ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Showing posts with label Lighthouse. Show all posts
Showing posts with label Lighthouse. Show all posts
Friday, 4 October 2019

Lighthouse From Naledi [The End]

4 comments
Reverse:
“Naledi ...,” panggil Raka yang membuat Naledi menoleh sebelum masuk kembali ke dalam Gua. “Apa yang akan terjadi dengan Key dan bangsa kalian?”


Mesentery sudah tidak ada lagi, kami lambat laun pun akan mati sesaat Tuan kami sudah kehabisan tenaga dan tidak bernapas lagi. Pergilah.”

Raka tidak tahu berkata apa saat mendengar Naledi bisa setegar itu menghadapi kematiannya. Naledi yang masih setia dengan Tuannya bahkan saat Tuannya pun sekarat.
Hana pun melambai tersenyum sembari pergi walaupun Naledi tidak pernah tahu apa maksud lambaian itu.

Dan tepat seperti yang Naledi katakan, setelah mereka berjalan satu kilometer melalui gurun, mereka akhirnya menemukan mercusuar itu. Berbekal minuman dari Naledi, mereka tidak pernah kelaparan dan memilih istirahat sebentar tepat di depan mercusuar itu. Ternyata mesentery yang ada dalam setiap manusia berfungsi juga.

Jeddah Lighthouse adalah mercusuar aktif yang terdapat di Jeddah, Arab Saudi. Hal inilah yang membuat mereka bisa dekat sekali dengan daerah gurun sekaligus menjawab pertanyaan Dewa.
Mercusuar berwarna putih setinggi 436 kaki  atau seratus tiga belas meter ini dinobatkan sebagai mercusuar  yang tertinggi di dunia. Jeddah Light terletak di ujung dermaga terluar, sebelah utara pintu masuk ke Pelabuhan Jeddah. Mercusuar ini terbuat dari beton dan baja, dengan bentuk silinder, dan di bagian bawah puncaknya terdapat bangunan bulat.

Dan di sini tepatnya mereka. Duduk menikmati Jeddah Lighthouse di malam hari. Dan menikmati tiga cahaya putih akan bersinar dari lampu utama setiap dua puluh detiknya. Semua berkat manusia baru bernama Naledi itu.

Manusia baru yang pertama kali mereka temukan dalam kecelakaan yang tidak disengaja. Manusia baru yang menyelamatkan hidup mereka entah beberapa kalinya. Manusia baru yang tidak sempurna namun memiliki kelebihan yang luar biasa. Tanpa Naledi, mereka tidak akan pernah sampai ke titik ini.

“Aku ragu bila kita kembali menjadi astronot, kita akan bernasib sama dengan Key,” ujar Raka membuka pembicaraan dengan raut wajah sedih mengingat nama mereka akan buruk di mata dunia.

“Sepertinya tidak, bila kita memiliki flashdisk itu,” sambung Dewa sambil memijit kakinya yang terlalu lelah.

Bintang di malam hari pun turut menyaksikan tiga orang berusia dua puluh satu tahun itu memandang gemerlapan langit. Astronot yang berusia delapan belas tahun saat pertama kali menjalankan misinya.

Hana yang sedari tadi diam akhirnya tersenyum seperti saat ia menggunakan alternatifnya, senyum yang tak bisa diartikan tapi ia yakin berhasil.

 Kedua temannya yang lain pun bingung mengartikan senyum Hana yang kini telah membaringkan tubuh di pasir yang dingin itu sesaat disusul Raka dan Dewa.

Sambil menepuk saku kiri celananya, Hana berkata, “Aku memiliki dua flashdisk yang sama, dan data itu masih di sini.”

***
THE END

note: akhirnya finish ya:)) semoga paham alur ceritanya :))
Continue reading →
Thursday, 3 October 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 7]

0 comments
 Reverse:
 “Manusiaku ...,” lirih Key sambil mengambil mesentery satu-satunya itu. Tapi sebelum mesentery itu sempat disentuh, kerangka itu tiba-tiba bergerak dan menatap sekeliling untuk kemudian berdiri dan berjalan pelan.


