1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
Want to Read?
Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...
Featured 2
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..
Featured 4
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Featured 4
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Featured 5
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...
Seindah Kunang-Kunang [The End]
1 Aku tidak apa-apa, Lisa.
Permintaan Ayah
Sudah beberapa kali aku memilih diam dan tidak bertegur sapa karena sikap acuh tak acuh yang diberikan pada ayahku sejak aku mulai remaja. Bahkan aku sering mendengar pertengkaran hingga menimbulkan suara gaduh di malam hari.
Dan hari ini ibuku membelikan kami makanan, seperti ayam penyet, mie ayam, martabak mesir, dan makanan kesukaanku yang lainnya. Aku memakannya lahap sambil menyuapkan Chairul. Dan tiba-tiba, suara klakson itu menyeruak ke ruang tamu. Aku buru-buru melihat siapa yang datang dan sesuai tebakanku, itu adalah Putri. Aku dan dia memang akan berangkat malam ini untuk mulai kuliah di awal September.
Aku memasukkan barang dan kemudian memeluk ibuku. Perlahan air mataku mengalir dan aku tersedu sembari mencium pipi ibuku. Sesaat aku menelusuri, aku tidak menemukan sosok ayahku. Aku tidak merasakan pelukan ayahku sejak aku mulai remaja, seakan-akan ayahku hanya pelengkap keluarga.
Sopir Putri tersenyum menatap keluargaku dan membunyikan klakson dengan ramah. Aku melambai pada Rifqan dan Chairul, karena aku yakin, aku pasti akan merindukan mereka.
Keesokan harinya, aku melihat pemandangan pagi hari yang begitu indah, pepohonan yang rindang, angin sejuk, dan burung berkicauan sepanjang perjalanan. “Kau kelihatan lelah, mobil ini sudah tiga kali berhenti,” kata Putri.
Aku hanya tertawa dan melihat perumahan yang begitu mewah. Berbeda dengan kampungku yang terpencil, Kota Medan adalah sepuluh kali lipatnya. Tapi karena itu pula, kami bisa terjebak macet yang begitu parah.
“Kau bisa tinggal di rumahku sementara,” ucap Putri.
Aku hanya mengangguk dan mengangkat barang-barangku ke rumah Putri yang megah. Bagaikan istana dan jauh berbeda dengan rumahku. Putri menunjukkan kamarku yang berada di atas. Tapi aku tak menemukan suatu foto pun yang terpampang di rumah itu, seakan rumah itu memang untuknya.
Aku bertanya, “Kenapa kau melamun?” dia menjawab, “Aku hanya menikmati momen ini sebelum semuanya berubah.”
Setelah beberapa hari berlalu, aku menyadari bahwa Putri dan aku tidak sekelas, dia kelas C, dan aku kelas B. Aku mulai jarang melihatnya, dan tak pernah kutemukan sosoknya yang selalu menungguku. Sampai laki-laki itu datang.
“Ternyata kamu. Menunggu siapa? Ayo kuantar pulang.” Rama mengantarku kala itu. Tapi sesampainya aku di rumah, aku tidak mendengar suara. Bahkan satpam penjaga rumah itu mengatakan bahwa Putri tidak ada di dalam.
Karena aku kelihatan kebingungan, Rama menawarkanku tempat tinggal sementara dan menuju ke rumahnya. Bahkan ibunya juga terkejut saat tahu aku menginap di rumah Rama. Rama tidak pernah sekali pun membawa perempuan ke rumahnya. Dan pada akhirnya, aku tidur di kamar kakaknya.
Keesokan harinya, aku terbangun, dan melihat Rama shalat, dan aku tersadar bahwa aku tidak pernah menjalankan shalat lima waktu itu sejak aku meninggalkan kampungku. Aku kemudian shalat, mandi, sarapan, dan berangkat bersama Rama.
Tidak ada yang curiga dengan semua itu, sampai akhirnya, aku melihat foto itu tersebar di grup. Aku dan Rama di atas sepeda motor pada malam hari. Entah siapa yang menyebarkan dan menambahi bahkan memfitnahku. Semua temanku menjauhiku, mereka berpikir aku bukan perempuan baik-baik. Begitu pula Rama yang tidak pernah kelihatan dan ikut menjauhiku.
