ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts
Thursday, 7 May 2020

Seindah Kunang-Kunang [The End]

2 comments

Saat itu, mereka berjalan memenuhi koridor, tertawa lepas sembari merangkul, perbedaan gender juga tidak membatasi, mereka melindungi sang putri dan membuat semua yang melihat tersenyum.

“Dan pada akhirnya, semua berjalan sesuai Takdir Tuhan, takdir kita adalah bersatu, saling merangkul satu sama lain dan menjadikan pengalaman menjadi guru yang terbaik, tidak ada saling mencemooh, menjelekkan, saling memfitnah dan menyalahkan, semuanya harus saling memberikan nasehat tanpa harus menjatuhkan, karena Indonesia itu satu, kesatuan itu dimulai dalam lintasan terkecil, termasuk fakultas. Setelah itu, kekuatan itu akan dengan mudah dibangun, karena hanya Indonesia yang memiliki keberagaman sebanyak itu, maka jangan pernah menghujat dan membicarakan orang lain tanpa tahu kebenarannya, karena itu yang akan memecah-belah Indonesia.”

Demikian tulisanku kembali dimuat. Hanya berisi bagian terkecil tapi sangat berarti bagi orang yang membacanya.

“Aku pernah membenci orang lain, tapi aku menanggapinya dengan caramu, dan aku malah menyukai orang itu, terima kasih atas sarannya.” Perempuan yang kutahu bernama Nadia itu tersenyum sembari menepuk pundakku. Aku bersyukur, setidaknya tulisanku bermanfaat bagi orang lain, terutama pada bangsa Indonesia sendiri.

Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti kunang-kunang yang tetap bersinar di gelapnya malam tanpa berpura-pura baik layaknya bunga mawar yang kita tahu menyimpan banyak duri di tangkainya.

***
Keterangan:
1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
2 Aku belum lancar sekali bahasa Indonesia di sini.
3 Aku takut mereka tidak mau memaafkanku.
4Aku memang belum fasih, tapi semoga aku bisa lancar, dengarkan ya.

***
Nb: Semoga dibaca semua chapternya ya, soalnya keterangan ceritanya ada di akhir :) Thankyou

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost
Continue reading →
Monday, 7 October 2019

Permintaan Ayah

6 comments

“Selamat, kamu diterima, Nak.” Hari itu, adalah hari penuh kebanggaan bagiku, karena butiran kecil itu mengalir dari pipi ibuku. Raut wajah yang penuh suka cita dan terharu. Kedua adikku memelukku erat, tapi tidak dengan ayahku. Ia lebih memilih terduduk diam di atas kursi kebanggaannya dan merokok dengan ganasnya.

Sudah beberapa kali aku memilih diam dan tidak bertegur sapa karena sikap acuh tak acuh yang diberikan pada ayahku sejak aku mulai remaja. Bahkan aku sering mendengar pertengkaran hingga menimbulkan suara gaduh di malam hari.

Dan hari ini ibuku membelikan kami makanan, seperti ayam penyet, mie ayam, martabak mesir, dan makanan kesukaanku yang lainnya. Aku memakannya lahap sambil menyuapkan Chairul. Dan tiba-tiba, suara klakson itu menyeruak ke ruang tamu. Aku buru-buru melihat siapa yang datang dan sesuai tebakanku, itu adalah Putri. Aku dan dia memang akan berangkat malam ini untuk mulai kuliah di awal September. 

Aku memasukkan barang dan kemudian memeluk ibuku. Perlahan air mataku mengalir dan aku tersedu sembari mencium pipi ibuku. Sesaat aku menelusuri, aku tidak menemukan sosok ayahku. Aku tidak merasakan pelukan ayahku sejak aku mulai remaja, seakan-akan ayahku hanya pelengkap keluarga.

Sopir Putri tersenyum menatap keluargaku dan membunyikan klakson dengan ramah. Aku melambai pada Rifqan dan Chairul, karena aku yakin, aku pasti akan merindukan mereka. 

