ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Penari. Show all posts
Showing posts with label Penari. Show all posts
Wednesday, 16 October 2019

Penari Kartini [the End]

8 comments
Keesokan harinya, aku sampai setengah tujuh karena hujan dan terlihat Tika dan Tami sedang dimakeup. Ada sebagian yang disanggul, dan sebagian lagi mengganti baju. Aku dan Zahra yang agak terlambat disuruh mengganti baju yang tersisa dua. 

“Aduh, kok sesek ya, gak bisa dikancing aku Lis,” ujar Zahra sedih. Aku kecewa dengan perlakuan mereka yang tanpa bertanya memilih baju ukuran yang sama. Begitu pun denganku, bajuku sangat sempit bahkan lebih sempit dari Zahra. Sedangkan mereka semua sudah nyaman dengan baju tanpa mau mencoba baju yang lain lagi.

“Aduh, ya sudahlah kalau tidak muat, nanti rusak pula bajunya,” kata Tami selaku penanggung jawab baju. Aku benar-benar kesal dan kecewa dengan perlakuan mereka di hari H. 

“Itu sudah paling besar loh,” kata Kak Iin selaku penyewa baju tari.

“Kalau gitu, kalian gak usah nari aja. Kan pas dua, satu pasangan,” ujar Tami yang sontak membuatku geram.

Lantas selama ini kami latihan terus menerus sia-sia karena fitting baju yang sesuka hati? Harusnya jika sudah tahu akan ada ukuran yang tidak pas kenapa kami masih dipaksa ikut menari?

“Gak bisa gitu dong mi, formasinya pasti berantakan,” kata Kak Putri.

“Mereka ini di bagian belakang kok kak, jadi tidak kelihatan,” balas Tami lagi.

Dan aku baru sadar, sejak saat kami diberhentikan, mereka semua diam, bahkan Sari sendiri yang mengajakku tidak berucap sepatah kata pun. Dan dengan lapang dada aku mengganti bajuku dan melepas manset kulitnya karena ternyata tidak dipakai.

Tidak ada satu pun yang menghentikan kami atau setidaknya minta maaf saat kami pamit meninggalkan ruangan itu. Bagaikan dihujam pisau, kecewaku sangat luar biasa adanya. Tapi aku tetap tersenyum bahkan saat setelah keluar dari acara itu, semua orang bertanya kenapa aku tidak jadi ikut menari. Aku malu luar biasa, sudah banyak waktu kukorbankan untuk latihan, tapi ternyata disambut seperti itu. 

Tapi berlarut-larut hanya akan memaksimalkan luka. Hingga aku dan Zahra memutuskan untuk kembali masuk ke acara dan mengisi absen serta duduk di bangku paling atas agar tidak kelihatan. Dan kami menyaksikan tarian yang kami sudah paham betul gerakannya. Zahra yang sudah menceritakan pada Kris dan Anna perihal itu langsung mengatakan agar kami sabar.

“Semua ada hikmahnya,” kata Kris sambil menepuk pundakku yang kubalas dengan senyuman.
Setelah acara itu selesai, semua penari berfoto bersama dan aku bahkan tidak sanggup untuk menyapa mereka. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyemangati mereka dengan senyuman dan menjaga stand robotikku untuk mencari kesibukan. Sedangkan Zahra pulang, dia tidak sanggup berbicara lantaran kecewa, emosi, bercampur aduk menjadi satu.

Aku berada di acara itu hingga sore, Sari melihatku dan berusaha tersenyum, dan akhirnya menghampiriku.

“Marah ya?” tanya Sari yang kujawab dengan gelengan.

Setelah mendengar jawabanku dia pun pergi bersama panitia acara lainnya, sedangkan aku pulang dan berusaha melupakan semua kejadian yang kualami hari ini. Bahwa jika kita tidak berhati besar dan menjadi pemaaf, kita bukanlah bagian “habislah gelap terbitlah terang” yang pernah diutarakan Kartini. Bahwa apa yang terjadi pasti selalu ada hikmahnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Continue reading →
Tuesday, 15 October 2019

Penari kartini [Chapter 2]

0 comments

Akan tetapi, di era millenial ini aku sadar, bahwa perempuan semakin di depan, bahwa Kartini berhasil membuat perempuan tidak tertindas sehingga kartini masa kini sudah bisa turut andil dalam pembuatan robot dan hal menantang lainnya. Apalagi aku tahu bahwa aku berada di jurusan yang identik dengan laki-laki, yakni teknik elektro di mana dipelajari energi, telekomunikasi, dan komputerisasi.

