ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Seindah Kunang-Kunang. Show all posts
Showing posts with label Seindah Kunang-Kunang. Show all posts
Thursday, 7 May 2020

Seindah Kunang-Kunang [The End]

2 comments

Saat itu, mereka berjalan memenuhi koridor, tertawa lepas sembari merangkul, perbedaan gender juga tidak membatasi, mereka melindungi sang putri dan membuat semua yang melihat tersenyum.

“Dan pada akhirnya, semua berjalan sesuai Takdir Tuhan, takdir kita adalah bersatu, saling merangkul satu sama lain dan menjadikan pengalaman menjadi guru yang terbaik, tidak ada saling mencemooh, menjelekkan, saling memfitnah dan menyalahkan, semuanya harus saling memberikan nasehat tanpa harus menjatuhkan, karena Indonesia itu satu, kesatuan itu dimulai dalam lintasan terkecil, termasuk fakultas. Setelah itu, kekuatan itu akan dengan mudah dibangun, karena hanya Indonesia yang memiliki keberagaman sebanyak itu, maka jangan pernah menghujat dan membicarakan orang lain tanpa tahu kebenarannya, karena itu yang akan memecah-belah Indonesia.”

Demikian tulisanku kembali dimuat. Hanya berisi bagian terkecil tapi sangat berarti bagi orang yang membacanya.

“Aku pernah membenci orang lain, tapi aku menanggapinya dengan caramu, dan aku malah menyukai orang itu, terima kasih atas sarannya.” Perempuan yang kutahu bernama Nadia itu tersenyum sembari menepuk pundakku. Aku bersyukur, setidaknya tulisanku bermanfaat bagi orang lain, terutama pada bangsa Indonesia sendiri.

Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti kunang-kunang yang tetap bersinar di gelapnya malam tanpa berpura-pura baik layaknya bunga mawar yang kita tahu menyimpan banyak duri di tangkainya.

***
Keterangan:
1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
2 Aku belum lancar sekali bahasa Indonesia di sini.
3 Aku takut mereka tidak mau memaafkanku.
4Aku memang belum fasih, tapi semoga aku bisa lancar, dengarkan ya.

***
Nb: Semoga dibaca semua chapternya ya, soalnya keterangan ceritanya ada di akhir :) Thankyou

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost
Continue reading →
Saturday, 21 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Chapter 3]

0 comments



“Ambo balum fasih bana, tapi ambo raso, ambo bisa lancar, dangakan yo4, untuk kalian, aku meminta maaf karena selama ini aku menjauh, seolah tak butuh kalian, padahal aku sangat menginginkan teman di sisiku, maafkan juga karena keegoisanku, aku jadi dianggap aneh, aku bukan tidak mau ke gereja bersama kalian, hanya saja, sekarang aku jadi mualaf, dan aku hanya perlu mengatakannya tanpa harus menjauhi. Aku benar-benar kehilangan jati diriku saat itu, tapi sekarang, aku bersyukur punya kalian, aku tahu kebahagiaan terbesar saat kau bisa bercengkrama dengan orang-orang yang tidak sesuku denganmu, dengan begitu kita bisa saling maju untuk ke depannya.”

Rey menutup ucapan itu dengan pelukan. Dia memang belum fasih, setidaknya dia berusaha membaca dari tulisannya sendiri walaupun sebagian merupakan ideku.

“Hm, Rey? Kau tahu Aldi dan Rico juga seorang muslim, kau bisa bertanya banyak hal pada mereka. Oh iya, aku minta maaf soal telur waktu itu, Haha,” tawa Dyo di ujung kalimatnya, Rey menggelengkan kepala seolah berkata tidak apa-apa tentang kejadian tempo hari itu.

“Di mana Frans?” tanya Rey sambil mencari keberadaan sepupunya itu.

Beberapa menit kemudian, terdengar tawa yang bersamaan, sembari Dyo berucap, “Kurasa, dia menemukan teman baru, David, yang beragama Buddha dan beberapa teman berbeda akidah lainnya, aku melihat toleransi yang begitu kuat, jadi kurasa tidak masalah jika ia mau bergabung bersama kami, atau bersama mereka, atau bisa saja kita yang akan bergabung dengan mereka.”

Aku menyadari kuatnya persahabatan mereka, toleransi beragama, suku, dan beberapa adat istiadat. Walaupun aku mengenal mereka sesaat, dan tanpa disengaja, tapi aku beruntung, setidaknya beberapa sikapku dapat mengubah salah satu jalan pikiran mereka. 

Aku yang bukan siapa-siapa, tapi bisa berbuat lebih dari apa-apa. Kekuatan itu terus tumbuh, merekah, dan tidak tertandingi luasnya. Kala itu saat kulihat, mereka berjalan bersama, aku tidak melihat Reynaldi yang culun, Dyo yang terkenal perkasa, dan kelompok yang hanya berjumlah empat orang.

***
Wait for the last chapter...

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

Continue reading →
Friday, 20 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Chapter 2]

15 comments



Belakangan kutahu namanya Dyo, dia pemimpin kelompok itu, Frans merupakan orang Karo, Dyo sendiri orang Batak, dan dua lainnya –Rico dan Aldi- sama-sama orang Minang.

Mereka selalu berempat, melihat mereka berjalan seperti melihat keberagaman Indonesia yang nyata dan sangat kuat, tapi mengapa mereka masih bisa saling membenci di tengah keragaman itu.

