1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
Want to Read?
Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...
Featured 2
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..
Featured 4
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Featured 4
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Featured 5
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Seindah Kunang-Kunang [The End]
1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
Truth or Dare [End]
Pertanyaan itu bukan untukku, melainkan untuk Murni. Karena sekarang dia terduduk menatap ketakutan padaku. Murni menutup mata sembari berkata, "Malam di mana aku melihat Sinta dan Usai berdua, mereka membicarakanku yang terlalu memohon cinta pada Usai. Padahal nyatanya, mereka saling mencintai. Sinta merelakan perasaannya seolah Usai memang memilihku padahal nyatanya ini semua adalah rekayasa. Aku juga tahu bahwa satu-satunya yang mencintaiku hanya Dide. Tapi Dide juga merelakan perasaannya pada Usai. Aku adalah benalu di sini, bukan?"
Aku tertegun. Murni ternyata mengetahui perjumpaan malam itu, awal dari semua kisah adalah memang karena Usai menyukaiku dan aku juga menyukainya hanya saja aku selama ini berpura-pura. "Dan aku mengetahui alasan kenapa kalian hanya berdua di sini, itu karena kau ingin merayakan ulang tahun dia kan, Usai?" tanya Murni sembari membentak.
Dide menunduk perlahan, berusaha menenangkan Murni. Tapi Murni menepisnya, dan melanjutkan, "Dide, kau pikir aku tidak tahu karena siapa orang tua Usai bertengkar. Karena mereka mendengar darimu bahwa Usai sering kali dibully di sekolah, dipukul, itu karena orang tuanya tidak mendidik dia dengan benar, padahal nyatanya, kaulah yang menyebabkan Usai dibully.
Aku tertegun kembali, ini permainan yang sangat tidak adil. Ini sangat di luar akal pikiran manusia, bagaimana sosok itu bisa tahu detail apa saja yang terjadi antara semuanya. Aku kemudian menutup mata dan memegang tangan Usai jika sewaktu-waktu ada yang terjadi, juga menggenggam tangan Dide. Berada di antara mereka dan Murni di hadapanku walaupun aku tidak bisa melihat eskpresi wajahnya.
"Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh pembuatnya, sebutkan nama panjangnya."
Suara itu datang lagi, muncul dan membuat semua menoleh saat lampu itu akhirnya hidup, dan hanya satu orang yang bersuara, "Namaku, Dide Karisma."
Murni menatap sekeliling dan akhirnya terjatuh pingsan. Aku menenangkan Usai yang hendak memukul Dide karena kutukan itu berasal darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu sampai sebuah sosok bisa menghampirinya. Tepat saat itu ayah Usai dan ibuku benar-benar datang dan memeluk kami berdua. Aku memeluknya erat, walaupun dalam hati terasa sakit.
Ibuku dan ayah Usai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Sedangkan Dide masih tidak berkutik, dia hanya menggumam sembari berkata, "Aku tidak tahu sosok apa itu, dia seolah mengikutiku, sekali aku memainkan permainan itu bersama temanku, sosok itu mengikutinya, sama seperti itu mengikuti kalian. Maafkan aku, karena aku juga tidak ingin terkena kutukan itu."
Murni kemudian bangun, dan meminum segelas air putih sembari Dide di sampingnya menatap dengan tulus. Usai dan aku di sisi lain juga merasa khawatir terhadap Murni. Murni menatapku lama dan akhirnya memelukku. Mengucap penyesalan akan semua yang terjadi, mengucapkan belasungkawa juga terhadap Usai, dan mengucapkan permintaan maaf karena tidak pernah menyadari kehadiran Dide.
Malam itu, malam terpanjang menuju Halloween. Menyisakan beberapa kenangan, untuk tidak memainkan permainan di luar akal itu. Aku dan Usai memutuskan untuk tetap merasakan perasaan yang sama hingga akhirnya tiba sementara Murni dan Dide juga menjadi sahabat sampai Murni bisa menerimanya. Permainan termudah, tapi kemudian menjadi tersulit karena teka-teki iu ternyata lebih rumit dari yang seharusnya. :")
***
Tulisan ini fiktif oleh penulis dan merupakan tantangan pekan akhir untuk RWC ODOP BATCH 7. Selamat Membaca. :)
Truth or Dare [4]
"Dare or Dare? Bukankah permainannya antara Truth or Dare?" Aku bertanya tapi tidak ada jawaban. Sampai seseorang lagi mengetuk, dan kukenali suara berat di balik pintu sana. Dide, sahabat kecilku yang kutahu menyukai Murni sejak pertama kali aku memperkenalkan mereka. Sayangnya, Murni lebih memilih Usai.
"Aku ke sini ingin mengabarkan sesuatu, Ibumu Sin, babak belur, katanya seseorang memukulnya." Dide membuat jantungku berdebar lagi, sakit sekali rasanya. Aku ingin pulang, aku harus meninggalkan mimpi buruk ini.