Key yang sebelumnya bersedih akhirnya gembira melihat ciptaannya dapat bergerak tanpa perlu diajari. Ingin Key memeluknya kalau tidak saja manusia baru itu memukul wajahnya hingga memerah.

"Tuan kau memaksakan mesentery cair itu bekerja dan pada akhirnya menyebabkan makhluk itu berubah, tidak menjadi ciptaanmu yang biasanya.” Naledi pertama membantu Tuannya yang berdiri akibat makhluk itu.

"Tidak. Dia ciptaanku. Aku tidak akan meninggalkannya, bahkan bila aku harus mengorbankan nyawaku menjadi manusia seperti dia,” balas Key kasar sambil menutup jalan keluar semua pintu dan menyuruh para Naledi untuk melindunginya.

Dengan kemarahan yang membuncah, Key memeluk manusia baru itu secara paksa agar menyatu dengan dirinya. T

Tapi percuma, manusia baru itu malah melawan dan pada akhirnya membuat Key kehabisan tenaga untuk melawannya. Di saat itulah para Naledi berusaha melumpuhkan manusia baru yang merupakan bagian mereka.

"Organ itu alergi terhadap asam, ambil air liur Tuan dan percikan ke mesentery makhluk itu.” Para Naledi itu langsung bergerak setelah Naledi pertama memerintah.

Key Alfido hanya pasrah dengan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Membiarkan makhluk itu mati begitu saja dengan tiga kali percikan asam yang berasal dari Tuannya.

Tanpa Key sadari, Hana, Dewa dan Raka menyaksikan kejadian itu dan perlahan keluar sesaat Key pingsan tak berdaya.

Setelah hal mengerikan itu, Naledi pertama yang dijumpai mereka langsung mengeluarkan mereka dari Gua kecil menuju Gua besar dan akhirnya sampai di balik batu tempat mereka pertama kali berhenti. 

“Biar kuberitahu satu hal, orang normal seperti kalian tidak berada di sini, mereka berada di ujung sana. Berjalanlah lurus sampai kalian menemukan sebuah menara dan di sana seharusnya kalian berada.” Naledi menunjuk menara yang begitu tinggi namun seperti tidak terlihat saat siang hari.

Raka tersenyum dan Hana lebih dulu memeluk Naledi  sambil mengucap perpisahan. Dewa yang awalnya enggan kemudian ikut memeluk Naledi karena bagaimana pun, Naledi yang memopohnya pada saat kakinya terluka.  
“Kau tidak berbohong bukan?” Dewa menyipitkan matanya yang langsung ditatap sinis oleh Hana. 

“Bangsa kami tidak berbohong, manusia normal yang lebih sering melakukan itu,” jawab Naledi. 

“Terima kasih Naledi, kau manusia baru pertama yang kami temui, mungkin bila Naledi lain yang menuntun, pasti kami akan tersesat.” Hana tersenyum sambil melambai walaupun Naledi hanya bisa diam dan memasang raut wajah datar.  

“Naledi ...,” panggil Raka yang membuat Naledi menoleh sebelum masuk kembali ke dalam Gua. “Apa yang akan terjadi dengan Key dan bangsa kalian?”
Continue reading →
Tuesday, 1 October 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 6]

6 comments

“Biasanya di sore hari menjelang malam, para Naledi berhenti bekerja dan tidur selama setengah jam, kalian keluarlah saat itu tiba, dan aku yang akan mengurus semua ini,” ujar Naledi sesaat setelah matahari mulai tenggelam dan digantikan bulan.

Tepat seperti yang Naledi katakan, para Naledi lain mulai tertidur pulas dan Key bahkan Raka masih berbincang. Saat kesempatan itu tiba, Naledi membukakan kurungan dan menuntun mereka keluar melewati Gua sempit di samping kurungan yang tertutup batu. Naledi menyuruh Hana dan Dewa menunggu sampai ia kembali membawa Raka. Di sisi lain, Raka yang masih diinterogasi Key pun akhirnya harus pasrah menerima tawaran untuk bekerja sama dengan Key. Sejak dulu, Raka memang menginginkan sebuah penemuan baru untuk ditunjukkannya pada dunia.