Keesokan harinya, aku melihat pemandangan pagi hari yang begitu indah, pepohonan yang rindang, angin sejuk, dan burung berkicauan sepanjang perjalanan. “Kau kelihatan lelah, mobil ini sudah tiga kali berhenti,” kata Putri.

Aku hanya tertawa dan melihat perumahan yang begitu mewah. Berbeda dengan kampungku yang terpencil, Kota Medan adalah sepuluh kali lipatnya. Tapi karena itu pula, kami bisa terjebak macet yang begitu parah.

“Kau bisa tinggal di rumahku sementara,” ucap Putri. 

Aku hanya mengangguk dan mengangkat barang-barangku ke rumah Putri yang megah. Bagaikan istana dan jauh berbeda dengan rumahku. Putri menunjukkan kamarku yang berada di atas. Tapi aku tak menemukan suatu foto pun yang terpampang di rumah itu, seakan rumah itu memang untuknya.

“Ibu dan ayahku jarang pulang, mereka bekerja pada pagi hari, dan malam hari mereka ke luar kota, tepat sekali kau tinggal di sini,” kata Putri. Entah kenapa mendengar penuturan itu, dadaku terasa sesak. Dan kemudian, aku merindukan sosok orang tuaku. Setelah Putri masuk ke kamar, aku pun terbaring di atas springbed itu, dan mulai terlelap.

Pukul 07.00, aku berangkat bersama Putri, karena kampusnya lumayan jauh, maka kami berangkat setengah jam lebih awal. Tapi, akibat macet yang terlalu parah, kami harus telat sepuluh menit. 

Untungnya, dosen pada saat itu belum aktif masuk, dan kami masih dalam fase pengenalan, dan aku menjadi sosok yang paling dikenal karena keaktifanku dalam grup Line mengakibatkan semua orang penasaran padaku. Semua orang menyapaku dan tersenyum. Sedangkan Putri hanya terdiam dan duduk di bawah pohon rindang itu sendirian. 

Aku bertanya, “Kenapa kau melamun?” dia menjawab, “Aku hanya menikmati momen ini sebelum semuanya berubah.” 

Setelah beberapa hari berlalu, aku menyadari bahwa Putri dan aku tidak sekelas, dia kelas C, dan aku kelas B. Aku mulai jarang melihatnya, dan tak pernah kutemukan sosoknya yang selalu menungguku. Sampai laki-laki itu datang.

“Ternyata kamu. Menunggu siapa? Ayo kuantar pulang.” Rama mengantarku kala itu. Tapi sesampainya aku di rumah, aku tidak mendengar suara. Bahkan satpam penjaga rumah itu mengatakan bahwa Putri tidak ada di dalam.

Karena aku kelihatan kebingungan, Rama menawarkanku tempat tinggal sementara dan menuju ke rumahnya. Bahkan ibunya juga terkejut saat tahu aku menginap di rumah Rama. Rama tidak pernah sekali pun membawa perempuan ke rumahnya. Dan pada akhirnya, aku tidur di kamar kakaknya.
Keesokan harinya, aku terbangun, dan melihat Rama shalat, dan aku tersadar bahwa aku tidak pernah menjalankan shalat lima waktu itu sejak aku meninggalkan kampungku. Aku kemudian shalat, mandi, sarapan, dan berangkat bersama Rama.

Tidak ada yang curiga dengan semua itu, sampai akhirnya, aku melihat foto itu tersebar di grup. Aku dan Rama di atas sepeda motor pada malam hari. Entah siapa yang menyebarkan dan menambahi bahkan memfitnahku. Semua temanku menjauhiku, mereka berpikir aku bukan perempuan baik-baik. Begitu pula Rama yang tidak pernah kelihatan dan ikut menjauhiku.