Namun belum sempat aku beranjak, pintu itu tertutup dan sulit rasanya dibuka. Seolah suara itu sangat dekat sekali, dia masih menyuruhku memilih Dare. Jika aku tidak menjawab selama satu menit, sesuatu akan terjadi padaku. Aku memilih untuk tidak percaya dan masih berkutat melawan pintu sampai Usai akhirnya bersuara dan menyuruhku untuk melakukan Dare sebelum semuanya berakhir tragis.
"Dare," ucapku. Akhirnya suara itu menghilang, tapi tidak untuk beberapa saat karena kemudian dia datang lagi dan membawakan tantangan yang di luar dugaanku. Dia menyuruhku untuk menampar Usai seperti sakit hatiku pada ayahnya. Jika kau bersikap lembut, maka aku berbohong dan aku tidak ingin sesuatu terjadi.
Murni melihatku dengan berkaca-kaca, sedangkan Dide memegang bahuku agar tak kulakukan hal keji itu. Dan tanpa kusadari, tanganku melayang dan menampar Usai dengan sangat keras sampai Usai terbaring dan Murni mengusap pipinya yang merah.
Dide yang melihat kejadian sadis itu akhirnya berontak dan menyuruh sosok itu bertanya pada dirinya. Dia tidak percaya dengan hal itu sampai, suara itu datang lagi dan menyuruhnya memilih antara Truth atau Dare. Dide tidak menjawab apa pun, dia bahkan menantang sosok itu untuk datang sembari dia memegang pisau sewaktu-waktu ingin membunuh.
Tapi beberapa detik kemudian, Dide malah mengarahkan pisau itu ke dirinya sendiri seolah ingin membunuh. Aku tidak membiarkan itu terjadi, aku menahan pisau itu sekuat yang kubisa dan akhirnya membuangnya. Dide termenung, dan akhirnya sadar bahwa permainan itu tidak main-main. Itu bukan lagi suatu permainan.
"Ceritakan kejadian seminggu yang lalu saat berada di jembatan. Akan kucabut kutukannya."
Truth or Dare [3]
"Sinta. Buka pintunya!" Suara ketukan itu mengagetkanku sekaligus berdiri dan membukanya, karena aku tahu persis suara siapa dibalik itu, Murni. Pacar Usai sekaligus sahabatku jauh sebelum aku bertemu dengan Usai. "Ada apa?" lanjutnya.
Aku hanya menariknya masuk dan menyuruhnya duduk. Sementara Usai masih berkutat dengan telepon genggam itu. Tanpa berlama-lama dia akhirnya memilih Truth. Tidak ada jawaban di telepon itu sampai kemudian suara itu muncul lagi, tapi lebih besar seolah dekat dengan kami bertiga.
"Apa yang kau lakukan kemarin malam?"
Usai tertegun. Matanya seperti ketakutan akan jawaban jika berbohong. Murni akhirnya memegang bahunya, dan menyuruhnya agar tenang dan menjawab.
"Aku memukul ayahku, sebab dia kutemukan bersama perempuan lain di ruangan ini," ujar Usai sembari menangis dan membuatku tertegun. Permainan ini bukan permainan sembarangan lagi, ini dapat membongkar semua peristiwa atau aib yang kita sembunyikan. Tapi nyatanya, aku pun tidak tahu apa dampak jika kami tidak menjawabnya dengan jujur.
"Jujurlah, atau malam ini akan jadi malam terakhir kalian."
Usai kemudian menahan tangisnya lagi, dan melanjutkan keseluruhan ceritanya. "Aku memukul ayahku, dan kutemukan dia bersama ibumu, Sinta."
Napasku tak terkendali, aku ingin pingsan saat itu juga, sampai Murni akhirnya menangkapku dan menenangkanku. Dia menyuruhku untuk tetap berpikiran positif bahwa yang terjadi bukan seperti yang diketahui oleh sosok itu. Aku benci permainan ini, aku tidak ingin lagi mendengar omong kosong ini. Aku memutuskan untuk beranjak dan menghidupkan lampu seolah saklar itu tidak ada yang mengendalikan.
Sekali aku menaikkan arah saklarnya lalu yang kuketahui sedetik kemudian adalah, lampu itu turun dan membuatnya mati lagi. Diselingi pertanyaan yang baru, Dare or Dare?
Truth or Dare[2]
"Truth or Dare? Pilih."
Truth or Dare [1]
"Boo!" Aku mengagetkannya malam itu, tepat 30 Oktober di hari ulang tahunku. Dia yang masih ketakutan dan sangat anti dengan Halloween, tapi aku tanpa rasa bersalah mendatangi rumahnya. Beberapa menit dia tidak menggubrisku, bahkan menghela napas untuk jengkel pun tidak ada sama sekali. Ekspresinya datar, dan aku yang jadi takut malam ini.
Kemudian dia berdiri dan menyalakan komputernya, seperti mencari sesuatu dan aku masih melihat gerak-geriknya dari belakang. Dan tidak berapa lama, aku mendengar suaranya tertawa terbahak-bahak layaknya orang kesurupan. Aku berusaha untuk tetap biasa saja, tapi suasana semakin mencengkam, aku akhirnya lari menuju pintu keluar. Sayangnya, langkahku tak secepat langkahnya, karena saat ini, di rumah itu hanya ada kami berdua. Dan dia sedang menatapiku yang sedang jantungan.