“Letakkan mesentery ini tepat di atas kerangka Naledi dan masukkan darah yang berasal dari wanitamu ke dalam serum ini.” Key memerintah Raka yang masih berjalan meletakkan mesentery.

“Hana? Kau memintaku mengambil darah Hana?” tanya Raka kasar sambil mundur secara perlahan.

“Hana? Hana sudah meminum air gurun itu, dan kau hanya perlu mengambil sisanya.” Key tertawa bengis dan merentangkan tangannya.

“Air gurun itu dapat membuat daya tahan tubuh seseorang meningkat, Hana tidak akan mati jika kau mengambil darahnya. Ayolah, kau hanya perlu mengambil apa yang telah kuberikan untuk temanmu,” sambung Key sambil menyeringai lebar dan menyuruh Raka untuk melakukan percobaan itu.

“Kau bajingan!” Raka mengumpat sambil melemparkan mesentery itu dengan kasar ke dalam kerangka yang telah utuh itu.

“Tidak! Bukan dengan cara seperti ini, kau pembawa bencana.” Key berteriak geram karena mesentery kesayangannya pecah di dalam kerangka tubuh yang telah sempurna. Sedangkan Raka mencari Hana dan Dewa yang kurungannya telah kosong. Belum sampai ia lima menit mencari, para Naledi keluar bersamaan dan mengejarnya yang terjebak dalam Gua kecil itu.

“Psst. Raka!” pekik Hana kecil dari Gua di samping kurungan yang tertutup batu saat Raka dikerumuni para Naledi. Perlahan Raka mendongakkan kepalanya dan melihat siluet Hana yang tengah memanggilnya untuk melewati batu besar itu.

“Tuan memanggil kalian, dia butuh bantuan!” Naledi yang pertama kali mereka jumpai itu memerintah seluruh Naledi untuk membantu Key yang terkena masalah. Raka memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.

“Manusiaku ...,” lirih Key sambil mengambil mesentery satu-satunya itu. Tapi sebelum mesentery itu sempat disentuh, kerangka itu tiba-tiba bergerak dan menatap sekeliling untuk kemudian berdiri dan berjalan pelan. 

***
to be continue...
Continue reading →
Monday, 30 September 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 5]

5 comments
Reverse:
“Awalnya aku hanya ingin memberitahu kalian untuk penemuan-penemuan baruku untuk memperbaiki namaku yang buruk di mata dunia, tapi sekarang aku ingin ... flashdisk yang kau miliki, Hana.” Key menyeringai lebar dan berjalan dua langkah. “Dua menit dari sekarang, atau kalian akan tinggal di sini bersamaku.”



Dewa sesegera mungkin memaksa Hana untuk memberikan, tapi Raka masih tak berkutik seakan pasrah dengan keadaan. Hana yang melihat tidak ada tanda-tanda alternatif lain, dengan berat hati membiarkan Key memiliki flashdisk itu dan data yang hampir sempurna mereka unduh itu akhirnya resmi dimiliki Key.

“Naledi, keluarkan mereka dan bawa mereka ke tempat mesentery!” Key memberi perintah sambil membawa mesentery dan flashdisk dengan senyum kemenangannya.

“Ap—apa? Kami sudah memberikan apa yang kau inginkan, Key!” Raka membentak Key yang sudah melanggar janjinya.

“Manusia bodoh! Pantas saja semua orang membencimu, selain karena obsesimu yang terlalu tinggi, kau juga ternyata pembohong besar, jangan-jangan semua yang kau katakan hanyalah sampah,” ujar Dewa saking geramnya.

Key sontak berbalik dan menghentikan langkah sembari menghampiri mereka dan berucap, “Hey pincang, kau pikir apa gunamu di dunia ini? Lihat kakimu, kalaulah Naledi yang kuciptakan tidak menuntunmu ke sini, pasti kau akan mati, lagi pun tidak ada yang ingin menahanmu, kau tidak akan berguna di sini.”

Setelah Key pergi, mereka saling bertatapan dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Kemungkinan mereka selamat sangat kecil, apalagi mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan, mati di sini dan mesentery mereka akan diambil, atau menjadi pengikut Key yang notabene ingin membuat manusia baru yang lebih sempurna.