Kala itu, semuanya berubah. Aku yang awalnya ditegur dengan senyuman, sekarang dengan tatapan penuh kehinaan. Bahkan sejak kejadian itu, aku benar-benar terkucil selama sebulan lamanya. Sampai aku menangis, dan merangkai untaian kata dalam sebuah kertas kecil.
Kuperdengarkan kicauan yang mengusik sanubariku, mengecam dan menusuk paksa ke jantungku, seakan membanting pintu nurani, dan menjadikan butiran itu mengalir dari pipiku. Gemetar yang teramat sangat dan usikan yang menyengat. Berkumpul menjadi satu, bertumpu untuk menyatu. Atau memang, takdir berkata begitu, untuk semua keheningan sesaat, aku bukanlah yang terhebat, tapi kicauan itu menumbuhkan semangat. Sebelum kaki itu terus berlutut, atau bahu itu tidak sanggup bangkit, aku masih terombang-ambing. Berusaha menyisakan kenangan, tapi tetap saja, yang timbul hanya penyesalan.
Tanpa seorang teman, aku menghadapi hari-hari dengan penuh semangat, mencoba melupakan semua kicauan yang semakin meluas. Aku bahkan takut jika beasiswaku dicabut hanya karena masalah ini.
“Allisa Andriani!” Aku terbangun dari lamunan, dan melihat wajah dosen itu marah. Aku perlahan maju ke depan dan mendengar ocehan dosen itu, sampai pegawai itu datang dan mengubah ekspresi dosen kalkulus itu.
“Riani, duduklah.” Aku terduduk, dan melihat kedua orang itu. “Aku yakin kau tidak ingin mendengarnya tapi, ayahmu meninggal dunia tadi pagi.”
Aku membenci ayahku, bahkan aku tidak pernah mengakuinya sejak aku remaja, menyembunyikan fisik ayahku, tapi ketika aku tahu sekarang aku tidak perlu menyembunyikannya, aku menangis dan dadaku sesak. Aku ingin pulang.
Saat itu, aku melihat ayahku terbaring dengan kain kafan. Aku memeluknya erat untuk terakhir kalinya, dan berdoa dengan penuh hikmah pada Allah, doa yang tidak pernah aku panjatkan selama ini, hanya kepada Allah aku bertaubat dan ayahku kembali kepada-Nya. Aku patut dihukum karena sifat benciku, dan aku menerima semua musibah ini, kepada Allah aku memohon ampun.
“Yaasin.” Dan suara itu menggetarkan bahuku.
Ayahku selalu mendengar tawaku, dia memang sudah lama sakit, dan dia menyayangiku. Dia ingin aku menjadi Sarjana Teknik, dan membelikanku sepeda motor yang kuinginkan sejak dulu.
Di hari pemakaman itu, Putri yang tidak pernah kelihatan wujudnya, akhirnya menemuiku. “Ri, aku minta maaf untuk semua yang terjadi, akulah yang memfitnahmu karena aku cemburu, aku sengaja meninggalkanmu karena aku kesal dan tanpa berpikir panjang menyebarkan itu, please maafin aku,” ucapnya sambil menangis dan memelukku.
Sejujurnya aku tidak pernah dendam dan sudah melupakan kejadian itu meski aku tidak tahu siapa orangnya, dan walaupun hatiku tersayat karena ulah sahabatku sendiri, aku belajar untuk ikhlas dan tersenyum memaafkan. Seiring berjalannya waktu akhirnya teman-temanku kembali seperti dulu, bahkan mereka jauh lebih baik. Begitu juga dengan Rama yang akhirnya bisa menerima Putri.
“Aku berjanji Ayah, akan mengabulkan permintaanmu, dan tidak pernah meninggalkan shalatku. Aku akan menjadi Sarjana Teknik yang ayah perjuangkan untukku, aku juga akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja dan membiayai adik-adik, semoga Ayah tenang ya, kami di sini mendoakanmu.” Aku meneteskan air mata setelah mengunjungi makam ayah dan kupeluk ibu seerat yang kubisa. Seolah mengatakan bahwa aku sangat menyayangi keduanya.
