ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Thursday, 25 June 2020

WAKTU DAN KESEMPATAN

0 comments



Selama pandemic COVID 19, banyak mahasiswa, pelajar yang disarankan untuk kuliah online. Bahkan sistem pembelajaran online itu sudah merebak hampir seluruh Indonesia. Kenapa hampir? Karena masih banyak saya lihat siswa SMA yang masih masuk sekolah dan bertatap muka di kota saya. 

Walaupun begitu, saya sendiri juga mahasiswa yang mengikuti kuliah online, adik saya yang masih SMP juga begitu. Tapi jujur saja, sistem online memiliki pembelajaran yang lebih susah. Kenapa? Kita harus mengirimkan ujian, ataupun tugas melalui email dengan tenggat waktu yang sangat tipis, jadi kita terburu-buru mengerjakan bersamaan dengan waktu scannya.

Kebijakan pendidikan selama pandemic sebenarnya menurut saya tidak merugikan, justru bagus apalagi social distancing untuk menghindari tular menular penyakit. Bahkan menurut kampus saya, ada kemungkinan semester tujuh akan tetap berlangsung kuliah online.

Alih-alih kuliah online, sebenarnya itu adalah cara yang bagus untuk belajar dari rumah. Sama halnya dengan hobi kita yang misal suka menulis, maka menulislah dari rumah. Berkaryalah dari rumah. Tidak ada yang tidak bisa dikerjakan jika kita mau berusaha. Oleh sebab itulah belajar dari rumah itu sangat penting.

Saya sendiri melakukan pembelajaran dengan cara menggunakan laptop, melihat bahan yang sudah diberikan oleh dosen, lalu mengerjakan presentasi, mengerjakan tugas dengan tenggat waktu yang diberikan. Semuanya dilakukan dengan sangat maksimal agar IP selama kuliah online ini tetap bagus.

Jadi menurut saya, tidak ada yang salah dengan kebijakan pendidikan selama pandemic ini, yang terpenting tidak membuat kita malas apalagi waktu belajar digunakan untuk bermain game, berleha-leha dengan social media. Semoga kita semua diberikan waktu dan kesempatan untuk berkarya dan belajar lebih banyak lagi. 
Continue reading →
Sunday, 21 June 2020

MY LOVELY BOY

0 comments

Hari ini sangat panas, aku bahkan tidak tau bahwa aku berada di Sibolga. Mungkin aku orang terbodoh yang tidak menyadari kehidupanku sebenarnya. Hahaha, aneh ya aku. Namaku Laura Era Nauli Situmorang . Aku memang orang batak dan ofcourse, logatku juga begitu walau terkadang aku lebih banyak berbahasa Indonesia.

“Woy!, ngelamun aja lo!” sebuah tepukan di bahuku sukses membuatku kaget dan menoleh pada sekumpulan teman-teman menyebalkan ku.

“Ngelamunin sapa si lo? Pacar? Ciyeee yang lagi jatuh cinta” kali ini cindy yang menggodaku. Astaga, aku lupa bahwa aku sedang di sekolah, tepatnya diruangan X MIA 3, ruangan yang tiada hari tanpa ribut dan konyol, terkadang aku malas berada disini. Ini sudah 2 minggu lamanya sejak MOS berlangsung. Dan aku masih belum hafal nama teman-teman sebayaku disini. Huh…

“Apaan sih, pacar aja gapunya” kataku sebal, aku tau mereka menyindirku, Ruth , Cindy dan Yora selalu menyindirku yang tidak punya pacar , padahal pacar kan gapenting juga.

Hening seketika, aku tau apa penyebab keheningan ini , Itu karna….. “Woy, guru datang” dan semuanya pun diam dan duduk ditempat masing-masing. Jhon yang menjabat menjadi ketua kelas akhirnya menyuruh kami berdiri dan memberi salam kepada Ibu Zulfayeni, guru yang masuk sekarang.
“Karna buku belum dibagikan , jadi kita membahas soal yang saya berikan” Itulah kata terakhir ibu zulfa sampai bel berbunyi.

KRING KRING!! , bel SMA negeri 1 itu berbunyi , semua murid berhamburan keluar , tak terkecuali aku, aku bahkan ingin tidur pada les terakhir yang dibawakan oleh Ibu Sitorus, guru kimia yang ergghh menyebalkan dan killer abis .