“Tuanku meminta salah seorang dari kalian, kecuali si pincang yang kakinya terluka,” kata Naledi lain yang membuat Raka dan Hana sontak bertatapan.

Antara lega dan takut, Dewa menghirup napas pelan dan menyuruh Raka yang pergi.

“Hana, jagalah kondisi Dewa, biar aku yang pergi.” Raka tersenyum tipis untuk menenangkan teman-temannya seakan ia akan baik-baik saja. Sedangkan Hana langsung menahan darah yang terus menerus keluar dari kaki Dewa.

Setelah Naledi menuntun Raka menghadap Key, tanpa berlama-lama, Raka langsung menanyakan apa maksud Key memanggilnya.

“Ya, sudah kuduga. Tidak mungkin kau membiarkan perempuan itu yang menemuiku,” ujar Key.
“Katakan apa maumu agar kami keluar dari sini,” balas Raka.

“Sederhana. Aku hanya butuh tenaga kalian untuk membuat manusia baru seperti Naledi dalam wujud perempuan yang abadi, dan aku sudah membuat kerangkanya.” Key mengambil mesenterynya sambil berkata, “Dengan menggunakan ini.”

“Teorimu itu mustahil, Key. Mesentery hanya organ tambahan dan tidak akan bekerja begitu saja,” jawab Raka ketus. “Kau tahu, kau hanya perlu kembali ke Amerika dan menunjukkan flashdisk itu pada lembaga antariksa agar namamu tidak buruk.”

“Aku tidak akan dan tidak berniat ke sana lagi, hanya saja aku juga tidak ingin kalian berhasil menyampaikan dataset itu sebelum keinginanku tercapai.”

Sesaat Raka dan Key berbincang, Hana menyusun rencana untuk keluar dari kurungan itu melalui bantuan Dewa.

“Naledi, tolong panggilkan Naledi yang membuat cairan itu, sepertinya aku akan mati.” Dewa berpura-pura ingin pingsan demi bertemu dengan Naledi yang pertama kali mereka jumpai.

Untungnya, Naledi itu langsung membawakan minuman yang diminta dan serta merta menggantikan posisi Naledi sebelumnya.

Walaupun semua Naledi bentuknya sama, tapi Naledi yang pertama kali mereka jumpai memiliki bekas darah di tangan kanannya saat memopoh Dewa.

“Naledi, bisa kau lepaskan kami?” tanya Hana yang langsung dijawab Naledi dengan gelengan.

Mesenterylah yang bisa menghapuskan harapan Tuan kami, tapi disaat mesentery musnah, kami tidak akan bertahan hidup,” ujar Naledi menatap ujung Gua tempat Key dan Raka berbincang. “Itulah yang sedang mereka bicarakan, Tuanku ingin membuat manusia baru yang lebih sempurna.”

Dewa dan Hana saling bertatapan tidak percaya. Sedangkan Raka masih berada di ujung Gua tertutup yang berbahaya itu. Dan Dewa yang terluka itu hampir saja putus asa dan ingin mati dalam keadaan bijaksana andai saja perkataan Naledi itu tidak terlontar dan membuatnya berdiri dengan semangatnya.

*** To Be Continue...
Continue reading →
Saturday, 28 September 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 4]

1 comments
Reverse: 
Di dalam Gua itu terdapat beberapa Homo Naledi yang melakukan pekerjaan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dimulai dari membuat alat sampai membuat makanan.




“Hingga saat ini, jenis manusia paling tua yang ditemukan adalah Ardipithecus ramidus yang hidup empat juta tahun yang lalu, lalu ditemukan Homo Naledi dan berdasarkan analisis pada sekitar seribu lima ratus potongan fosil yang diduga milik lima belas individu, Berger mengungkapkan bahwa manusia Naledi itu merupakan perpaduan antara manusia modern dan purba.” 

“Perpaduan itulah yang membuat Naledi mudah diajari, baik berbicara maupun menggunakan alat bahkan menciptakan minuman.” Seorang laki-laki normal -Tuan Naledi- yang memakai topeng itu tiba-tiba muncul dan berdiri di depan puluhan Homo Naledi.