"Takut, ya?" tanyanya dengan senyum sumringah disusul oleh tawanya yang menggema di rumah itu. Persis saat itulah baru aku menarik napas dengan lega. Berapa kali aku memukulinya dan membuat dia memekik kesakitan. Tidak setimpal dengan jantungku yang berkejar-kejaran. "Gitu aja takut," balasnya.
Aku memilih untuk diam dan menyeduh tehku. Sedangkan dia terus menerus meminta maaf padaku. Beberapa kali aku melihatnya merasa bersalah, padahal aku sudah memaafkannya. Lagi pula salahku juga yang memancing dia duluan. "Satu syarat," ujarku.
Dia kemudian duduk di sampingku sembari mengiyakan. Aku langsung mengeluarkan catatanku dan menulis Truth or Dare di beberapa baris itu. Truth or Dare, sebuah permainan antara kejujuran atau tantangan. Setiap pemain harus bertanya bergantian. Kebetulan karena hanya ada dua pemain, maka ini hanya antara aku dan Usai.
"Truth or Dare?"
Bulu kudukku merinding, tanganku bergetar, kami berdua bertatapan seperti orang yang melihat setan padahal tidak. Setidaknya aku tidak melihat wujudnya, karena suara itu bukan antara aku dan Usai, sebuah suara sebelum kami sempat memulainya.
Dear Raka
Love Hate
Sepenggal Mawar
“Hahaha.” Gelak tawa terdengar dari beberapa mulut anak sekolah yang hanya berjalan tanpa menghiraukan Ani yang masih duduk memijit kakinya yang memar.
Bukan sekali dua kali ia melalui hal semacam itu, melainkan berulang kali dan semakin parah. Semua orang menatap wajahnya dengan sinis seperti hendak menerkam mangsa yang kakinya sudah terluka.
Tapi, satu hal yang baru terjadi pada hari ini ialah laki-laki itu. Laki-laki berseragam putih abu-abu dengan badan kekar tinggi mengenakan pangkat tiga di dasinya, menandakan ia merupakan siswa kelas dua belas.
“Kau tidak apa?” tanya laki-laki itu padanya yang masih ternganga diam di tempatnya. Wajah laki-laki itu sangar, tapi tatapan matanya begitu menghanyutkan.
Mendengar Ani bahkan tidak berkutik, laki-laki itu pun menjentikkan jarinya agar menyadari bahwa laki-laki itu sedang bertanya padanya.
“Kau siswi kelas sepuluh, bukan? Aku bisa mengantarmu ke UKS jika kau mau.” Laki-laki itu menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangannya, membuat Ani seperti menatap malaikat yang tercipta di bumi.
Tanpa berlama-lama, Ani menyambut uluran tangan itu dengan senyum tipis namun tulus. Tangannya yang semula perih mendadak hangat saat menyentuh tangan laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata memiliki bet nama dengan tulisan Ibrah.
Jarak UKS dari tempat Ani jatuh tidak begitu jauh, sehingga dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai di UKS yang penuh dengan siswa-siswi yang malas pulang ke rumah dan memilih untuk tiduran dalam UKS yang sejuk itu.
Sekolah yang memiliki kelas yang banyak, namun fasilitas yang sedikit. Seperti kotak P3K yang bahkan sudah habis dan tidak pernah diganti. Perpustakaan yang tidak banyak memiliki buku pelajaran. Serta senioritas tinggi dengan pembullyan yang sering terjadi.
Hampir satu bulan Ani di sini dan tidak sedikit pun ada penyambutan istimewa tentang sekolah ini. Sekolah yang katanya favorit tapi tidak menghasilkan murid-murid yang memiliki sopan santun, modal pintar hingga bisa mencapai jenjang kuliah yang lebih tinggi. Itulah yang selalu disesali Ani sampai saat ini.
“Aku minta maaf mewakili Kepala Sekolah yang sampai saat ini belum melengkapi fasilitas, termasuk UKS. Jadi, jika kau tidak keberatan, biar aku antar pulang saja,” kata Ibrah dengan wajah datar namun dengan mata yang begitu tulus.
Ani lagi-lagi mengangguk dan mengikuti Ibrah menuju parkir untuk mengambil motornya segera. Tepat di saat itulah Ani merasa ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya. Ani bahkan sengaja balik menuju kelas hingga ia terpeleset hanya untuk mengambil benda itu, tapi sekarang ia melupakannya.
Secepat mungkin Ani berbalik menuju kelas dan mengambil smartphonenya yang tergeletak sembarang di atas mejanya. Terlebih lagi, lacinya sudah mendadak bersih dan tidak ada lagi bekas sampah tempat biasa teman-temannya yang lain meletakkannya.
Dan benar saja, kecurigaannya semakin timbul saat tiba-tiba setangkai bunga mawar oranye telah terpapar rapi di laci paling sudut dengan wangi yang begitu harum dan segar. Mawar terindah yang pernah Ani lihat sepanjang hidupnya.