Baru beberapa menit aku melangkahkan kaki, sebuah tangan menarik tas ku sehingga mau tidak mau aku harus berhenti. Aku berbalik dan melihat seorang cowok yang kurasa sekelasku.

“Maaf aku mengganggumu , tapi , aku menemukan ini jatuh dari tasmu” katanya sambil memberikan sebuah pulpen yang sangat familiar dimataku , dan kurasa itu memang pulpenku. Aku menerimanya sambil tersenyum dan berterima kasih padanya. Dia hanya mengangguk sambil pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Gerakannya seperti kilat , memandang mataku dengan lekat. Siapa dia? Aku tau caranya… Aku buru-buru masuk kedalam kelas, dan melihat denah kelas yang terpampang rapi dimejaa guru. Dan kulihat namanya.. Rafael Simarmata….
Continue reading →
Wednesday, 17 June 2020

NEW NORMAL: "BAGIKU SAMA SAJA."

1 comments
Sebagai seorang manusia, kita memang tidak bisa kebal dari penyakit. Apalagi sejak adanya virus corona yang marak di Indonesia. Bahkan di semua negara. Penting bagi kita untuk tetap mengikuti aturan pemerintah, entah itu di rumah saja, atau bisa keluar dengan catatan adanya perubahan perilaku Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.


Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 telah menyatakan, PSBB dilakukan salah satunya dengan meliburkan tempat kerja. Namun dunia kerja tidak mungkin selamanya dilakukan pembatasan, roda perekonomian harus tetap berjalan.


Nah salah satu dari new normal adalah banyak tempat-tempat seperti Mall, dibatasi prosedurnya. Artinya tidak sembarang bisa masuk, dan sebelum masuk pun, harus diperiksa agar benar-benar terbebas dari corona. Hal ini juga dilakukan dengan cara mengubah beberapa perilaku tertentu. Banyak dari kita yang masih menganggap sepele tentang kasus ini. Padahal sudah ada empat puluh ribu kasus yang ada di Indonesia.

Perubahan perilaku yang wajib diterapkan adalah dengan peduli pada diri sendiri, selalu memakai masker jika ada kebutuhan mendadak untuk keluar, selalu mencuci tangan menggunakan air bersih atau handsanitizer. Selain itu, jaga kesehatan, jangan terlalu sering begadang. Banyak hal yang bisa dikerjakan bermanfaat selama pandemic. Jadi jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.

Jika kita memiliki hobi menulis, seperti aku, kerap menuliskan pengalaman, blog, atau novel walaupun sekadar dibaca untuk diri sendiri, karena itu lebih bermanfaat daripada keluar rumah. Selain itu, aku juga belajar, untuk menyelesaikan ujian dalam keadaan daring, dan juga membantu pekerjaan di rumah. Apalagi ayahku sedang sakit, jadi kami sekeluarga berusaha untuk tidak menambah beban penyakit di rumah ini.

Selain dengan perubahan perilaku, kita juga setiap hari lebih berhemat, bukan? Apalagi khusus aku anak kuliah yang selama pandemic tidak mengeluarkan biaya untuk makan. Adapun sumber keuangan kedua aku selain dari uang bulanan orang tua yang pernah dikirim, kebetulan aku adalah seorang penerima beasiswa, jadi uang itu aku pergunakan untuk memenuhi kebutuhan daring. 

Bagiku menghemat adalah suatu godaan, banyak onlineshop yang membuat diskon besar-besaran, tapi bagi seseorang mahasiswa yang tidak punya uang bulanan, rasanya merawat diri pun, sangat susah apalagi pekerjaan orang tua juga tidak seberapa dan dalam keadaan sakit pula. Jadi, aku sekalian ingin menumpahkan keluh kesahku selama pandemic. 

Aku sudah seminggu sakit pilek, batuk, setelah sebelumnya keponakanku yang sakit. Dan itu mungkin pemicunya adalah kedekatan kami. Walaupun banyak himbauan social distancing, tapi itu tidak berlaku karena di sini pun masih zona hijau. Memang, pola pikir orang di sini masih aman-aman saja, Tapi kami juga mematuhi pemerintah, dan tidak akan masuk ke tempat yang dilarang apalagi keramaian. 

Sudah seminggu tak kunjung hilang, sejujurnya aku lebih khawatir dengan ayahku. Dia semakin hari semakin kurus. Berat badannya menyusut tiga puluh kilogram, mungkin lebih. Ayahku itu pemimpin, penggerak pekerjaannya, jadi dalam keadaan sakit pun ia ingin keluar rumah juga untuk bekerja padahal itu baik untuknya. Bersyukur, aku punya ayah yang kerja keras untuk anaknya, sudah beberapa hari ini kami makan tidak teratur, tapi ayahku masih sempat untuk memberikan makan enak. 