Tepat ketika topeng itu dibuka, Hana, Raka, maupun Dewa menganga lebar melihat wajah laki-laki itu. Wajah yang kerap dicari beberapa tahun silam. Seorang mantan astronot yang menghilang tiga tahun yang lalu ternyata masih bertahan hidup di tempat yang sama mereka singgahi.

Key Alfido. Astronot yang pertama kali diutus ke pluto untuk mengunduh file dan menyimpannya. Key Alfido yang ternyata masih berdiri dengan sehat tanpa bekas luka sedikit pun. 

“Naledi, tangkap mereka!” Key memerintahkan para Naledi untuk menangkap Hana, Raka dan Dewa serta mengurung mereka di sebuah penjara dalam Gua yang lebih kecil.

Dewa yang masih sial dengan keadaaan kakinya makin mengumpat tidak jelas dengan peristiwa yang menimpa mereka. Sedangkan Hana masih memegang flashdisk yang sebelumnya ia ambil dari saku kanan celananya. 

Raka masih memikirkan cara untuk keluar dari penjara sampai Key datang dengan membawa sebuah organ berwarna merah namun bersih dari darah yang sontak membuat Dewa memeluk Hana saking takutnya. 

“Kalian tahu apa ini?” tanya Key sambil menyodorkan organ itu dengan tangan kanannya. 

Hana perlahan menjauh dari Dewa dan mendekati Raka yang menggeleng menjawab pertanyaan Key.    

“Organ ini disebut dengan mesentery, sebuah organ baru yang ditemukan di sistem pencernaan. Awalnya dikira sebagai serpihan bagian organ, ternyata sebuah organ utuh yang berfungsi berkesinambungan,” jelas Key.

“Mesentery juga merupakan lipatan dobel dari selaput perut –segaris dengan rongga perut. Ia merekatkan usus kita ke dinding perut dan bertugas memastikan semuanya "terkunci" di tempat yang seharusnya. Jadi organ dalam perut  takkan berantakan bila aku tak makan apa pun.”

“Aku mengumpulkan bagian organ ini dari jasad teman-temanku yang telah mati dan memindahkan satu per satu organ untuk membentuk manusia seperti mereka. Begitulah mereka bertahan hidup. Walau hanya satu atau dua orang yang saat itu baru kutemukan, nyatanya sudah puluhan yang telah hidup dari mereka.”

“Lalu untuk apa kau kurung kami di sini?” tanya Hana sambil mendekati Key yang menatap flashdisk yang dipegang Hana. Key tahu benar flashdisk itu pasti berisi data seperti yang pernah ia lakukan dulu.

“Awalnya aku hanya ingin memberitahu kalian dan memperbaiki namaku yang buruk di mata dunia, tapi sekarang aku ingin ... flashdisk yang kau miliki, Hana.” Key menyeringai lebar dan berjalan dua langkah. “Dua menit dari sekarang, atau kalian akan tinggal di sini bersamaku.”

***
To Be Continue...


Continue reading →
Thursday, 26 September 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 3]

6 comments
Reverse Chapter 2:
Raka seketika berbalik dan membantu Hana untuk berdiri dan keluar dari pesawat. Sedangkan Dewa dibantu oleh laki-laki penolong tadi. Dewa yang sempat terkejut dengan penampakan laki-laki itu pun harus pingsan lagi dan terpaksa digendong keluar dari pesawat.


“Jadi, spesies apa kau ini?” tanya Hana sambil menatap manusia itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Homo Naledi, kami tidak bernama dan semua bangsa kami dipanggil dengan Naledi,” ujar Naledi sambil berjalan dan memopoh Dewa yang kakinya terluka. “Kami berasal dari Gua Rising Star bernama Dinaledi, di Afrika Selatan."

“Jadi ini masih di Bumi? Tepatnya di Afrika Selatan?” tanya Dewa tiba-tiba bangun yang sontak membuat Raka dan Hana terkejut mendengar suaranya.

“Benar di bumi. Tidak di Afrika Selatan. Dan tidak ada manusia normal seperti kalian yang hidup di tempat seperti ini, kecuali Tuan kami,” jawab Naledi.

“Sebenarnya kami juga tidak berniat ke sini, hanya saja salah satu di antara kami berusaha menerapkan alternatifnya sendiri dan menyebabkan kecelakaan ini.” Dewa menatap Hana sinis yang langsung ditengahi oleh Raka.