Tiba-tiba Ani terlupa lagi akan Ibrah. Ani kembali melupakan sesuatu yang pada akhirnya menghilang. Karena Ibrah bahkan sudah tidak terlihat lagi di sepanjang parkir. Yang tersisa hanya beberapa motor berplat merah, menandakan bahwa yang masih tinggal hanya guru. Mau tidak mau, Ani terpaksa berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolahnya.
Tepat keesokan harinya, setelah Ani bersiap hendak pergi, lagi-lagi ibu dan ayahnya tidak bisa mengantarnya. Hal tersulit yang paling Ani lakukan adalah pergi naik becak dan ibu ayahnya naik mobil bersama. Bahkan apa pun keluhan Ani takkan pernah tersampaikan melihat betapa sibuk orangtuanya dalam mengurus pekerjaan.
Setibanya Ani di sekolah, ia lagi-lagi disambut dengan tatapan sinis dan kakak kelas galak yang senantiasa menghukum Ani untuk mencabut rumput, menyaring sampah dan bahkan disuruh untuk mengerjai murid-murid lain dengan menggantung tasnya bahkan jika pun ia tidak pernah terlambat.
“Hey, kau lihat tas berwarna merah itu? Cepat kau bawakan ke kelas dua belas IPA dua, katakan bahwa itu tasmu, Evelyn akan memastikannya nanti.” Greta sudah sering melakukan hal semacam ini berulang kali, membuat Evelyn merasa tidak akan pernah dihukum sepanjang hidup akan keterlambatan karena dengan mudah, ada saja siswa kelas sepuluh yang membawakan tasnya.
Dengan hati setengah paksa, Ani membawakan tas merah yang bahkan tidak bisa disebut tas karena tidak berat seakan buku tidak pernah berada di dalamnya. Tepat saat Ani berada di depan pintu, ia melihat Ibrah sedang berdiri sambil memasang dasinya. Ingin ia menyuruh Ibrah untuk meletakkan tas itu saat tiba-tiba Evelyn datang dan mengambil tas itu dan menyuruhnya untuk pergi.
Ibrah bahkan tidak memandangnya, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena meninggalkannya kemarin. Membuat ia berpikir dua kali untuk menganggap bahwa Ibrah berlaku istimewa padanya.
Bahkan pelajaran matematika kesukaannya mendadak menjadi hal paling membosankan karena pikiran tentang Ibrah yang terus mengganggunya. Hingga bel berbunyi dan lagi-lagi ia menunggu beberapa jam untuk memastikan bahwa kulit pisang tidak akan lagi membuatnya jatuh.
Seperti biasa, Ani membersihkan kelas sebelum pulang, dan lagi-lagi bunga mawar oranye itu terpapar rapi di lacinya. Membuat perhatiannya akhirnya tertuju penuh pada seseorang yang memberikan bunga mawar berwarna oranye.
“Tolong aku!” Seorang siswa menjerit ketakutan saat para senior itu mengeluarkan semua isi tasnya dan berlalu begitu saja. Pemandangan paling suram yang dapat dilihat dari kaca jendela.
Ani berjalan menuju laki-laki itu dan membantu membereskan peralatannya, kalau tidak saja bunga mawar oranye itu membuat matanya mengerling bertanya-tanya.
“Ayahku mengirim mawar ini pada ibu saat melamarnya. Berarti bahwa ayah ingin menjadi bagian dari hidup ibu. Aku bisa membawakanmu bunga ini jika kau tertarik.” Laki-laki itu tersenyum seakan menjawab pertanyaannya. “Lutfi.”
Lutfi tipe laki-laki kutu buku dan memakai kacamata. Lutfi juga mengenalkannya macam-macam bunga, dimulai dari sexy red, red passion, white avalance, pink universe, sampai voodoo, bunga oranye yang kerap menghantuinya.
Ternyata orangtua Lutfi seorang penjual bunga dan memiliki kebun bunga tersendiri yang membuat Ani semakin tertarik bersama Lutfi. Selain karena Lutfi juga kelas sepuluh, ia juga merupakan tipe laki-laki yang tidak kasar. Sampai hal itu akhirnya menjadi rumor dan kakak kelas sering menghina mereka berdua.
“Hey, kau yang bernama Ani, bukan? Jadi kau sudah berpacaran dengan Lutfi? Selamat ya.”
Ani bahkan tidak menggubris tatapan hinaan dari semua kakak kelas. Sedangkan Lutfi tetap tenang menghadapi situasi. Bahkan sampai enam bulan, Ani resmi bersahabat dengannya. Tapi sampai saat ini pula, seorang pengirim mawar itu tidak pernah Ani temukan.
Satu kali Ani tidak sengaja mendapati seorang laki-laki menyelundupkan bunga mawar itu, tapi secepat kilat pula laki-laki itu berlalu tanpa terlihat wajahnya.
“Kau beruntung, Lutfi,” kata Ani pelan saat Lutfi mengajaknya ke Taman yang penuh dengan bunga saat di penghujung semester satu sebelum mereka sama-sama berlibur.
“Tidak ada orang yang beruntung Ani, kau menganggap mereka beruntung hanya karena kau berpikir bahwa hidupmu tidak seperti yang kau bayangkan, banyak orang yang ingin bertukar tempat denganmu, dan kau ingin bertukar tempat dengan orang lain, kadang hidup sekejam itu, Ani,” balas Lutfi sambil tersenyum dan menghirup wangi bunga yang menyengat.
