dengan lengkap yang notabene kebanyakan laki-laki.

Sampai pada saat setelah pemilu pun, aku pulang kampung ke Sibolga, bertemu dengan keluarga walaupun hanya selama tiga hari. Dan aku hampir melupakan semua gerakan tarian itu. Sehingga setelah kembali ke Kota Medan, tepatnya ke kampus lagi, Sari kembali mendesak jadwal latihan dilaksanakan setiap hari. 

Sesaat itu, aku jenuh, belum lagi aku harus mengerjakan tugas pembuatan sensor robot Line Followerku yang ada di UKM lain, dan pengembangan IoT (Internet of Things) yang ada di grup pembelajaran lainnya. Mungkin dulunya, perempuan hanya identik dengan hal semacam sastra, komunikasi, dan tidak untuk belajar robotik. 

***
to be continue
Continue reading →
Saturday, 12 October 2019

Hijrah Awal Yang Baik

1 comments


“Kau sangat cantik.” Gadis bernama Fani itu lagi-lagi bersemu merah dan tersenyum ramah. Semua orang yang menyapanya selalu membicarakan betapa cantik dirinya, Arfani Ramadhani.

Tapi, seorang laki-laki sangat membencinya, laki-laki itu bernama Anggara Wiguna. Seorang mahasiswa yang terkenal karena pandai berbicara di fakultasnya.

“Fan, besok presentasi ‘kan? Maaf ya, aku tidak bisa beberapa kali datang untuk membantu, nenekku sakit,” kata Farah yang kebetulan sekelompok dengan Fani.

Fani hanya tersenyum sambil menggeleng dan berkata, “tidak apa-apa, cepat sembuh nenekmu ya.” Farah tersenyum balik sambil mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi. Dan karena itu pula, Fani dibicarakan karena pengertiannya.

Keesokan harinya, Fani mempresentasikannya dengan sangat sempurna. Bahkan dosen juga terpukau dengan bakat yang Fani punya, kecakapannya, dan tanggap dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Tapi tidak dengan yang satu itu, Anggara menanyakan pertanyaan terakhir yang bertubi-tubi jawabannya. Saat Fani menjawab, Anggara tidak pernah setuju sampai waktu perkuliahan itu benar-benar selesai.

Annisa yang mulai penasaran akhirnya bertanya, “Ada apa dengan kau dan Fani?” Anggara hanya menghela napas dan membuang wajah menatap Fani.

Awalnya itu terasa biasa saja, lama kelamaan Fani sadar, ada yang aneh dengan Anggara sejak presentasi itu. Ada sesuatu yang pasti dibenci Anggara dari dirinya. Melihat semua orang sangat menyukainya, membuat Fani sadar, bahwa masih banyak orang-orang yang lebih tidak menyukaimu tapi tidak memperlihatkannya, dan Anggara bukan salah satu dari mereka.

“Anggara ‘kan?” sapa Fani saat berada di kantin fakultas. Sebelum kelas selanjutnya dimulai, Fani memberanikan diri untuk duduk di sebelah Anggara.

Bahkan sampai beberapa menit ke depan, Anggara hanya melahap makanannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Fani. Bahkan saat makanan itu habis dan Anggara membayar pesanannya, Fani tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

Sejak saat itu pula, Fani tidak pernah menghiraukan ucapan semua orang. Fani hanya memikirkan sikap Anggara. Annisa yang merupakan sahabat Fani selalu berusaha mencari tahu masalah Anggara pada Fani, tapi Anggara selalu pergi bila ditanya tentang hal itu.

“Dia Anggara, setiap kali aku menyapanya, dia selalu mengalihkan pandangannya, seperti dia menghindariku, menurut Bunda, apa yang salah denganku?” tanya Fani pada Bundanya saat makan malam.

“Tidak ada yang salah, Nak, Bunda yakin bukan kamu masalahnya, sekarang habiskan makananmu,” jawab ibunya. Pembicaraan itu terhenti ketika ayahnya pulang dengan seorang laki-laki yang kira-kira sebaya dengan Fani.

Namanya, Erlangga Aditya, sepupu Fani dari Aceh Singkil. Erlangga datang bersama tantenya, tapi hanya ia yang menginap di sini. Selepas pembicaraan itu, Fani pergi ke kamarnya.

Keesokan paginya, Erlangga terlihat memanaskan motor dan menunggu seseorang, lebih tepatnya Fani. Ayahnya memberi amanah pada Erlangga agar menjaga Fani. Karena jarak yang cukup jauh ke kampus, Fani mencoba bertanya tentang hal yang sama perihal Anggara.