Sebenarnya aku juga tidak ingin memberatkan, aku hanya kadang-kadang saja minta uang jajan. Aku lebih sering menggunakan sumber keuangan keduaku, kebetulan aku punya mbanking. Bagiku new normal ataupun tidak, rasanya di kota sama saja. Karena kota ini juga termasuk zona hijau yang kalau aku lihat cafe dan supermarket, masih banyak pengunjung. 

Tapi aku berdoa, semoga di tempat lain, di kota-kota terkena COVID-19 dapat dilindungi Allah swt. Mereka diberikan ketabahan, dan juga tidak menyalahgunakan New Normal sebagai ajang untuk party. New Normal yang diberlakukan kiranya dapat membuat semua ini lebih baik. Karena bercermin dari negara lain, justru sejak adanya New Normal, maka kasus kian bertambah, bahkan yang sudah tidak ada pun, menjadi ada. Tentunya baik zona hijau maupun zona merah, harus selalu waspada terhadap pengunjung dari negara lain, atau dari kota lain. Kita tidak pernah tahu seperti apa keadaan negeri ini di masa depan, tapi semoga semuanya baik-baik saja. Seperti aku tidak tahu kondisi ayahku sekarang padahal setahun yang lalu masih sehat dan bugar.
Continue reading →
Sunday, 14 June 2020

Diri Manusia

1 comments




“Mohon maaf Mba, jika ingin masuk ke dalam silahkan pakai masker terlebih dahulu.” Husna menghela napas sembari keluar dan menaiki sepeda motornya. Kakaknya di belakang hanya geleng-geleng kepala lantaran Husna sudah diingatkan oleh Rahma.
“Tuhkan, aku bilang juga apa. Jadinya bolak-balik gini, kan,” ujar Rahma. Husna membawa sepeda motor itu dengan hati-hati menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, memang daerah itu punya spanduk bertuliskan, “Daerah Wajib Pakai Masker”. Tapi, seperti yang dijelaskan tadi, Husna orangnya memang keras kepala.
Sebenarnya yang di pikiran Husna sepanjang jalan adalah kapan pandemic ini akan berakhir, ia terlalu lelah untuk tetap berada di rumah. Ia merindukan masa di mana karaokean bersama sahabatnya, makan bersama, jalan-jalan, dan berfoto di mana pun kita mau. Andai kondisinya tidak seperti saat ini, orang-orang selalu was was untuk makan di manapun, berfoto di manapun, takut jika ada orang lain yang positif COVID 19 dan memegang tempat-tempat di area tersebut.
Seperti yang diketahui banyak orang, coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Bahkan jenis ini bisa menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
“Husna, ditanyain itu sama satpamnya mau ngapain? Kamu kok melamun terus sepanjang perjalanan.” Rahma menepuk pundak Husna yang baru tersadar akan lamunannya. Mereka duduk sembari menungu antrian dan sesekali melihat perkembangan COVID 19. Sudah ada 784 orang yang meninggal akibat virus mematikan ini di Indonesia. Bahkan ia yang seharusnya kuliah di luar kota harus mengikuti kuliah online.

Setelah Husna selesai mengurus m-bankingnya, mereka pun pulang dan seperti biasa membantu ibunda memasak untuk menyiapkan makan malam. Beberapa kali ibunda terlihat mengeluh sejak bertahan di tengah COVID 19. Banyak bahan pokok yang naik harganya. Untuk itulah, Husna dan Rahma selalu membantu ibu berbelanja.

“Kalian harus hati-hati ya, tukang ayam yang di depan, ada yang terkena corona,” ujar ayahnya. Sebenarnya Husna dan Rahma sama-sama tahu karena beritanya sudah tersebar. Sebenarnya, tukang ayamnya tidak kena, hanya saja laki-laki yang kos di situ yang positif, hal ini diketahui karena laki-laki tersebut mengikuti tes tantara dan berakhir diisolasi. Untung saja, masyarakat dan pemerintah cepat tanggap sehingga di kota ini belum ada satu pun yang kena.