Kala itu, semuanya berubah. Aku yang awalnya ditegur dengan senyuman, sekarang dengan tatapan penuh kehinaan. Bahkan sejak kejadian itu, aku benar-benar terkucil selama sebulan lamanya. Sampai aku menangis, dan merangkai untaian kata dalam sebuah kertas kecil.

Kuperdengarkan kicauan yang mengusik sanubariku, mengecam dan menusuk paksa ke jantungku, seakan membanting pintu nurani, dan menjadikan butiran itu mengalir dari pipiku. Gemetar yang teramat sangat dan usikan yang menyengat. Berkumpul menjadi satu, bertumpu untuk menyatu. Atau memang, takdir berkata begitu, untuk semua keheningan sesaat, aku bukanlah yang terhebat, tapi kicauan itu menumbuhkan semangat. Sebelum kaki itu terus berlutut, atau bahu itu tidak sanggup bangkit, aku masih terombang-ambing. Berusaha menyisakan kenangan, tapi tetap saja, yang timbul hanya penyesalan.

Tanpa seorang teman, aku menghadapi hari-hari dengan penuh semangat, mencoba melupakan semua kicauan yang semakin meluas. Aku bahkan takut jika beasiswaku dicabut hanya karena masalah ini.
Allisa Andriani!” Aku terbangun dari lamunan, dan melihat wajah dosen itu marah. Aku perlahan maju ke depan dan mendengar ocehan dosen itu, sampai pegawai itu datang dan mengubah ekspresi dosen kalkulus itu.

Riani, duduklah.” Aku terduduk, dan melihat kedua orang itu. “Aku yakin kau tidak ingin mendengarnya tapi, ayahmu meninggal dunia tadi pagi.” 

Aku membenci ayahku, bahkan aku tidak pernah mengakuinya sejak aku remaja, menyembunyikan fisik ayahku, tapi ketika aku tahu sekarang aku tidak perlu menyembunyikannya, aku menangis dan dadaku sesak. Aku ingin pulang.

Saat itu, aku melihat ayahku terbaring dengan kain kafan. Aku memeluknya erat untuk terakhir kalinya, dan berdoa dengan penuh hikmah pada Allah, doa yang tidak pernah aku panjatkan selama ini, hanya kepada Allah aku bertaubat dan ayahku kembali kepada-Nya. Aku patut dihukum karena sifat benciku, dan aku menerima semua musibah ini, kepada Allah aku memohon ampun.
“Yaasin.” Dan suara itu menggetarkan bahuku. 

Ayahku selalu mendengar tawaku, dia memang sudah lama sakit, dan dia menyayangiku. Dia ingin aku menjadi Sarjana Teknik, dan membelikanku sepeda motor yang kuinginkan sejak dulu.
Di hari pemakaman itu, Putri yang tidak pernah kelihatan wujudnya, akhirnya menemuiku. “Ri, aku minta maaf untuk semua yang terjadi, akulah yang memfitnahmu karena aku cemburu, aku sengaja meninggalkanmu karena aku kesal dan tanpa berpikir panjang menyebarkan itu, please maafin aku,” ucapnya sambil menangis dan memelukku.   

Sejujurnya aku tidak pernah dendam dan sudah melupakan kejadian itu meski aku tidak tahu siapa orangnya, dan walaupun hatiku tersayat karena ulah sahabatku sendiri, aku belajar untuk ikhlas dan tersenyum memaafkan. Seiring berjalannya waktu akhirnya teman-temanku kembali seperti dulu, bahkan mereka jauh lebih baik. Begitu juga dengan Rama yang akhirnya bisa menerima Putri.

Aku berjanji Ayah, akan mengabulkan permintaanmu, dan tidak pernah meninggalkan shalatku. Aku akan menjadi Sarjana Teknik yang ayah perjuangkan untukku, aku juga akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja dan membiayai adik-adik, semoga Ayah tenang ya, kami di sini mendoakanmu.” Aku meneteskan air mata setelah mengunjungi makam ayah dan kupeluk ibu seerat yang kubisa. Seolah mengatakan bahwa aku sangat menyayangi keduanya.

