ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Friendship. Show all posts
Showing posts with label Friendship. Show all posts
Thursday, 19 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Series]

4 comments


“Hahaha.” Gelak tawa mengiringi setiap perjalanan laki-laki itu. Laki-laki culun dengan kacamata dan kemeja kotak-kotak yang selalu mengisi hari-harinya.

Terkadang, semua orang menatap dengki wajahnya, dan selalu terasingkan di lingkungan fakultasnya sendiri.

“Apa kau baik-baik saja?” sapaku saat dia duduk termenung di koridor kampus.

Ambo ndak papo, Lisa1,” jawabnya. Aku bahkan tidak tahu bahwa ia mengenalku.

Aku melihat buku yang dia pegang, tertulis di sampulnya sebuah nama yang kutebak namanya.

“Reynaldi Iswan? Kau barusan bicara bahasa apa?” tanyaku penasaran. Seolah ia terkejut karena aku tahu namanya, ia pun menjelaskan.

Bahasa yang dipakainya adalah bahasa Sibolga. Aku tidak pernah tahu bahasa Sibolga juga menggunakan vokal “o” seperti Minang. Tapi logat Reynaldi sejauh yang kuketahui sangat berbeda dengan logat orang Minang biasanya.

Ambo balum lancar bana bahaso Indonesia disiko2,” ucapnya. Aku paham maksudnya, ia berusaha mengatakan bahwa ia belum lancar berbahasa Indonesia, tapi tidak ada yang mau mengajarinya.

Seperti seolah semua temannya menjauhinya, padahal Reynaldi bukan orang yang bodoh seperti yang kutelusuri, bahkan mungkin ia lebih pintar dari orang-orang yang mencemoohnya.

Kali itu, untuk pertama kalinya, Reynaldi tertawa dan bicara beratus kata dari sebelumnya.

“Kau orang yang baik, Rey,” ungkapku sambil menyalam tangannya sembari pergi sesaat senyum di hadapannya.

Belum beberapa menit aku menjauh, sebuah telur mendarat di kepalanya. Gelak tawa menjijikkan kembali terdengar di telingaku. Ingin kuhampiri, tapi Rey sendiri sudah pergi, tersisa sekumpulan laki-laki yang aku tidak tahu dari mana asalnya.

“Aspek sosial budaya menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia diwarnai oleh berbagai macam perbedaan, baik perbedaan agama, suku, ras, bahasa dan kebudayaan. Kondisi sosial budaya yang demikian menjadikan kehidupan bangsa Indonesia menyimpan potensi terjadinya konflik. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa dalam kehidupan bangsa Indonesia sering terjadi konflik antar-kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan tersebut, kau belum mendengarnya?” tanyaku sembari melipatkan kedua tangan.

“Kau tidak perlu menjelaskannya, aku mengetahuinya.” Si pria berjaket biru itu mendekat dan menepuk bahuku sembari pergi.

Dongkol dengan situasi seperti ini, aku mengejarnya, dan bertanya alasan kelompok itu menjauhi Rey.

“Kau tahu, Lis, kami sangat ingin belajar dengannya, sering mengajaknya ke gereja bersama, berbagi satu sama lain, tapi ia membenci teman kami, Frans yang merupakan sepupunya, jadi, jangan pernah ikut campur pada sesuatu yang kau tidak tahu asal usulnya.” Mereka pergi. Menyisakan beribu pertanyaan yang kutahu tak akan mungkin bisa kutelusuri lagi.

***
Penulis: sulisrha
Nb: Ini adalah cerpen series yang sudah siap naskahnya jadi ditunggu ya. Untuk Silent Love akan diupdate secepatnya hehe :)

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

Continue reading →
Tuesday, 3 September 2019

BESTFRIEND [THE END]

2 comments


Well, sebenarnya banyak tulisan yang menuju deadline, tapi tanganku tidak sabar melanjutkan cerpen series ini. Karena ini merupakan episode terakhir. So, Here we go.