Sejak berita ini menyebar, orang-orang semakin was-was bahkan hampir semua toko memiliki alat untuk menunjukkan suhu badan untuk meminimalisir corona. Bahkan pekerja-pekerja masih ada yang belum lockdown  karena mata pencaharian mereka hanyalah bekera di lapangan. Hal itu pula yang dirasakan Dewi, kakak sepupunya.

“Jadi kalian tetap seperti ini? Tanpa masker?” tanya Husna ketika selesai membeli bahan makanan dan singgah di toko Dewi.

“Ya, begitulah. Kadang-kadang pembelinya sering memaksa untuk cepat, padahal tangan kami cuma dua. Selagi pun, di sini memang orang-orang jarang pakai masker karena komunikasinya lama dan harga masker pun mahal,” jawab Dewi.

Husna dan Rahma saling melihat satu sama lain. Mereka tidak tega melihat orang-orang yang bekerja di lapangan tidak memakai masker dan kemungkinan terjangkit virus mematikan ini. Untuk itulah, mereka berinisatif untuk membelikan stok masker. Kebetulan teman Rahma ada yang berjualan masker dan murah.

Keesokan harinya, mereka mendatangi toko itu lagi, dan kemudian hendak membeli sesuatu kalua tidak saja suara teriakan itu membuat membuat mereka terkejut. Pemilik toko itu sepertinya terlihat marah dan membentak pekerjanya. Mereka melihat dengan mata nanar dan kemudian mendatangi pekerja itu ketika pemilik toko itu pergi.

“Ini, jangan lupa dipakai ya, sekalian handsanitizernya dibagi-bagi ya,” kata Husna sembari membagikan masker dan handsanitizer yang sudah mereka pesan.

“Dia memang suka galak, apalagi saat panas dan ramai begini, terima kasih ya,” jawab Dewi sembari memeluk mereka berdua. 

Kadang-kadang inilah yang dibutuhkan pada setiap diri manusia. Saling berbagi, saling melindungi satu sama lain. Tidak mangacuhkan peraturan pemerintah hanya karena kota itu belum terkena virus mematikan itu. Husna dan Rahma pulang setelah membagikan benda itu. Rutinitas yang ia lakukan setiap hari adalah kuliah online, begitu pun dengan kakaknya.

Hanya saja, kakaknya lebih sering menggunakan waktu luang untuk bermain mobile legend daripada belajar. Sedangkan Husna lebih memilih on social media dan melihat video tiktok orang-orang khususnya yang lagi viral karena petugasnya adalah perawat COVID 19. Setidaknya sebagai mahasiswa hanya itulah yang bisa mereka lakukan.

Continue reading →
Thursday, 4 June 2020

LEMBARAN BARU

3 comments



Hello. Namaku Sulis Rahmadani Hutagalung. Kelahiran 11 Desember di Kota Sibolga. Jika kalian baca bagian ini, artinya kalian ingin berkenalan, bukan? Ini adalah perkenalan sekaligus memulai lembaran baru untuk posting yang lebih rajin dan selalu melakukan hal yang lebih bermanfaat apalagi sejak ayahku sakit. Doain ya. :)

Aku sangat menyukai warna biru.

Hobiku adalah menulis dan menonton film, biasanya tulisan yang kubuat bergenre fiksi dan film yang kutonton bergenre mystery, romance, dan horror . Aku suka sekali dengan film yang mengandung unsur smart tapi pemainnya masih remaja.

Lagu yang sangat kusuka adalah lagu yang enak didengarkan. Tidak penyuka kopi dan senja. Tapi saat aku menyukai satu penyanyi aku akan mencari live musicnya. Begitu juga dengan film, aku akan senantiasa mencari actor dan aktrisnya.

Masih kuliah, semester 6 dan bergelut di bidang listrik yang sebenarnya bukan bidangku. Selain itu, aku mempunyai tiga adik yang di antaranya dua laki-laki dan satu perempuan.

Jika terlalu banyak hal yang kusampaikan saat ini, aku mohon maaf. Aku cuma berpesan, apa pun yang menurut kalian tidak menarik dalam blog ini sepenuhnya adalah selera kalian. Jika ada yang ingin diambil, jangan lupa cantumkan nama penulisnya. Semua tulisan dalam blog ini adalah resmi milik penulis.

Kalian yang ingin berbagi cerita dan masukan untuk next blog silahkan langsung email : sulisrahmadani@gmail.com.