Continue reading →
Saturday, 21 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Chapter 3]

0 comments



“Ambo balum fasih bana, tapi ambo raso, ambo bisa lancar, dangakan yo4, untuk kalian, aku meminta maaf karena selama ini aku menjauh, seolah tak butuh kalian, padahal aku sangat menginginkan teman di sisiku, maafkan juga karena keegoisanku, aku jadi dianggap aneh, aku bukan tidak mau ke gereja bersama kalian, hanya saja, sekarang aku jadi mualaf, dan aku hanya perlu mengatakannya tanpa harus menjauhi. Aku benar-benar kehilangan jati diriku saat itu, tapi sekarang, aku bersyukur punya kalian, aku tahu kebahagiaan terbesar saat kau bisa bercengkrama dengan orang-orang yang tidak sesuku denganmu, dengan begitu kita bisa saling maju untuk ke depannya.”

Rey menutup ucapan itu dengan pelukan. Dia memang belum fasih, setidaknya dia berusaha membaca dari tulisannya sendiri walaupun sebagian merupakan ideku.

“Hm, Rey? Kau tahu Aldi dan Rico juga seorang muslim, kau bisa bertanya banyak hal pada mereka. Oh iya, aku minta maaf soal telur waktu itu, Haha,” tawa Dyo di ujung kalimatnya, Rey menggelengkan kepala seolah berkata tidak apa-apa tentang kejadian tempo hari itu.

“Di mana Frans?” tanya Rey sambil mencari keberadaan sepupunya itu.

Beberapa menit kemudian, terdengar tawa yang bersamaan, sembari Dyo berucap, “Kurasa, dia menemukan teman baru, David, yang beragama Buddha dan beberapa teman berbeda akidah lainnya, aku melihat toleransi yang begitu kuat, jadi kurasa tidak masalah jika ia mau bergabung bersama kami, atau bersama mereka, atau bisa saja kita yang akan bergabung dengan mereka.”

Aku menyadari kuatnya persahabatan mereka, toleransi beragama, suku, dan beberapa adat istiadat. Walaupun aku mengenal mereka sesaat, dan tanpa disengaja, tapi aku beruntung, setidaknya beberapa sikapku dapat mengubah salah satu jalan pikiran mereka. 

Aku yang bukan siapa-siapa, tapi bisa berbuat lebih dari apa-apa. Kekuatan itu terus tumbuh, merekah, dan tidak tertandingi luasnya. Kala itu saat kulihat, mereka berjalan bersama, aku tidak melihat Reynaldi yang culun, Dyo yang terkenal perkasa, dan kelompok yang hanya berjumlah empat orang.

***
Wait for the last chapter...

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

Continue reading →
Thursday, 19 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Series]

4 comments


“Hahaha.” Gelak tawa mengiringi setiap perjalanan laki-laki itu. Laki-laki culun dengan kacamata dan kemeja kotak-kotak yang selalu mengisi hari-harinya.

Terkadang, semua orang menatap dengki wajahnya, dan selalu terasingkan di lingkungan fakultasnya sendiri.

“Apa kau baik-baik saja?” sapaku saat dia duduk termenung di koridor kampus.

Ambo ndak papo, Lisa1,” jawabnya. Aku bahkan tidak tahu bahwa ia mengenalku.

Aku melihat buku yang dia pegang, tertulis di sampulnya sebuah nama yang kutebak namanya.

“Reynaldi Iswan? Kau barusan bicara bahasa apa?” tanyaku penasaran. Seolah ia terkejut karena aku tahu namanya, ia pun menjelaskan.

Bahasa yang dipakainya adalah bahasa Sibolga. Aku tidak pernah tahu bahasa Sibolga juga menggunakan vokal “o” seperti Minang. Tapi logat Reynaldi sejauh yang kuketahui sangat berbeda dengan logat orang Minang biasanya.