Seindah Kunang-Kunang [Chapter 3]
“Ambo balum fasih bana, tapi ambo raso, ambo bisa lancar, dangakan yo4, untuk kalian, aku meminta maaf karena selama ini aku menjauh, seolah tak butuh kalian, padahal aku sangat menginginkan teman di sisiku, maafkan juga karena keegoisanku, aku jadi dianggap aneh, aku bukan tidak mau ke gereja bersama kalian, hanya saja, sekarang aku jadi mualaf, dan aku hanya perlu mengatakannya tanpa harus menjauhi. Aku benar-benar kehilangan jati diriku saat itu, tapi sekarang, aku bersyukur punya kalian, aku tahu kebahagiaan terbesar saat kau bisa bercengkrama dengan orang-orang yang tidak sesuku denganmu, dengan begitu kita bisa saling maju untuk ke depannya.”
***
Wait for the last chapter...
#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost
Seindah Kunang-Kunang [Series]
Malaikat Tanpa Sayap
Bahkan di Indonesia, terdapat bermacam-macam sebutan dengan bahasa daerah hanya untuk dilontarkan pada ibu, seperti, Enyak dari Betawi dan Bali, Emak dari Sunda, Inaq dari Lombok, Inang untuk Batak Toba, Nande untuk Batak Karo, Amak untuk Minangkabau, Umai untuk Dayak Ngaju, Umak untuk Basemah, Ibuk untuk Jawa, dan Bonda untuk Kepulauan Riau.
Tapi, ibu tidak hanya sekedar melahirkan atau membesarkan, ibu adalah sosok pribadi yang tegar dan selalu menghadapi kesulitan bahkan di saat yang tidak ia inginkan. Ketika seorang anak selalu berkata pada diri sendiri tentang rumitnya hidup, maka ibulah pemilik beban terberat dari awal sejak ia melahirkan. Sosok yang terus menerus mencoba bahagia walau serba kekurangan, hanya untuk menghibur sang buah hati yang sangat ia sayangi. Maka celakalah orang yang tidak menganggap ibunya setelah sukses, dan bersyukurlah bagi orang yang selalu mengutamakan ibu bahkan saat tua renta.
Sayap itu tidak pernah terlihat, tapi selalu terasa bergoyang saat memeluk sosok perempuan yang tidak semakin muda, tapi mulai keriput wajahnya. Mengajarkan seorang anak tentang agama, lingkungan, dan selalu mendengar keluh kesah bahkan saat lidah itu belum bisa berucap setiap kata dengan sempurna.
Ketika sayap itu mulai berpatahan, seperti kebutuhan material dan psikologis yang kian rumit sampai harus negoisasi dengan kepala rumah tangga, ibu tidak pernah berusaha menjatuhkan buliran air mata itu hanya untuk menarik perhatian anaknya. Karena setegar itulah, malaikat itu berjuang.
Setiap anak ingin sukses, mereka berlomba-lomba sukses agar mendapat pasangan dan kaya raya, tapi ketika mereka sudah memiliki pasangan yang cantik maupun tampan, dan memiliki kekayaan tiada habis, mereka lupa tentang siapa yang membimbing mereka hingga sukses, tentang siapa yang terus menerus mendoakan mereka dalam doanya. Kebanyakan para ibu merelakan haknya untuk dicaci maki dan tidak diakui, padahal sebelumnya pernah berjanji untuk merajut sayap-sayap itu agar mekar kembali.
Maka dari itu, berterima kasihlah tentang semua hal yang telah diperjuangkan dan dipertahankan oleh sang ibunda bahkan saat punggung itu tak lagi mampu menahan sayap yang semakin berat, dan memohon maaf pada sang ibunda yang pernah dibentak hanya karena suatu hal sepele dan ibu menghindari pertengkaran seraya memilih tersenyum dan diam. Semua dilakukan hanya untuk melihat buah hati yang dikandung sembilan bulan itu terus tumbuh tanpa membenci ibunya.
Sang ibu adalah sang malaikat yang berwajah rupawan, lembut hatinya, dan selalu ada di saat suka dan duka, surga di bawah telapak kakinya, ridho Allah juga karena ridhonya, punggung itu, adalah punggung perempuan terhebat dan seakan bercahaya karena sayap itu semakin mekar. Tak terlihat, tapi bisa dirasakan, dan sang ibu benar-benar sosok seorang malaikat yang diturunkan ke muka bumi, hanya agar semua orang menyadari, bahwa malaikat itu benar-benar ada, tak bersayap, tapi membantu anak-anaknya untuk melebarkan sayap, bahkan saat miliknya sendiri sudah rapuh dimakan waktu. Bahwa apa pun akan dilakukan sang ibu hanya untuk membahagiakan anak-anaknya, sekalipun harus mengorbankan nyawanya.