Jangan lupa untuk yang mau berteman saling follow social media, dengan link yang ada pada beranda pojok kanan atas. Jika ada yang mau ditanyakan juga ada pada menu “Tanya Jawab”

Dengan adanya pandemic COVID-19 disarankan untuk semuanya tetap di rumah dan lakukan hal-hal yang bermanfaat untuk tidak keluar rumah. Karena Indonesia sudah memiliki banyak kasus dan dicanangkan agar “stay at home” untuk meminimalisir berkembangnya virus ini.

Jika ada yang punya wattpad boleh dishare juga cerita langsung add ya @sulisrha. Sehari-hari sebenarnya aku membawa Radio dari kampus, jadi kalau ada yang ingin titip salam juga bisa. Sayang, sejak kuliah online, radio itu seakan mati.

Jika ada yang suka membuat video dan sama-sama ingin menjadi content creator boleh difollow Instagram @sulisrha. Dan yang suka menulis juga boleh, karena aku juga merupakan bagian dari komunitas ODOP.

Sekali lagi, apa pun yang dilihat di sini adalah sesuai keinginan penulis. Tergantung sub topik apa yang ingin dibahas. Last but not least, thank you for everyone who read this. You guys Are Amazing. 😊

Continue reading →
Monday, 11 May 2020

Ramadan Punya Cerita

4 comments

"Ramadan is time to empty your stomach to feed your soul" (Google)


Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata Ramadan? Ya, tentu saja berpuasa, berbuka, sahur, dan yang paling penting adalah tarawih. Tapi jujur saja, Ramadan kali ini bukan Ramadan biasa, tapi penuh dengan cobaan. 

Salah satunya adalah Covid 19, perkembangan virus mematikan itu membuat semua orang mulai was-was untuk keluar rumah. Bahkan ada yang takut untuk sholat, bekerja, menghidupi keluarganya. Termasuk ayahku, ia memilih untuk bekerja di rumah, selagi pun kondisinya juga sedang tidak sehat, bukan karena virus itu, tapi karena ada penyakit lain. 

Sebenarnya bukan itu saja yang menjadi halangan, tapi masih banyak, seperti larangan untuk beramai-ramai, buka puasa bersama, atau ingin sekedar bercengkrama di restoran ternama. Semuanya dilakukan pemerintah agar bisa meminimalisir bahkan menghentikan virus itu berkembang. Daerahku bukan seperti daerah pada umumnya, di mana di kota besar sudah banyak yang terjangkit virus ini, sedangkan di daerahku, hampir tidak ada. Bahkan jikalau ada pun, sudah langsung ditangani seperti kasus penjual ayam di seberang Masjid Agung Kota Sibolga. 

Seorang laki-laki yang mengikuti tes tentara dan kemudian diketahui bahwa dia terjangkit corona, dan penjual ayam itu adalah pemilik kos di mana laki-laki itu tinggal. Oleh sebab itu, beberapa hari mereka dikarantina, lalu dipulangkan karena baik-baik saja. Sebatas itulah perjuangan di kota ini, hanya saja pemerintah di sini tidak kalah ketatnya.

Gerbang samping Masjid Agung Kota Sibolga

Sebagai Remaja Masjid Agung Kota Sibolga, kami sering ditugaskan untuk menjaga sabun-sabun di depan gerbang, dan masing-masing memiliki alat pengukur suhu. Ini dilakukan setiap hari khususnya sebelum shalat tarawih karena cuaca malam memang sangat rawan. Selain itu, di hari pertama berpuasa, kami membagikan masker untuk jamaah yang tidak membawanya. Kala itu memang cukup teratur, kamu juga tidak kewalahan karena jamaah tidak sebanyak Ramadan tahun lalu. 

Menara Masjid Agung Kota Sibolga


Tapi ini hanya untuk orang remaja dan dewasa, anak-anak dihimbau untuk shalat di rumah saja, begitu pun perempuan sebetulnya tapi karena aku juga ingin tarawih, selesai menjalankan tugas aku langsung mengambil shaf paling depan. Jangan lupa, di sini sering hujan, jadi kipas-kipas yang terlalu dekat agak dijauhkan.

Perjuangan kami tidak sampai di situ, sebelum berbuka puasa tepatnya sekitar jam 17.30, kami harus menyajikan kue-kue untuk jamaah yang buka puasa di Masjid, aku ingat sekali tahun lalu orang-orang di sini sangat ramai, dan kue-kuenya juga selalu kurang, tapi berbeda kali ini, banyak makanan yang berlebih dan oleh karena itu, kami membagikan dengan rata agar semuanya bisa terasa berkah. Kebaikan-kebaikan seperti inilah yang sering kali dijumpai setiap Ramadan.