Ambo balum lancar bana bahaso Indonesia disiko2,” ucapnya. Aku paham maksudnya, ia berusaha mengatakan bahwa ia belum lancar berbahasa Indonesia, tapi tidak ada yang mau mengajarinya.

Seperti seolah semua temannya menjauhinya, padahal Reynaldi bukan orang yang bodoh seperti yang kutelusuri, bahkan mungkin ia lebih pintar dari orang-orang yang mencemoohnya.

Kali itu, untuk pertama kalinya, Reynaldi tertawa dan bicara beratus kata dari sebelumnya.

“Kau orang yang baik, Rey,” ungkapku sambil menyalam tangannya sembari pergi sesaat senyum di hadapannya.

Belum beberapa menit aku menjauh, sebuah telur mendarat di kepalanya. Gelak tawa menjijikkan kembali terdengar di telingaku. Ingin kuhampiri, tapi Rey sendiri sudah pergi, tersisa sekumpulan laki-laki yang aku tidak tahu dari mana asalnya.

“Aspek sosial budaya menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia diwarnai oleh berbagai macam perbedaan, baik perbedaan agama, suku, ras, bahasa dan kebudayaan. Kondisi sosial budaya yang demikian menjadikan kehidupan bangsa Indonesia menyimpan potensi terjadinya konflik. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa dalam kehidupan bangsa Indonesia sering terjadi konflik antar-kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan tersebut, kau belum mendengarnya?” tanyaku sembari melipatkan kedua tangan.

“Kau tidak perlu menjelaskannya, aku mengetahuinya.” Si pria berjaket biru itu mendekat dan menepuk bahuku sembari pergi.

Dongkol dengan situasi seperti ini, aku mengejarnya, dan bertanya alasan kelompok itu menjauhi Rey.

“Kau tahu, Lis, kami sangat ingin belajar dengannya, sering mengajaknya ke gereja bersama, berbagi satu sama lain, tapi ia membenci teman kami, Frans yang merupakan sepupunya, jadi, jangan pernah ikut campur pada sesuatu yang kau tidak tahu asal usulnya.” Mereka pergi. Menyisakan beribu pertanyaan yang kutahu tak akan mungkin bisa kutelusuri lagi.

***
Penulis: sulisrha
Nb: Ini adalah cerpen series yang sudah siap naskahnya jadi ditunggu ya. Untuk Silent Love akan diupdate secepatnya hehe :)