"You really deserves better. Jangan bertahan pada tindakan menyedihkanmu itu," (bestfriend the end)






“Menurut kamu gimana?” Pertanyaan itu sangat mengusikku. Berkali-kali aku berusaha menguntai kata agar Alina tidak sedih mendengar kenyataan menyedihkan yang aku pun bisa merasakannya. Namun berkali-kali juga Alina menepis apa yang kuucapkan, dan dengan polosnya hanya bertanya bagaimana menurutku.

Aku menarik napas perlahan, dan memegang bahu Alina seraya berkata, “Alina, aku ini sahabatmu, tidak mungkin aku berbohong padamu.”

“I don’t deserve him, you mean?” tanya Alina yang sontak membuatku cemas.

Wajah sedihnya cukup menjelaskan betapa kehilangan sosok seseorang yang sangat berarti, yang membuatku menyadari satu hal, aku telah salah menyuruh Arda untuk mundur. Ini salahku, akulah yang menyuruh Arda untuk tidak bertahan karena aku tahu Alina tidak cukup pantas untuknya.

Tapi entah mengapa saat melihat tetesan yang jatuh dari pelupuk mata perempuan itu, aku merasa menyesal dan lidahku seakan keluh untuk berterus terang, bahwa akulah penyebabnya.

Sekitar dua hari yang lalu, aku akhirnya membalas pesan Arda yang hampir tenggelam karena hanya sekali baca. Isi teksnya yang cukup menggemparkan setelah beberapa tahun ini Arda mengalah hanya untuk Alina, berusaha menerima sifat Alina yang tidak bisa komitmen, dan bermodalkan kepercayaan, Arda menerima Alina apa adanya.

Dan, aku menghancurkan kepercayaan Arda di kala itu.

Arda, you really deserves better. Jangan bertahan pada tindakan menyedihkanmu itu, aku yakin pasti Alina mengerti.”

Teks itu awalnya tidak mendapat balasan apa-apa, namun pemandangan sore tadi cukup menjelaskan semuanya. Karena saat itu, Arda sedang tertawa lepas bersama perempuan yang aku kenal merupakan sahabatnya juga, dan bahkan lebih lama dari waktu perkenalannya dengan Alina. Awalnya kupikir perempuan itu memang menyukai Arda namun Arda memilih Alina, dan sekarang sepertinya tidak ada lagi cinta bertepuk sebelah tangan di antara mereka.

Dan beberapa menit kemudian, dering telfon yang aku tahu pasti dari sakuku melepaskan pelukanku dengan Alina. Saat Alina menatap layar handphoneku, ada kemarahan tersendiri di matanya, karena si penelpon itu adalah Arda.

“Kalian ada hubungan apa?” tanya Alina pelan. Aku hanya diam, aku tidak sanggup berkata-kata dengan setiap keputusan yang kubuat.“Angkat Raini,” sambung Alina yang membuatku semakin merasa bersalah. Kuberanikan mengangkat telpon itu sambil menatap Alina.

“Raini, terima kasih ya, kamu benar, Alina pasti mengerti.” Aku terdiam sejenak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Arda. Kumatikan telpon itu dan tanpa sadar, air mataku keluar. Aku memeluk Alina dan mengucapkan penyesalanku.

“Raini, di hari saat aku curhat padamu, aku mendengar ucapanmu, dan aku tidak tidur sama sekali, aku menyesal karena sudah bersikap seenaknya. Aku yakin aku memang tidak pantas untuk Arda, dia terlalu baik padaku. Kamu tidak salah, akulah yang menyesal. Aku berterima kasih kamu sudah menyadarkanku. Apa sudah terlambat untuk memulai kembali?” tanya Alina yang cukup membuatku terbius dengan ucapannya.

Aku mengusap air mata, lalu tersenyum seraya menggeleng menyatakan bahwa semuanya belum terlambat. Seketika Alina tertawa dan membalas senyumanku. Malam itu, cukup segala kejadian memilukan itu tertanam di sana, karena setelah hari berikutnya keadaaan semakin membaik. Aku, Alina, Arda, juga Ara akhirnya memutuskan untuk bersahabat dan memulai kembali semuanya. Bahkan Alina sendiri sudah bisa menghilangkan perasaannya dan tidak mudah jatuh cinta lagi.