Semua orang berlomba-lomba untuk bersedekah, khususnya kepada orang yang hendak berbuka. Kami selalu mencuci tangan dengan bersih sebelum menyajikan kue, mie, bubur, teh manis, setidaknya itulah yang paling kuingat sering diberikan oleh orang-orang. Kebersamaan kami bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kemajuan Masjid Agung ini, karena sudah beberapa hari ini, tadarus juga tidak diadakan dikarenakan malam hari banyak angin malam yang tidak menyehatkan. 

Tapi kebaikan itu terbukti, kemarin malam mulai diadakan tadarus, tepatnya setelah Nuzulul Qur'an. Pesertanya tidak sembarang, orang-orang yang biasanya dari Masjid lain berdatangan, maka kali ini tidak diperbolehkan. Tentu saja yang menjadi peserta adalah Remaja Masjid Agung Kota Sibolga. Kami berusaha secepat mungkin untuk mengkhatamkan Qur'an jauh sebelum hari raya. Bahkan kami berencana untuk membaca masing-masing satu juz agar tidak ketinggalan. 

Sebagai seorang mahasiswa, tentunya tidak lupa jika aku bukan libur, melainkan kuliah online.Isunya juga ini akan berlangsung sangat lama, aku bahkan merindukan kelasku, teman-temanku di Kota Medan, dan merindukan praktikum bersama mereka. Ada beberapa yang menurutku suatu kebahagiaan, tapi sebagian lagi adalah musibah. Pertama, aku tidak akan bisa mengikuti kerja praktek tahun ini padahal tahun depan aku harusnya bisa menyusun skripsi. Kedua, paket di sini tergolong mahal, beda dengan saat di Kota Medan. Ketiga, aku tidak akan bisa berkumpul bersama teman kuliahanku, atau sekedar untuk buka bersama seperti tahun sebelumnya.

Dan kebahagiaanku yang paling aku rindukan adalah pulang kampung, dan berkumpul bersama keluarga. Setidaknya inilah yang mengobati hatiku jika selalu di rumah. Makanan rumah memang selalu lebih enak dibandingkan makanan apa pun. Oleh sebab itu, aku masih bisa menikmati kuliah online di rumah aja. Selagi pun, adikku yang kuliah di Padang juga pulang, jadi kami benar-benar fokus untuk mengikuti kinerja Remaja Masjid Agung. 

Banyak yang mengeluh lantaran work from home hanya untuk orang-orang kaya. Karena buruh tidak bisa hanya berdiam di rumah. Kakak sepupuku contohnya, setiap hari bekerja di pasar, memakai masker, bahkan jika ada isu lockdown pun, toko mereka tetap buka. Sama halnya dengan salah satu senior di Remaja Masjid Agung, namanya Eki, ia tiap hari ke sana kemari untuk menghidupi keluarganya, bahkan saat rapat saja biasanya terlambat. Pernah sekali beliau bercerita bahwa, "Kita memang harus menjaga diri dari corona, khawatir itu wajar, tapi bagaimana mungkin buruh seperti kami ini, harus di rumah juga? Jika ada bantuan pemerintah dalam bentu uang per bulan tidak masalah, jadi apa pun yang menjadi pilihan kita, semoga selalu dirahmati Allah."

Tidak ada yang pernah membenci beliau, dia sangat dihormati. Seperti malam Nuzullul Qur'an kemarin, kami menampilkan nyanyian "Lailatul Qadar" dan "Bismillah" oleh Haddad Alwi di depan jamaah. Biasanya malam Nuzullul Qur'an akan sangat meriah di depan Masjid, ustadz berceramah di atas panggung, akan banyak jamaah yang duduk di depan dan menyaksikan dengan sangat khidmat. Tapi kali ini semuanya dilaksanakan di dalma masjid. Orang-orang yang menghadiri juga tak lain jamaah itu sendiri, termasuk kami yang bertugas membagikan jeddah ke para hadirin. 