“Kau ingin bertukar tempat denganku?” tanya Ani.
“Hanya jika aku perempuan sepertimu, aku mau,” jawab Lutfi sambil berjalan dan memetik setangkai bunga mawar oranye. “Berikan pada seseorang yang kau yakin kau ingin memilikinya.”
Ani menerima mawar oranye itu sambil tersenyum dan akhirnya terpikir pada seseorang yang pertama kali menolongnya, seseorang dengan mata teduh layaknya malaikat, dan pergi menghilang seperti hantu, seseorang yang bernama Ibrah.
Senin itu, Ani sengaja datang pagi sekali dan berencana menaruh mawar oranye itu ke laci Ibrah. Ani yakin tidak akan ada seorang pun yang tahu dan ia hanya mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya, walaupun bukan itu arti sebenarnya.
Ani dengan mudah mengenali meja itu, meja yang sudah diberi identitas untuk mengikuti try out UN siang nanti. Bunga itu persis ia letakkan di laci dengan surat bertuliskan terima kasih dan sesegera mungkin menuju kelas.
Tapi berhari-hari tidak ada tanda-tanda Ibrah mendatanginya seperti hanya berucap sama-sama. Membuat Ani khawatir dan akhirnya nekat mendatangi Evelyn dan menanyakan di mana Ibrah.
“Harusnya aku curiga kau menyukainya, dia sakit berhari-hari sejak kecelakaan itu.” Seakan menjawab keterkejutannya, Evelyn melanjutkan, “Di penghujung semester satu, ia ditemukan memar dan luka di sekujur tubuhnya di sekitar Taman, aku juga tidak mengerti kenapa ia sering sekali ke tempat itu. Beruntung setelah itu liburan, dan dia dirawat di Rumah Sakit Metta Medika selama dua minggu, kadang-kadang dia masuk, kadang sakit dan harus pulang.”
Seakan ada sayatan pisau yang begitu dalam dan membuat hatinya remuk tergores. Saat itu ia berada di Taman bersama Lutfi dan bahkan tidak melihat Ibrah. Air matanya ingin bercucuran akibat tertohok sakit di sekujur tubuhnya.
“Lutfi, apa kau pernah mengirim bunga padaku?” tanya Ani sehari setelah kejadian itu.
“Belum. Tapi mungkin nanti aku akan mengirimnya,” jawab Lutfi tersenyum tulus. Dunia seakan hambar dan jantungnya seakan mati. Ibrah dan si pengirim mawar terus menghantuinya, membuat wajahnya kusut memikirkan semua kemungkinkan. Ia ingin menjenguk Ibrah, tapi ia tahu ia bukan siapa-siapa. “Ani, aku tahu siapa orangnya.”
Tanpa berlama-lama, Ani menyuruh Lutfi mengantarkannya pada orang itu. Sampai hawa rumah sakit menusuk hidungnya, menandakan bahwa pengirim itu tidak sedang baik-baik saja.
Dan tepat saat ia berada di balik ruangan itu, laki-laki itu terbaring pucat dengan impus yang melekat di tangannya.
“Ibrahim Reynaldi, laki-laki itu adalah dirinya.” Seketika tangis Ani tumpah dan terduduk begitu saja serta bersandar di bahu Lutfi yang menenangkannya. Kekesalannya terhadap Ibrah mencair begitu saja, ketakutan luar biasa akan kenyataan bahwa Ibrah tak akan pernah bangun lagi.
“Aku membencimu Ibrah, di hari pertama kita bertemu dan kau meninggalkanku, aku membencimu karena kau selalu mengirim mawar itu tanpa menunjukkan identitasmu, aku benci kau tidak pernah menatap mataku lagi,” katanya parau sambil menangis. “Dan akhirnya membuatku harus mengirim kembali bunga itu untuk berterima kasih atas semuanya.”
Tiba-tiba dunia seakan berhenti saat laki-laki terdengar bersusah payah mengeluarkan suaranya. Ibrah menggerakkan tangannya sambil berkata, “Kau mengirimku bunga?”
Ani yang semula menangis akhirnya bahagia mendengar bahwa Ibrah masih baik-baik saja. Bahkan setelah kejadian itu, Ibrah semakin membaik, dan semakin dekat pula dengan Ani sampai Ibrah lulus dan kuliah di Universitas favorit.
“Kau tahu kenapa aku mengirimimu bunga mawar?” tanya Ibrah di bandara sebelum ia berangkat menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
“Aku juga tidak tahu bagaimana mungkin kau ingin menjadikanku bagian dari hidupmu padahal aku baru mengenalmu,” jawab Ani.
