ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label love in silence. Show all posts
Showing posts with label love in silence. Show all posts
Thursday, 10 October 2019

Silent Love [Chapter 2]

0 comments

Aku memberhentikan diri untuk menatap ponsel itu. Berdering berkali-kali dan tertera namanya, Dinda. Jemariku rasanya tak ingin mengetik, tapi hatiku terus menggelitik. Ada perasaan bersalah karena sempat berucap ingin memutuskan Dinda di hadapan Clara. Namun aku juga tidak tahu kenapa aku sampai berucap seperti itu.

-Tidak ada apa-apa Da, besok ingin berjumpa?

-Sudah 2 jam kau mengabaikanku, sekarang kau ingin mengajakku berjumpa?

Jawaban itu sukses membuatku tersenyum. Dinda memang orang yang sangat lucu saat menggerutu, salah satu alasan kenapa aku mencintainya. Tapi aku terdengar sangat jahat karena terlalu takut untuk berterus terang tentang Clara dan aku.

Di sisi lain, sebuah notif Line membuatku kaget dan buru-buru membalasnya.

-Mau sampai kapan untuk bersembunyi? Kau ini pria. Jangan buat aku malu dengan selalu menyembunyikan antara kau dan Clara.

Namanya Leo, seorang pemain basket yang merupakan teman akrabku. Kami berteman akrab sejak pertama kali jumpa di kampus. Anaknya sangat pendiam, sampai perempuan yang menyukainya pun tak mampu mengutarakannya. Kalau pun ada, mungkin nyalinya setinggi Clara. Dan kenapa aku memikirkan Clara? Apa aku benar-benar mengharapkannya? 

"Fahmi?" Suara ibu membuatku terbangun dari lamunan. 
"Ada apa Bu?" tanyaku.
"Apa kau mengundang tamu? Kelihatannya teman ibu dan ayah tidak seimut itu."

Mataku sukses melotot dan membuatku langsung menuju pintu serta membukanya. Sesaat setelah membuka pintu, aku terbius sementara. Wajahnya tersenyum merekah, bersamaan dengan rambutnya yang basah. Tidak heran karena memang cuaca sedang hujan. Ia mengenakan kemeja merah dan jaket hitam yang aku tahu persis punya siapa.

"Fahmi 'kan?" tanyanya sambil melipat tangan seolah kedinginan.
"Raini. Calon kakak ipar," balasku sambil mengejeknya. 

Kubiarkan dia masuk dan duduk di ruang tamu sementara aku membuatkan teh untuknya. Ibuku tidak pernah tahu perempuan ini, karena aku pun mengenalnya  saat aku masih tinggal di kos abangku. Raini sebenarnya adalah teman sebayaku yang tanpa sengaja dekat dengan abangku saat kami sering menonton film bersama. 

"Raini, apa yang membawamu ke sini?" Aku masih bertanya-tanya alasan utama Raini datang. Namun sepertinya bukan yang aku harapkan, karena tiba-tiba Raini menangis dan membuat jantungku sukses berdegup kencang. Aku tidak ingin ibu sampai mengira bahwa aku yang melakukannya.

"Fahri tidak mengatakannya padamu?" tanya Raini balik yang langsung kusambut dengan gelengan. Menunggu jawaban sembari mendengar helaan napas berat yang dialami Raini. "Aku melihatnya berkencan dengan perempuan lain." 

Walaupun batinku ingin menolak jawaban itu, tapi yang aku tahu Raini tidak pernah berbohong selama aku mengenalnya. Tapi aku juga tahu Fahri tidak mungkin menyakiti perempuan dengan cara seperti itu. Raini kembali tersenyum, dan berkata, "Aku mengenal perempuan ini Fahmi, dia lebih dulu suka pada Fahri, dan ternyata Fahmi juga mencintainya." 

Deg. Jantungku berdesir, teringat dengan kejadian yang kualami hari ini. Aku hanya menatap nanar mata Raini yang penuh luka. Kubiarkan dia berpikir, sedangkan aku terus menyemangatinya. Aku juga berjanji akan menemui Fahri dan membicarakan semua ini. Aku tidak ingin ada perempuan siapa pun yang bisa disakiti dengan cara seperti itu. 