Penampilan kala itu didominasi oleh Bang Eki selaku vokalis dari vokal grup kami. Suaranya sangat indah, dan bergema saat didengar, Banyak orang yang memotret, memvideokan penampilan kami itu. Kami sangat bersyukur semuanya berjalan dengan lancar. Bahkan Ketua BKM sangat terkesan dengan kinerja kami. Dan insyaallah jika jamaah selalu teratur seperti ini dan sama sekali tidak ada yang melanggar aturan, bisa jadi sholat ied akan diadakan pula. Dan kami akan sangat bersyukur jika itu terjadi. 

Mungkin banyak yang heran, kenapa di Kota Sibolga ini masih diadakan tarawih, tidak seperti kota-kota lain. Ya, banyak masjid yang masih mengadakan tarawih, bedanya dulu ceramah itu waktunya agak panjang jadi pulang tarawih hampir jam sepuluh malam. Namun Ramadan tahun ini, ceramahnya sangat singkat, bahkan jam setengah sepuluh, orang-orang sudah pulang dari Masjid, termasuk kami. Oleh sebab itu, ketua BKM sangat percaya dengan kami. 

Suasana Tarawih di Masjid Agung Kota Sibolga


Semua orang berharap agar selalu dilimpahkan rahmat bagi orang-orang yang beribadah tak henti di bulan puasa. Zakat fitrah juga sudah dibuka, dan teman-temanku juga banyak yang sudah kebagian tugas menjaga di Masjid, maupun berjalan ke rumah-rumah. Pengalaman itu sebenarnya sudah aku rasakan sejak SMP, tapi dulu pemerintah belum mewajibkan di rumah aja, jadi banyak hal yang berubah. Contohnya, buka bersama, berkumpul menjalankan zakat fitrah, duduk makan bersama, dan lain sebagainya. Dan yang paling aku rindukan saat ini adalah, Ramadan Fair.

Jika ada yang belum tahu, itu adalah suatu acara yang diselenggarakan setiap Ramadaan berupa lomba dan pameran. Seperti busana muslim, lagu religi, band religi, perkusi, dan lain sebagainya. Hadiahnya juga lumayan, dan makanannya juga sedap. Tapi itu sirna, karena jika kalian melewati Masjid, bukan itu yang ditemukan, melainkan jalanan kosong. Jadi banyak penjual yang lebih memilih mensedekahkannya ke Masjid untuk para jamaah. Dan itulah yang kami lakukan setiap hari.

Sebagai mahasiswa ada yang menjadi hak dan ada yang menjadi kewajiban. Aku tak henti mengikuti daring setiap pagi, siang, atau sore. Mengerjakan tugas, mengisi kehadiran untuk mengikuti UAS online nanti. Tapi untung saja, ada bantuan dari pihak USU untuk membeli paket internet yang disalurkan melalui transfer. Jadi semuanya bisa melakukan apa saja walaupun di rumah. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan itu tidak akan pernah dibiarkan begitu saja, melainkan tumbuh, dan membuahkan hasil yang baik.

Sebenarnya tidak ada Ramadan yang berbeda, hanya masalah waktu dan diri masing-masing. Kita tidak akan pernah bangkit jikalau selalu mengeluh apalagi hanya karena merasa tidak bebas di bulan ini. Banyak yang sebelumnya hobi begadang jadi sering tidur cepat, yang biasanya masih di luar keluyuran akhirnya di rumah saja, dan masih banyak lagi. Persepsi itulah yang harus kita tanamkan dalam diri masing-masing, karena siapa lagi yang menghentikan virus ini kalau bukan dari kita. Penyebaran itu cukup di kota besar saja dan ditangani sampai sembuh oleh pejuang medis di luar sana. 

Jangan pernah sepele hanya karena merasa kebal, karena banyak orang kuat seperti artis Andrea Dian yang selalu berolahraga juga terjangkit corona, dan alhamdulillah dia sudah sembuh karena mau patuh terhadap aturan. Indonesia, semoga lekas membaik. Lekas menjadi Indonesia yang merdeka sekali lagi, yang masyarakatnya mendengarkan himbauan, tidak semena-mena, tidak berbohong, dan selalu berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu untuk tujuan yang sama-sama membawa kebaikan. Khususnya membasi corona virus disease (covid 19)  dengan melakukan social distancing, mencuci tangan dengan bersih, dan selalu memakai masker ke mana pun, dan kapan pun kalian pergi.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan"


Continue reading →
Thursday, 7 May 2020

WHAT IS DRABBLE?!

17 comments

Mungkin sebagian orang yang mengunjungi blog ini kurang tahu apa sih itu Drabble. Bahkan ada pula yang berkomentar apakah ceritanya lanjut jika dalam kategori Drabble. Well, saya akan menjelaskan sedikit apa itu Drabble.