“Aku juga jika jadi Anggara, pasti tidak akan melihatmu.” Jawaban itu menggetarkan Fani, membuatnya tertohok hingga bertanya, “Kenapa?”

Sesampainya di parkiran, Erlangga akhirnya menjawab, “Lihat sekelilingmu, Fani, kau seorang muslim di Universitas ini, tapi kau masih menggerai rambut indahmu, memakai celana jeans, di daerahku tepatnya Aceh Singkil, mereka bahkan menutup wajahnya.”

Setelah mengucap kalimat itu, Erlangga pergi dengan sepeda motornya. Fani terpaku, bahkan kakinya tidak lagi sanggup berjalan. Tepat saat itu pula, Fani bertemu Anggara di koridor kampus, tanpa menoleh dan acuh tak acuh.

Semua orang seperti memakai topeng menunjukkan kebenciannya. Mereka memuji Fani yang sebenarnya menunjukkan penghinaan. Dan sejak saat itu pula, pandangan Fani berubah. Fani lebih pendiam dan membuat semua orang bertanya-tanya.

Hingga beberapa minggu kemudian, penampilan Fani berubah. Semua orang membicarakannya, dari mulai hijab yang Fani kenakan, rok panjang bak seorang muslimah, dan sepatu kets yang biasa dikenakannya berubah menjadi sepatu pancus dengan kaos kaki berwarna oranye layaknya stocking.
“Ada apa dengannya?”
“Apa yang terjadi padanya?”
“Kenapa dia berhijab?”

Tapi tak satu pun tahu apa penyebabnya. Dan sekarang, Anggara tersenyum menatapnya. Karena beberapa hari yang lalu, sejak Fani berubah jadi pendiam, Anggara berkata, “Aku tahu kau tersadar sesuatu, aku yakin kau berpikir aku membencimu, tapi Fani, aku hanya menjaga pandanganku, kau terlalu mengumbar auratmu, dan kau bergaul dengan orang-orang yang salah.”

Selepas itu, Fani akhirnya tahu bahwa itu dinamakan hijrah. Anggara hijrah menjaga pandangannya dari setiap wanita, ternyata bukan hanya dia saja. Dan sekarang, Fani juga memutuskan untuk berhijrah. Mulai dari hijrah penampilan, perilaku, bahkan Fani juga menolak mengobrol dengan laki-laki lewat chat hanya karena tidak ingin saling mengungkapkan perasaan kecuali bila itu menyangkut tugas kuliah.

Semua orang tidak pernah memuji Fani lagi, cadar yang ia kenakan, menutupi wajahnya. Semua akunnya diprivate, bahkan Fani menghapus seluruh fotonya tanpa hijab di sosial media, berhenti mengikuti artis-artis yang membuat zina mata.

Fani lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid dan mendengarkan ceramah. Pernah ia mendengar ustadz berkata, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Begitulah isi surah At-Taubah ayat 20.”

“Hijrah memiliki dua makna. Ada hijrah secara makna (ma’nawiyyah) dan ada hijrah secara fisik (makaniyyah). Hijrah secara makna adalah hijrah kepribadian, dari keadaan pribadi sebelumnya kepada keadaan pribadi yang lebih baik secara lahir dan batin. Adapun hijrah secara fisik adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain yang situasinya lebih baik.”

Fani tidak pernah malu berhijrah, bahkan semenjak itu terjadi, semakin banyak orang yang salut dengannya, meminta pendapat, bahkan semua yang ia kerjakan semakin mudah. Allah memang memberikan kemudahan bagi yang berhijrah dengan diri mereka sendiri.

“Aku tahu ini akan menjadi perjalanan panjang bagimu, tapi aku yakin kau bisa, kau berhijrah, aku pun hijrah, jadikanlah ini hijrah kita bersama, aku akan selalu menemanimu jika kau membutuhkanku.” Anggara berlalu pergi setelah memberikan nasehat itu.
Anisa yang sebelumnya selalu bertanya, akhirnya mengerti, dan mencoba untuk berhijab walau belum sepenuhnya hijrah. Sedangkan Afni, perempuan yang dulunya dikucilkan karena sendirian berhijab, akhirnya mulai bergaul dengan Fani.

Orang-orang akan tahu siapa dia lewat teman-temannya. Bahkan saat Afni ditembak oleh seorang mahasiswa bernama Ali yang sebenarnya juga Afni sukai, tetap ditolaknya, dan sekarang hijrah itu melekat di diri mereka masing-masing. Ada saatnya orang berubah, dan inilah waktu bagi mereka.
“Hijrah kita. Awal baru yang lebih baik.” Mereka tersenyum sambil tertawa membuat semua orang nyaman melihatnya.



Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)