Malam itu, aku memutuskan untuk mengantarnya. Aku tidak tega jika melihatnya basah kuyup dengan pikiran sedang terombang-ambing semacam itu. Raini adalah teman yang baik, setidaknya aku mengenalnya selama SMA dan masih ingat betul di mana rumahnya. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih sedangkan aku berulang kali mengutuk abangku sendiri. 

-Baiklah, aku menyerah, Aku mau berjumpa denganmu. 

Astaga, aku sampai lupa membalas pesan Dinda.
***
Continue reading →
Wednesday, 11 September 2019

Silent Love

38 comments
"Aneh rasanya saat seorang perempuan menyatakan perasaannya padaku, kali pertama aku melihat rapuhnya hati"



"Aku menyukaimu," ucap perempuan itu dengan air mata. Ia menatapku pilu, mengharapkan setitik rasa kasihanku untuk membalas perasaannya. Namun tak ada sedikit pun rasaku untuknya.

Ia kemudian mundur saat paham mengartikan senyum pahit yang terlukis di bibirku. Benar, aku memang tidak mencintaimu. Dan tanpa sadar kata itu keluar dari mulutku. 

"Tak pernahkah aku layak mendapatkan perhatian itu? Apakah aku salah jika menyukai pacar sahabatku sendiri yang seharusnya itu menjadi milikku? Aku lebih dulu kenal kamu, Fahmi." Aku tidak tega saat ia mengucapkan kata itu sembari meneteskan air mata. 

Aku tidak ingin semuanya berakhir buruk, apalagi aku tahu Dinda akan sangat marah ketika sahabatnya menangis karena ulahku. Tapi aku juga tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karenaku. Mungkin benar, ini semua salahku yang terlalu larut akan situasi. 

Aku dan Clara -perempuan itu- sudah bersahabat sejak lama. Tapi aku tidak pernah tahu perasaannya hingga beranjak SMA, dan saat itu pula Dinda membuatku berbunga-bunga. Tingkah konyolnya, cerianya, sangat berbeda dengan Clara yang kalem dan mencintaiku dalam diam.

Aneh rasanya saat seorang perempuan menyatakan perasaannya padaku, kali pertama aku melihat rapuhnya hati Clara yang kutahu seorang yang kuat. "Bodohnya aku," ucapku tanpa sadar.

"Sejak kapan?" Tanyaku pada Clara. 

"Kelas dua SMP." Clara menjawab dengan lirih.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Saat Alvi bercerita tentang perempuan yang menyukaiku dan selalu menghiburku dengan buku ceritanya. Tapi aku tidak pernah sadar bahwa itu Clara. Katanya, tawaku itu menular. 

"Aku akan memutuskan Dinda," ujarku spontan. 

Tiba-tiba Clara mendekati dan menamparku hanya dalam hitungan detik. "Apa kau gila?" Tanyanya. Aku mengerling bertanya-tanya, apa sebenarnya maunya. 

"Aku hanya ingin tau perasaanmu, aku ingin menyatakannya sejak dulu tapi aku sudah terlambat. Dan aku tidak ingin menyesal lagi sekarang," jawab Clara yang seolah membaca pikiranku. 

Dan detik itu pula, aku hanya terpaku. Melihat Clara berjalan membelakangiku dengan perasaan campur aduk, begitu pula dengan pikiranku yang bertanya-tanya perihal apa yang baru saja terjadi. 

Sampai akhirnya aku mendapatkan beberapa pesan dari pengirim yang sama dan cukup membuat jantungku berdesir hebat. Harusnya sedari awal aku sudah tahu, ada sepasang mata tak sengaja mengetahui peristiwa itu.

  • "Ada apa dengan kalian?"
  • "Jawab."
  • "Hello?"
  • "Apa kau mnyakitinya? Atau klian yng sdang mnyakitiku?"

***
#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost







Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)