Dikutip dari Wikipedia, Drabble biasa disebut juga sebagai fiksi penggemar (lebih dikenal dengan sebutan FanfictionFF, atau Fanfic) merupakan suatu sebutan yang dikenal luar untuk karya-karya yang dibuat penggemar yang berhubungan dengan cerita tentang para tokoh (atau tokoh fiksi). Penulisan karya fiksi penggemar jarang diberi kuasa oleh pemilik karya asli, pembuat, atau penerbit; tulisan-tulisan itu juga hampir tidak pernah dipublikasikan secara profesional. Karena ini, banyak karya fiksi penggemar yang ditulis mengandung sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa penulis karya fiksi penggemar tidak memiliki tokoh-tokoh yang ada di cerita.

Namun yang perlu diketahui dari Drabble terdiri dari 100-200 kata. Meskipun tidak tepat berjumlah 100-200 kata, yang penting drabble itu sangat pendek. Sehingga jika tidak bisa mempelajari siapa tokohnya atau apa kelanjutannya, maka itulah fungsi Drabble. Ceritanya hanya pendek dan tersirat sehingga membuat pembaca harus bisa memahami makna Drabble tersebut. Dan oleh karena itu boleh juga dilihat beberapa contoh Drabble yang pernah saya tulis di kolom atas.

Nah sebagai tambahan saya juga akan menunjukkan referensi atau contoh drabble dan ini berjumlah 217 kata (karna dulu merupakan tantangan) saat saya mengikuti komunitas penulis sewaktu SMA.

Judul: Coffee


“Tok!” Kaca jendela itu berbunyi keras seperti membanting sesuatu. Aku berlari menuju asal suara, dan menemukan merpati putih itu tergeletak dengan satu sayapnya patah. Perlahan aku membuka jendela dan mengambil burung itu.

“Sarah, bubuk kopinya kau taruh dima—what? Apa yang kau lakukan pada merpati itu?” tanya Kezia, adikku dengan masih mengenakan seragam SMAnya.

Aku masih menghela napas dan kemudian mengobati luka merpati itu.

Seriously? Kau masih minum Kafein itu? Kau mengonsumsi Paracetamol saat pagi hari dan at least sudah mengonsumsi PCC hampir setiap hari.” Tapi yang diceramahi hanya tertawa sambil berlalu pergi.

Sesaat aku menoleh, merpati itu sudah hilang, hanya tersisa bulu-bulu rontok dari sayapnya. Dan anehnya, sekarang bulu itu mengkilap dan bercahaya. Aku memegangnya perlahan dan ingin membuangnya, tapi bulu itu seakan lengket dan menuntunku ke arah matahari.

Dan saat aku membuka mata, aku melihat awan dan merpati indah yang beterbangan. Awan yang bisa kusentuh dan aku seakan terbang bersama merpati.

“Terima kasih, sudah menyelamatkanku, aku ingin kau ikut bersama kami menemui bidadari.” Burung itu mengajakku bicara dan mengerjap perlahan.

Tapi kemudian aku tersadar dan mundur perlahan hingga jatuh dari langit. Untungnya, merpati besar berwarna merah itu menangkapku. Aku menikmatinya, indahnya pemandangan dari atas, sampai aku melihat adikku Kezia, melambai.

Oh c’mon, kau berhalusinasi lagi. Harusnya kopi membuatmu fokus.” Shit. Sudah berapa lama ini terjadi?


*** 
Untuk kesimpulan cerita, sebenarnya saya hanya ingin menggambarkan betapa kafein dapat membuat seseorang berhalusinasi sehingga tidak tahu membedakan mana dunia asli dan yang tidak namun dibalut dengan percakapan lucu sedikit. Ini merupakan tantangan genre fantasy dengan tema kafein, dan beginilah hasilnya :v. Maafkan jika kalian kurang mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Mungkin ini cukup menggambarkan apa itu Drabble.

Dan kenapa saya memutuskan menulis Drabble?
Ya karena memang saya suka mencoba beberapa karya fiksi terutama Drabble karena bisa membuat pembaca penasaran dan menerka maksud dan tujuannya apalagi jika diberikan tema, genre, hingga jumlah kata. Jika saya bisa menulis Drabble, maka kalian semua juga bisa. Ayo, coba menulis fiksi dalam 100-200 kata. :)
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)