Sambil tesenyum, Ibrah melengkapi kebahagiaannya dengan menjawab semua keraguan yang sedari dulu ia tanyakan dengan berkata, “Awalnya itu hanya sebuah tantangan, saat seseorang menginjak kulit pisang itu, aku harus mengiriminya bunga, dan aku mengambilnya dari namamu, tapi rasa penasaranku semakin timbul saat kau tidak memarahiku padahal aku sengaja meninggalkanmu, dan aku mulai cemburu dengan Lutfi, sampai akhirnya kau memberiku semangat hari itu, aku yakin kau akan menungguku untuk menjadi bagian dari hidupmu. Anita Mawar Rahmadani, aku ingin kau tahu bahwa, aku juga mencintaimu.” Dan sepenggal mawar itu menjadi saksi bisu bagaimana cinta itu bermula.
Final Destiny
Keluarga yang sederhana. Tidak pernah harmonis dan tidak pernah tertawa. Bahkan keramahan tidak sedikitpun tercermin di anggota keluarga itu, kecuali Lisa. Sayangnya, hanya Lisa pula yang sering bermimpi buruk di keluarga itu. Kebiasaannya yang sering berdandan saat tidur dijadikan alasan penyebab mimpi itu.
“Mimpi datang seperti tiupan angin, berkilau sangat lembut, membuat suara desisan kecil, bersenandung seperti musik--,” laki-laki itu memberi jeda saat Lisa mengangkat tangan tepat di depannya.
“Dan bagaimana bila itu mimpi buruk?” tanya Lisa berkaca-kaca. Laki-laki itu bernama Reynaldi, kakak kelas yang begitu terobsesi dengan mimpi dan sering mengisi ruang kelas yang kosong. “Look at what you have done and there be no forgiveness,” jawab Rey.
Awal perjumpaan yang membuat Lisa dan Rey dekat hingga sekarang, tertawa bersama, dan tidak ada kesedihan di mata Lisa maupun Rey di tiap harinya. Sampai hari itu datang. Rey pergi meninggalkan Lisa untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa kabar dan ia harus menahan perih selama satu tahun terakhir di sekolahnya.
Satu kali Lisa mulai menangis menumpahkan semua sakit hatinya. Dan mimpi buruk yang selalu mendatanginya pun tiba-tiba menghilang digantikan tidur lelap akibat tangisan yang menyiksanya.
“Kau tidak mendengarkan kami,Nak,” ucap ibunya.
“Mendengarkan? Sejak kapan ibu peduli? Tanpa Rey sekali pun, aku sudah merasa kehilangan kalian semua,” kata Lisa sambil mengusap air matanya yang tidak pernah berhenti di saat ia terjaga sejak kepergian Rey dua minggu yang lalu.
Ayah, Ibu dan Ara tertegun. Sesaat mereka berpandangan untuk kemudian memeluk Lisa dan mengutarakan rasa penyesalan satu sama lain. Kehilangan akan menyakitkan apabila kita merasa dipermainkan takdir, sebaliknya bila kita tabah dan menganggap bahwa ini takdir yang baik, kita akan menyadari arti kehilangan sesungguhnya.
Penari Kartini [the End]
“Aduh, kok sesek ya, gak bisa dikancing aku Lis,” ujar Zahra sedih. Aku kecewa dengan perlakuan mereka yang tanpa bertanya memilih baju ukuran yang sama. Begitu pun denganku, bajuku sangat sempit bahkan lebih sempit dari Zahra. Sedangkan mereka semua sudah nyaman dengan baju tanpa mau mencoba baju yang lain lagi.
“Aduh, ya sudahlah kalau tidak muat, nanti rusak pula bajunya,” kata Tami selaku penanggung jawab baju. Aku benar-benar kesal dan kecewa dengan perlakuan mereka di hari H.
“Itu sudah paling besar loh,” kata Kak Iin selaku penyewa baju tari.
“Kalau gitu, kalian gak usah nari aja. Kan pas dua, satu pasangan,” ujar Tami yang sontak membuatku geram.
Lantas selama ini kami latihan terus menerus sia-sia karena fitting baju yang sesuka hati? Harusnya jika sudah tahu akan ada ukuran yang tidak pas kenapa kami masih dipaksa ikut menari?
“Gak bisa gitu dong mi, formasinya pasti berantakan,” kata Kak Putri.
“Mereka ini di bagian belakang kok kak, jadi tidak kelihatan,” balas Tami lagi.
Dan aku baru sadar, sejak saat kami diberhentikan, mereka semua diam, bahkan Sari sendiri yang mengajakku tidak berucap sepatah kata pun. Dan dengan lapang dada aku mengganti bajuku dan melepas manset kulitnya karena ternyata tidak dipakai.
Tidak ada satu pun yang menghentikan kami atau setidaknya minta maaf saat kami pamit meninggalkan ruangan itu. Bagaikan dihujam pisau, kecewaku sangat luar biasa adanya. Tapi aku tetap tersenyum bahkan saat setelah keluar dari acara itu, semua orang bertanya kenapa aku tidak jadi ikut menari. Aku malu luar biasa, sudah banyak waktu kukorbankan untuk latihan, tapi ternyata disambut seperti itu.
Tapi berlarut-larut hanya akan memaksimalkan luka. Hingga aku dan Zahra memutuskan untuk kembali masuk ke acara dan mengisi absen serta duduk di bangku paling atas agar tidak kelihatan. Dan kami menyaksikan tarian yang kami sudah paham betul gerakannya. Zahra yang sudah menceritakan pada Kris dan Anna perihal itu langsung mengatakan agar kami sabar.