“Aku memilih keluar IoT saja,” ucapku pada teman setimku hari ini saat di grup studi. Karena pada akhirnya aku harus memilih apa yang menjadi prioritas. Apalagi sejak banyak agenda yang harus kulakukan, aku harus mengorbankan salah satunya. Dan aku lebih memilih menekuni dan memfokuskan lomba di bidang Line Followerku.Walaupun lomba itu diadakan tiga bulan lagi.
Setelah aku melakukan pertemuan dengan rekan timku, aku merasakan getaran handphoneku berulang-ulang, dan terlihat panggilan tak terjawab dari Tami dan Sari. 

Aku membalas pesan mereka dan secepatnya menyusul ke tempat latihan, dan ternyata semuanya sudah lengkap kecuali aku. Aku pun mengambil posisi setelah sebelumnya menaruh tas.

“Duh, telat lagi. Kapan sih kita gak nunggu kekgini,” kata Tika tepat di depanku. Aku tidak tahu maksudnya menyindirku atau bukan, yang pasti aku sangat kesal mendengar ucapannya yang seolah dia tidak pernah izin saja. Aku hanya diam setelah dia mengutarakan itu.

“Kamu kemana aja sih, ditelfon terus kok gak aktif, kamu tahu gak sih, sebelum kamu datang, semuanya membicarakan kamu dari A sampai Z,” kata Zahra di dekatku saat aku duduk di belakang. Aku hanya membalasnya sambil tertawa dan bersikap acuk tak acuh. 

Aku kecewa dengan sikap mereka yang tidak bisa konsisten, apalagi Sari yang kuanggap sahabat ternyata paling semangat membicarakanku. Dan dia masih mengajakku tertawa setelah memperlakukanku seperti itu. Tika dan Lia yang membeli perlengkapan baju untuk besok pun datang dan latihan dimulai lagi.

Tepat jam enam sore, akhirnya latihan itu selesai dan aku pulang tanpa berpamitan. Egoku memang terlalu tinggi, tapi memang itulah yang sedang kurasakan. Zahra yang seperti mengerti perasaanku pun akhirnya mengantarku pulang. Sekaligus dia juga pulang mengambil baju untuk menginap karena akan diadakan gladi resik sampai malam.

“Di mana Lis? Agak cepat.” Aku kembali mematikan handhphone yang terus mengusikku saat di jalan. Sari menelponku berulang kali sambil marah-marah tapi tidak kujawab sama sekali.
Setelah sampai di koridor Industri tempat latihan menari yang disaksikan oleh senior perempuan lainnya, mereka menatapku tajam dan menyalahkanku, aku juga tidak melihat adanya Zahra. Dan ternyata semua orang membicarakan Zahra atas dirinya yang belum hadir. Sampai saat itu aku sadar, kita tidak pernah benar di mata orang lain saat kita melakukan satu kesalahan.

“Haduh ini dia,” ucap Manda.
“Dari mana aja sih? Lama kali,” balas Tika.
“Kamu aja loh yang ditunggu daritadi,” balas Nisa lagi selaku penanggung jawab.
Tapi Zahra seperti orang kesal datang sambil berkata, “Aku bad mood, tolong ya, ada yang barusan terjadi.” Dan tanpa diduga, Sari melontarkan kata yang membuat Zahra sontak menangis, “Semua orang badmood, gak kamu aja, harusnya mengertilah.” 

Malam itu setelah latihan berakhir, aku dan Zahra sholat, dan dia menceritakan perihal bagaimana dia maupun dua sahabatnya, Kris dan Anna tidak jadi tampil di PITE lantaran panitia tidak tepat waktu memberikan informasi. Kris pulang dengan berjalan kaki setelah tahu tidak ada orang sama sekali di Gelanggang Mahasiswa –tempat acara- untuk melaksanakan gladi resik.

Aku menenangkannya dan berusaha mengajaknya untuk tetap ikut gladi resik. Kami berangkat berdua naik grab menuju Gelanggang Mahasiswa. Dan sesampainya di sana, Sari dan teman yang lain masih makan. Latihan baru dimulai sekita jam sembilan malam. Barulah sekitar jam sebelas malam diperbolehkan pulang, tidur, dan datang besok paling lama jam lima pagi untuk dimakeup.

Keesokan harinya, aku sampai setengah tujuh karena hujan dan terlihat Tika dan Tami sedang dimakeup. Ada sebagian yang disanggul, dan sebagian lagi mengganti baju. Aku dan Zahra yang agak terlambat disuruh mengganti baju yang tersisa dua. 

***
to be continue
Continue reading →
Monday, 14 October 2019

Penari Kartini

6 comments


“Kakak gak mau tahu ya, waktu PITE satu bulan lagi, dan kalian harus tampil semaksimal mungkin,” ujar perempuan hitam manis itu. Aku menghela napas berada di ruangan sempit nan panas itu.
PITE adalah singkatan dari Pekan Ilmiah Teknik Elektro. Diperuntukkan bagi semua mahasiswa yang ada di universitas namun merupakan event tahunan di jurusan teknik elektro sendiri. Dan perempuan hitam manis itu adalah Nanda, lebih tua dua tahun dariku tapi memiliki paras dan badan seperti mahasiswa baru.