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

Continue reading →
Wednesday, 11 September 2019

Malaikat Tanpa Sayap

35 comments


    Malaikat adalah makhluk suci dan sangat istimewa di setiap sudut pandang umat manusia, tapi ketika semua orang berpikir bahwa malaikat itu harus bisa terbang dan hanya berada di langit serta tak kasat mata, maka ungkapan itu salah. Bahwa di setiap sudut dunia, bahkan yang tak memiliki atap sekalipun, pasti terdapat malaikat, bernyawa dan berkurang umurnya, tapi memiliki beribu kasih sayang yang sangat tak terbatas. Dialah, sang ibunda, malaikat tanpa sayap.      Menurut KBBI, ibu hanyalah seorang perempuan yang melahirkan seseorang, dan menurut wikipedia, ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial dan umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung atau dari seseorang yang mengisi peranan ini.     
    Bahkan  di Indonesia, terdapat bermacam-macam sebutan dengan bahasa daerah hanya untuk dilontarkan pada ibu, seperti, Enyak dari Betawi dan Bali, Emak dari Sunda, Inaq dari Lombok, Inang untuk Batak Toba, Nande untuk Batak Karo, Amak untuk Minangkabau, Umai untuk Dayak Ngaju, Umak untuk Basemah, Ibuk untuk Jawa, dan Bonda untuk Kepulauan Riau.    
    Tapi, ibu tidak hanya sekedar melahirkan atau membesarkan, ibu adalah sosok pribadi yang tegar dan selalu menghadapi kesulitan bahkan di saat yang tidak ia inginkan. Ketika seorang anak selalu berkata pada diri sendiri tentang rumitnya hidup, maka ibulah pemilik beban terberat dari awal sejak ia melahirkan.     Sosok yang terus menerus mencoba bahagia walau serba kekurangan, hanya untuk menghibur sang buah hati yang sangat ia sayangi. Maka celakalah orang yang tidak menganggap ibunya setelah sukses, dan bersyukurlah bagi orang yang selalu mengutamakan ibu bahkan saat tua renta.     
    Sayap itu tidak pernah terlihat, tapi selalu terasa bergoyang saat memeluk sosok perempuan yang tidak semakin muda, tapi mulai keriput wajahnya. Mengajarkan seorang anak tentang agama, lingkungan, dan selalu mendengar keluh kesah bahkan saat lidah itu belum bisa berucap setiap kata dengan sempurna.
    Dialah, ibunda yang selalu berusaha menahan air mata sang buah hati saat menangis, ibunda yang selalu mendukung pekerjaan sang anak, atau bahkan rela bersikap seperti anak kecil hanya untuk melihat anaknya sendiri tertawa. Karena ungkapan Kasih ibu sepanjang masa” tidak hanya sekedar kata-kata lalu yang terlupakan, tapi justru melekat di setiap jati diri pemuda-pemudi yang tumbuh dari masa ke masa. Sehebat itulah, malaikat itu bertahan.    
    Ketika sayap itu mulai berpatahan, seperti kebutuhan material dan psikologis yang kian rumit sampai harus negoisasi dengan kepala rumah tangga, ibu tidak pernah berusaha menjatuhkan buliran air mata itu hanya untuk menarik perhatian anaknya. Karena setegar itulah, malaikat itu berjuang.    
    Setiap anak ingin sukses, mereka berlomba-lomba sukses agar mendapat pasangan dan kaya raya, tapi ketika mereka sudah memiliki pasangan yang cantik maupun tampan, dan memiliki kekayaan tiada habis, mereka lupa tentang siapa yang membimbing mereka hingga sukses, tentang siapa yang terus menerus mendoakan mereka dalam doanya. Kebanyakan para ibu merelakan haknya untuk dicaci maki dan tidak diakui, padahal sebelumnya pernah berjanji untuk merajut sayap-sayap itu agar mekar kembali.    
    Maka dari itu, berterima kasihlah tentang semua hal yang telah diperjuangkan dan dipertahankan oleh sang ibunda bahkan saat punggung itu tak lagi mampu menahan sayap yang semakin berat, dan memohon maaf pada sang ibunda yang pernah dibentak hanya karena suatu hal sepele dan ibu menghindari pertengkaran seraya memilih tersenyum dan diam. Semua dilakukan hanya untuk melihat buah hati yang dikandung sembilan bulan itu terus tumbuh tanpa membenci ibunya.    
    Sang ibu adalah sang malaikat yang berwajah rupawan, lembut hatinya, dan selalu ada di saat suka dan duka, surga di bawah telapak kakinya, ridho Allah juga karena ridhonya, punggung itu, adalah punggung perempuan terhebat dan seakan bercahaya karena sayap itu semakin mekar. Tak terlihat, tapi bisa dirasakan, dan sang ibu benar-benar sosok seorang malaikat yang diturunkan ke muka bumi, hanya agar semua orang menyadari, bahwa malaikat itu benar-benar ada, tak bersayap, tapi membantu anak-anaknya untuk melebarkan sayap, bahkan saat miliknya sendiri sudah rapuh dimakan waktu. Bahwa apa pun akan dilakukan sang ibu hanya untuk membahagiakan anak-anaknya, sekalipun harus mengorbankan nyawanya.
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)