How about you?” tanya Arda
How about me? Seperti biasanya, hanya seorang pengamat dan penikmat,” balasku yang diiringi gelak tawa mereka.
Continue reading →
Tuesday, 9 July 2019

Ananta

2 comments


“Have u ever kissed someone?”Seseorang bertanya padanya. Lelaki itu menunggu jawaban dari perempuan berambut pirang itu. Matanya menganga lebar dan hatinya berdegup kencang. Dengan segenap kemampuannya, ia memilih untuk berbohong.

“Notyet,”ucap perempuan itu.

Setelah mereka berjalan di perempatan untuk mengerjakan tugas, laki-laki itu tak hentinya menanyakan kelanjutan cerita dari yang ia ceritakan.

“Yah, aku tahu banyak orang yang bilang enak atau gimana, tapi yah aku tidak berniat melakukannya. Punya pacar saja aku tidak pernah,”ucap Ananta, nama perempuan itu.

“Bagaimana denganmu? Apa kau punya mantan, Mike?”tanya Ananta pada laki-laki bernama Mike itu. Mike mengangguk, kemudian melanjutkan makannya.

“Hanya saja itu tak berjalan lama, dia tidak mengerti keadaanku. Bahkan sekarang hampir lost contact.

Ananta banyak bertanya perihal Mike, begitu pun dengan Mike pada Ananta. Namun, percakapan itu mendadak makin aneh setelah sampai di teras Ananta. Tiba-tiba Mike menanyakan hal yang membuat dia de javu dengan kata-kata itu.

“Ananta? Aku penasaran bagaimana rasanya ciuman, maukah kau mencobanya denganku?” Dan ia hanya terdiam sebentar untuk kemudian langsung tertawa dan menjawab dengan santai.

Bahwa ini bukan pertama kalinya seseorang mengajaknya begitu, teman SMA bahkan orang yang tidak dikenal sekali pun sering menawarkannya. Tapi dia tidak mau, sehingga itu tak menjadi masalah sama sekali.

Namun kali ini berbeda, Mike sepertinya serius dengan ucapannya. Mike bahkan rela menunggunya untuk menyatakan “iya”. Karena bagi Mike, “Jika sudah penasaran aku tidak bisa menghilangkannya.”

Saat itu, ia berusaha dengan tenang menanggapi, takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkannya. Tentu ia tidak ingin melakukan itu dengan orang yang tidak ia suka.

“Aku melakukan itu pun bukan berarti suka, cuma ya penasaran aja, tolong bantu aku.”Mike tetap memaksa. Lagi-lagi ia menjawab dengan tenang.

“MIke, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu dengan orang yang hanya penasaran. Kau bisa menghubungi mantanmu jika mau melakukan itu, dan selagi pun aku sudah sering menanggapi pertanyaan konyol semacam ini.”Ananta tersenyum sambil mengambil tasnya dan hendak masuk.

“Aku ditolak, yah.” Terdengar helaan napas Mike, tapi ia hanya tertawa sembari melambai menyatakan hati-hati. Kala itu, terbesit di pikirannya bagaimana ia menjaga hati orang yang disukainya. Orang yang benar-benar ingin ia perjuangkan, ia komitmenkan. Bahkan orang yang pernah ia bohongi tapi tetap menerimanya dengan lapang dada.

Ia tidak memiliki pacar. Tapi ia memiliki sebuah teman melebihi pacarnya, seperti adik, ayah, abang, yang bisa melindunginya. Sayangnya, orang itu bahkan tidak ada di sini, orang itu sudah menyakiti hatinya lantaran menolaknya untuk mengantarnya balik. Orang itu, adalah teman dekat dari Mike. Namanya, Rangga.

Namun, tangannya tak mampu menceritakan semua ini pada Rangga, bahkan whatsapp itu sengaja tidak diread agar mereka tidak akan bertemu lagi. Namun hati tidak pernah bohong, apalagi seharusnya ia sadar, hanya Rangga yang mampu menaklukannya.


Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)