Bukan suatu hal baru ketika ada acara pasti ada hiburan, dan itu pula yang terjadi padaku. Awalnya aku hanya diam ketika diadakan rapat antar perempuan itu, tapi temanku Sari menawarkanku untuk menjadi kontributor dalam hiburan menari.

“Terakhir kali aku menari sewaktu TK, loh,” ujar Karin yang alasannya persis sama denganku. Namun kata-kata itu langsung disanggah oleh senior lainnya dengan mengatakan itu adalah hal yang wajar, dan perlahan juga akan tahu.

Lagi-lagi aku hanya menghela napas lantaran kesal alasan secuil apa pun tidak diterima, apalagi aku sadar bahwa jumlah perempuan di jurusan ini juga terbatas. Sari yang merupakan sahabatku berharap aku ikut dalam kelompok menari yang dilatih olehnya, dan dengan terpaksa menghargai keputusan sahabatku, aku pun mengikutinya.

Setidaknya yang paling disesali dari kegiatan ini adalah latihan. Apalagi menyelaraskan waktu sesama perempuan lain untuk latihan. Terkadang aku yang menghilang, kadang Tika yang hilang, dan kadang juga Tami. Selama latihan, tidak pernah kedelapan orang itu lengkap.

“Nanti sehabis ujian kita latihan ya,” kata Sari. Lagi-lagi aku hanya diam membaca info di grup Line itu. Terkadang aku jenuh, bosan dengan aturan-aturan yang dibuat bahkan oleh sahabatku sendiri. Lama-lama aku sadar bahwa memang setiap orang pasti akan berubah sifatnya saat diberi amanah atau pertanggungjawaban lantaran menjadi koordinator sekaligus pelatih tari.

“Coba telfon lagi, atau kita lanjut bertiga aja?” tanya Sari. Aku pun mengangguk mantap, karena menunggu yang tidak pasti hanya menunda waktu. Hanya ada aku, Zahra, dan Sari. Kami berlatih Tari Persembahan itu di Ruang K,  salah satu ruang andalan ketika ada kegiatan rapat atau jam ganti dengan dosen.

Seterusnya hanya ada selalu beberapa orang, sampai ada yang mengundurkan diri dan minta digantikan, yakni Karin. Karin tidak bisa ikut menari karena sangat sibuk dan ada yang lebih penting dikerjakan, oleh karena itu, Karin meminta Adis untuk menggantikannya.

Adis maupun Manda jarang sekali datang ketika latihan. Tidak hanya itu, Tika, Lia juga sering izin karena ada hal yang dikerjakan. Kadang terbesit di benakku kenapa aku tidak mundur saja, toh juga tidak pernah kompak. Belum lagi saat waktu berlalu, dan ujian di depan mata, selama tiga minggu ujian dan pulang dipercepat, pasti selalu ada alasan untuk tidak datang latihan padahal hari H sudah di depan mata.

Acara PITE diadakan di akhir bulan April, sedangkan persiapan latihan di  pertengahan bulan tidak sampai empat puluh persen. Masih banyak gerakan yang salah, kurang kompak dan lain sebagainya. Padahal gerakannya tidak terlalu susah dan mudah dipahami.
 
“Nanti sehabis zuhur, latihan ya,” kata Sari setidaknya dua kali dalam satu minggu untuk proses latihan. Tapi selalu saja tidak lengkap, apalagi sejak lab sudah berlangsung. Lab adalah sebutan bagi praktikum yang dilaksanakan di tiap mata kuliah yang setidaknya memiliki tiga sks. Lab biasanya memang memakan waktu banyak dibanding jadwal kuliah dengan dosen, apalagi mengumpulkan kelompok dengan lengkap yang notabene kebanyakan laki-laki.

Sampai pada saat setelah pemilu pun, aku pulang kampung ke Sibolga, bertemu dengan keluarga walaupun hanya selama tiga hari. Dan aku hampir melupakan semua gerakan tarian itu. Sehingga setelah kembali ke Kota Medan, tepatnya ke kampus lagi, Sari kembali mendesak jadwal latihan dilaksanakan setiap hari. 

Sesaat itu, aku jenuh, belum lagi aku harus mengerjakan tugas pembuatan sensor robot Line Followerku yang ada di UKM lain, dan pengembangan IoT (Internet of Things) yang ada di grup pembelajaran lainnya. Mungkin dulunya, perempuan hanya identik dengan hal semacam sastra, komunikasi, dan tidak untuk belajar robotik. 

***
to be continue
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)