“Semua ada hikmahnya,” kata Kris sambil menepuk pundakku yang kubalas dengan senyuman.
Setelah acara itu selesai, semua penari berfoto bersama dan aku bahkan tidak sanggup untuk menyapa mereka. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyemangati mereka dengan senyuman dan menjaga stand robotikku untuk mencari kesibukan. Sedangkan Zahra pulang, dia tidak sanggup berbicara lantaran kecewa, emosi, bercampur aduk menjadi satu.
Aku berada di acara itu hingga sore, Sari melihatku dan berusaha tersenyum, dan akhirnya menghampiriku.
“Marah ya?” tanya Sari yang kujawab dengan gelengan.
Setelah mendengar jawabanku dia pun pergi bersama panitia acara lainnya, sedangkan aku pulang dan berusaha melupakan semua kejadian yang kualami hari ini. Bahwa jika kita tidak berhati besar dan menjadi pemaaf, kita bukanlah bagian “habislah gelap terbitlah terang” yang pernah diutarakan Kartini. Bahwa apa yang terjadi pasti selalu ada hikmahnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Penari kartini [Chapter 2]
“Aku memilih keluar IoT saja,” ucapku pada teman setimku hari ini saat di grup studi. Karena pada akhirnya aku harus memilih apa yang menjadi prioritas. Apalagi sejak banyak agenda yang harus kulakukan, aku harus mengorbankan salah satunya. Dan aku lebih memilih menekuni dan memfokuskan lomba di bidang Line Followerku.Walaupun lomba itu diadakan tiga bulan lagi.
Setelah aku melakukan pertemuan dengan rekan timku, aku merasakan getaran handphoneku berulang-ulang, dan terlihat panggilan tak terjawab dari Tami dan Sari.
Aku membalas pesan mereka dan secepatnya menyusul ke tempat latihan, dan ternyata semuanya sudah lengkap kecuali aku. Aku pun mengambil posisi setelah sebelumnya menaruh tas.
“Duh, telat lagi. Kapan sih kita gak nunggu kekgini,” kata Tika tepat di depanku. Aku tidak tahu maksudnya menyindirku atau bukan, yang pasti aku sangat kesal mendengar ucapannya yang seolah dia tidak pernah izin saja. Aku hanya diam setelah dia mengutarakan itu.
“Kamu kemana aja sih, ditelfon terus kok gak aktif, kamu tahu gak sih, sebelum kamu datang, semuanya membicarakan kamu dari A sampai Z,” kata Zahra di dekatku saat aku duduk di belakang. Aku hanya membalasnya sambil tertawa dan bersikap acuk tak acuh.
Aku kecewa dengan sikap mereka yang tidak bisa konsisten, apalagi Sari yang kuanggap sahabat ternyata paling semangat membicarakanku. Dan dia masih mengajakku tertawa setelah memperlakukanku seperti itu. Tika dan Lia yang membeli perlengkapan baju untuk besok pun datang dan latihan dimulai lagi.
Tepat jam enam sore, akhirnya latihan itu selesai dan aku pulang tanpa berpamitan. Egoku memang terlalu tinggi, tapi memang itulah yang sedang kurasakan. Zahra yang seperti mengerti perasaanku pun akhirnya mengantarku pulang. Sekaligus dia juga pulang mengambil baju untuk menginap karena akan diadakan gladi resik sampai malam.
“Di mana Lis? Agak cepat.” Aku kembali mematikan handhphone yang terus mengusikku saat di jalan. Sari menelponku berulang kali sambil marah-marah tapi tidak kujawab sama sekali.
Setelah sampai di koridor Industri tempat latihan menari yang disaksikan oleh senior perempuan lainnya, mereka menatapku tajam dan menyalahkanku, aku juga tidak melihat adanya Zahra. Dan ternyata semua orang membicarakan Zahra atas dirinya yang belum hadir. Sampai saat itu aku sadar, kita tidak pernah benar di mata orang lain saat kita melakukan satu kesalahan.
“Haduh ini dia,” ucap Manda.
“Kamu aja loh yang ditunggu daritadi,” balas Nisa lagi selaku penanggung jawab.
Malam itu setelah latihan berakhir, aku dan Zahra sholat, dan dia menceritakan perihal bagaimana dia maupun dua sahabatnya, Kris dan Anna tidak jadi tampil di PITE lantaran panitia tidak tepat waktu memberikan informasi. Kris pulang dengan berjalan kaki setelah tahu tidak ada orang sama sekali di Gelanggang Mahasiswa –tempat acara- untuk melaksanakan gladi resik.
Aku menenangkannya dan berusaha mengajaknya untuk tetap ikut gladi resik. Kami berangkat berdua naik grab menuju Gelanggang Mahasiswa. Dan sesampainya di sana, Sari dan teman yang lain masih makan. Latihan baru dimulai sekita jam sembilan malam. Barulah sekitar jam sebelas malam diperbolehkan pulang, tidur, dan datang besok paling lama jam lima pagi untuk dimakeup.