Indonesia sangat kaya akan keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Dengan berbagai macam suku dan agama, adat istiadat, bahasa, kepercayaan serta golongan semuanya harus bersatu padu membentuk Indonesia. Seperti wilayah Indonesia sendiri yang banyak. Tapi mengapa masih ada di antara mereka yang saling membenci? Apa yang terjadi? Tidakkah konflik itu hanya memicu disintegrasi? Dan pada akhirnya hanya siulan belaka tentang Indonesia. Serta merta semua pihak saling menuduh atas ketidakadilan yang terjadi. Lalu apa yang harusnya dilakukan? Memendam masalah bukanlah solusi, kita harus berbagi, harus bercengkrama walau tidak dengan satu akidah, walau berbeda prinsip dalam sebuah kasus, tapi kita Indonesia, kita bersatu, kita Bhinneka Tunggal Ika, tidak bisa berdiri sendiri dan kekuatan terbesar kita adalah keberagaman itu.”

Tulisanku itu dimuat secepat kilat, aku membaca pesan yang berusaha kusampaikan. Kita memang tidak bisa semudah itu percaya pada orang lain, tapi kita juga harus memahami apa yang orang lain butuhkan.

Seperti Rey, yang kutahu ia hanya butuh teman bicara, bahwa belakangan ini ayah dan ibunya bercerai karena konflik agama yang tidak sejalan, ibunya merupakan Kristen yang taat, dan ayahnya Muslim yang taat juga. Rey sendiri membenci Frans, karena ibunya menikah lagi dengan ayahnya Frans.

Rey ternyata memilih mengikuti ayahnya, dendam pada ibunya dan ia benar-benar menjauh dari yang berhubungan dengan itu.

Tapi, aku berusaha merangkulnya. Memberikan celah untuknya dan kelompok Dyo untuk kembali bisa berkomunikasi. Hingga tidak ada dendam yang masih membekas di hati Rey. 

Ambo takut sidak dak mau mamaafkan ambo3,” kata Rey dengan air muka sedihnya. 

“Kami tidak mungkin memarahimu jika kau meminta maaf,” jawab Aldi yang membuat raut wajah Rey bersinar. Kehadiran kelompok yang tiba-tiba itu menyadarkanku satu hal, jika kita memiliki niat baik, niat baik itu yang akan datang kepada kita.

***
Wair for the last chapter

#RWCOdopBacth7
#OneDayOnePost
Continue reading →
Thursday, 19 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Series]

4 comments


“Hahaha.” Gelak tawa mengiringi setiap perjalanan laki-laki itu. Laki-laki culun dengan kacamata dan kemeja kotak-kotak yang selalu mengisi hari-harinya.

Terkadang, semua orang menatap dengki wajahnya, dan selalu terasingkan di lingkungan fakultasnya sendiri.

“Apa kau baik-baik saja?” sapaku saat dia duduk termenung di koridor kampus.

Ambo ndak papo, Lisa1,” jawabnya. Aku bahkan tidak tahu bahwa ia mengenalku.

Aku melihat buku yang dia pegang, tertulis di sampulnya sebuah nama yang kutebak namanya.

“Reynaldi Iswan? Kau barusan bicara bahasa apa?” tanyaku penasaran. Seolah ia terkejut karena aku tahu namanya, ia pun menjelaskan.

Bahasa yang dipakainya adalah bahasa Sibolga. Aku tidak pernah tahu bahasa Sibolga juga menggunakan vokal “o” seperti Minang. Tapi logat Reynaldi sejauh yang kuketahui sangat berbeda dengan logat orang Minang biasanya.

Ambo balum lancar bana bahaso Indonesia disiko2,” ucapnya. Aku paham maksudnya, ia berusaha mengatakan bahwa ia belum lancar berbahasa Indonesia, tapi tidak ada yang mau mengajarinya.

Seperti seolah semua temannya menjauhinya, padahal Reynaldi bukan orang yang bodoh seperti yang kutelusuri, bahkan mungkin ia lebih pintar dari orang-orang yang mencemoohnya.

Kali itu, untuk pertama kalinya, Reynaldi tertawa dan bicara beratus kata dari sebelumnya.

“Kau orang yang baik, Rey,” ungkapku sambil menyalam tangannya sembari pergi sesaat senyum di hadapannya.

Belum beberapa menit aku menjauh, sebuah telur mendarat di kepalanya. Gelak tawa menjijikkan kembali terdengar di telingaku. Ingin kuhampiri, tapi Rey sendiri sudah pergi, tersisa sekumpulan laki-laki yang aku tidak tahu dari mana asalnya.

“Aspek sosial budaya menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia diwarnai oleh berbagai macam perbedaan, baik perbedaan agama, suku, ras, bahasa dan kebudayaan. Kondisi sosial budaya yang demikian menjadikan kehidupan bangsa Indonesia menyimpan potensi terjadinya konflik. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa dalam kehidupan bangsa Indonesia sering terjadi konflik antar-kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan tersebut, kau belum mendengarnya?” tanyaku sembari melipatkan kedua tangan.

“Kau tidak perlu menjelaskannya, aku mengetahuinya.” Si pria berjaket biru itu mendekat dan menepuk bahuku sembari pergi.

Dongkol dengan situasi seperti ini, aku mengejarnya, dan bertanya alasan kelompok itu menjauhi Rey.

“Kau tahu, Lis, kami sangat ingin belajar dengannya, sering mengajaknya ke gereja bersama, berbagi satu sama lain, tapi ia membenci teman kami, Frans yang merupakan sepupunya, jadi, jangan pernah ikut campur pada sesuatu yang kau tidak tahu asal usulnya.” Mereka pergi. Menyisakan beribu pertanyaan yang kutahu tak akan mungkin bisa kutelusuri lagi.

***
Penulis: sulisrha
Nb: Ini adalah cerpen series yang sudah siap naskahnya jadi ditunggu ya. Untuk Silent Love akan diupdate secepatnya hehe :)

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)