Keesokan harinya, aku sampai setengah tujuh karena hujan dan terlihat Tika dan Tami sedang dimakeup. Ada sebagian yang disanggul, dan sebagian lagi mengganti baju. Aku dan Zahra yang agak terlambat disuruh mengganti baju yang tersisa dua.
Penari Kartini
PITE adalah singkatan dari Pekan Ilmiah Teknik Elektro. Diperuntukkan bagi semua mahasiswa yang ada di universitas namun merupakan event tahunan di jurusan teknik elektro sendiri. Dan perempuan hitam manis itu adalah Nanda, lebih tua dua tahun dariku tapi memiliki paras dan badan seperti mahasiswa baru.
Bukan suatu hal baru ketika ada acara pasti ada hiburan, dan itu pula yang terjadi padaku. Awalnya aku hanya diam ketika diadakan rapat antar perempuan itu, tapi temanku Sari menawarkanku untuk menjadi kontributor dalam hiburan menari.
“Terakhir kali aku menari sewaktu TK, loh,” ujar Karin yang alasannya persis sama denganku. Namun kata-kata itu langsung disanggah oleh senior lainnya dengan mengatakan itu adalah hal yang wajar, dan perlahan juga akan tahu.
Lagi-lagi aku hanya menghela napas lantaran kesal alasan secuil apa pun tidak diterima, apalagi aku sadar bahwa jumlah perempuan di jurusan ini juga terbatas. Sari yang merupakan sahabatku berharap aku ikut dalam kelompok menari yang dilatih olehnya, dan dengan terpaksa menghargai keputusan sahabatku, aku pun mengikutinya.
Setidaknya yang paling disesali dari kegiatan ini adalah latihan. Apalagi menyelaraskan waktu sesama perempuan lain untuk latihan. Terkadang aku yang menghilang, kadang Tika yang hilang, dan kadang juga Tami. Selama latihan, tidak pernah kedelapan orang itu lengkap.
“Nanti sehabis ujian kita latihan ya,” kata Sari. Lagi-lagi aku hanya diam membaca info di grup Line itu. Terkadang aku jenuh, bosan dengan aturan-aturan yang dibuat bahkan oleh sahabatku sendiri. Lama-lama aku sadar bahwa memang setiap orang pasti akan berubah sifatnya saat diberi amanah atau pertanggungjawaban lantaran menjadi koordinator sekaligus pelatih tari.
“Coba telfon lagi, atau kita lanjut bertiga aja?” tanya Sari. Aku pun mengangguk mantap, karena menunggu yang tidak pasti hanya menunda waktu. Hanya ada aku, Zahra, dan Sari. Kami berlatih Tari Persembahan itu di Ruang K, salah satu ruang andalan ketika ada kegiatan rapat atau jam ganti dengan dosen.
Seterusnya hanya ada selalu beberapa orang, sampai ada yang mengundurkan diri dan minta digantikan, yakni Karin. Karin tidak bisa ikut menari karena sangat sibuk dan ada yang lebih penting dikerjakan, oleh karena itu, Karin meminta Adis untuk menggantikannya.
Adis maupun Manda jarang sekali datang ketika latihan. Tidak hanya itu, Tika, Lia juga sering izin karena ada hal yang dikerjakan. Kadang terbesit di benakku kenapa aku tidak mundur saja, toh juga tidak pernah kompak. Belum lagi saat waktu berlalu, dan ujian di depan mata, selama tiga minggu ujian dan pulang dipercepat, pasti selalu ada alasan untuk tidak datang latihan padahal hari H sudah di depan mata.
Acara PITE diadakan di akhir bulan April, sedangkan persiapan latihan di pertengahan bulan tidak sampai empat puluh persen. Masih banyak gerakan yang salah, kurang kompak dan lain sebagainya. Padahal gerakannya tidak terlalu susah dan mudah dipahami.
“Nanti sehabis zuhur, latihan ya,” kata Sari setidaknya dua kali dalam satu minggu untuk proses latihan. Tapi selalu saja tidak lengkap, apalagi sejak lab sudah berlangsung. Lab adalah sebutan bagi praktikum yang dilaksanakan di tiap mata kuliah yang setidaknya memiliki tiga sks. Lab biasanya memang memakan waktu banyak dibanding jadwal kuliah dengan dosen, apalagi mengumpulkan kelompok dengan lengkap yang notabene kebanyakan laki-laki.
Sampai pada saat setelah pemilu pun, aku pulang kampung ke Sibolga, bertemu dengan keluarga walaupun hanya selama tiga hari. Dan aku hampir melupakan semua gerakan tarian itu. Sehingga setelah kembali ke Kota Medan, tepatnya ke kampus lagi, Sari kembali mendesak jadwal latihan dilaksanakan setiap hari.
Sesaat itu, aku jenuh, belum lagi aku harus mengerjakan tugas pembuatan sensor robot Line Followerku yang ada di UKM lain, dan pengembangan IoT (Internet of Things) yang ada di grup pembelajaran lainnya. Mungkin dulunya, perempuan hanya identik dengan hal semacam sastra, komunikasi, dan tidak untuk belajar robotik.