“Bagaimana kau bisa berbahasa seperti kami?” tanya Raka yang penasaran sedari tadi.

“Tuan kami yang mengajari kami, dia juga yang menciptakan minuman itu, Tuan mencari air di sekitar gurun dan kami yang mengolahnya,” jawab Naledi.

Otak manusia Naledi kecil, sekecil otak gorila. Giginya sederhana. Karakteristik dada manusia itu mirip kera, tetapi tangannya modern, mampu mendukung kegiatan membuat alat. Kakinya tegak mendukung kegiatan berjalan tegak, tetapi tangannya menekuk, mirip tangan monyet yang suka bergelantungan di pohon.

“Kita akan ke mana? Apa kita akan ke tempat Tuanmu?” tanya Raka sambil menatap Naledi yang terus berjalan tanpa mengenal lelah. Sudah beberapa jam waktu berlalu dan belum ada tanda-tanda makhluk itu akan berhenti.

Tapi Naledi itu tidak menjawab dan terus berjalan dan pada akhirnya sampai di sebuah Gua. Bila Gua tempat asal Naledi hanya harus melewati liang Superman Crawl yang lebarnya hanya dua puluh lima sentimeter dan Dragon Back yang lebarnya hanya 20 sentimeter maka Gua yang akan mereka lewati saat ini sangat besar dan lebar.


Di dalam Gua itu terdapat beberapa Homo Naledi yang melakukan pekerjaan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dimulai dari membuat alat sampai membuat makanan.

***
To be continue...
Continue reading →
Wednesday, 25 September 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 2]

20 comments

Reverse:  Chapter 1
Dalam sepersekian detik, Space Shuttle (NASA) yang mereka tumpangi itu melesat dengan kecepatan 17.500 mil atau dua puluh delapan ribu kilometer per jam menuju Bumi.




“Jika kita browsing dan mengklik sebuah tautan internet, maka kita harus menunggu beberapa jam hingga situs mulai proses memuat halaman dan itu baru menunggu proses memuat halaman yang dimulai, belum menunggu halaman tersebut dimuat atau ditampilkan sepenuhnya yang membutuhkan waktu beberapa jam lagi. Apa kalian belum mendengarnya?” tanya Hana menatap kedua temannya.

“Aku bisa memastikan data itu akan terunduh setahun lagi, itu pun belum mentransfernya ke bumi, bahkan membutuhkan waktu puluhan tahun. Kalian boleh pulang dengan pesawat cadangan, dan biarkan saja aku di sini,” sambung Hana sambil mengambil beberapa peralatan pesawat jika memang ia ditakdirkan untuk sendirian berada di dalam pesawat.

“Baiklah, aku akan pulang,” ujar Raka sambil mengemasi peralatannya dan hendak memulai mengeluarkan pesawat cadangan.

Tapi itu tidak sampai saat Dewa berteriak dan menganjurkan semuanya untuk tiarap setelah meteor-meteor itu berjatuhan dan menyebabkan Space Shuttle itu oleng dan mendarat secara paksa.

Sebuah teori terkenal menyatakan bahwa meteor-meteor itu jatuh akibat transformasi yang 

disebabkan oleh banyaknya bencana kosmik, di mana dua galaksi berbentuk cakram saling mendominasi, berada terlalu dekat dengan satu sama lain, kemudian dipaksa oleh gravitasi untuk bergabung menjadi satu galaksi. Penggabungan tersebut kemudian menghancurkan bentuk cakram dan menciptakan tumpukan bintang-bintang serta meteor-meteor.

Di saat mereka berpegangan tangan dan berdoa satu sama lain, pesawat itu ternyata sudah jatuh ke daerah gurun yang begitu panas. Bila di planet pluto tadi hawa sangat dingin dan seperti malam hari, maka daerah ini begitu panas dan siang hari.

“Apa kalian baik-baik saja?” Suara seorang laki-laki sontak membangunkan Raka yang pertama kali sadar dari kecelakaan pesawat itu.  

“Hana, Dewa, Bangun!” Raka mengguncang tubuh Hana yang masih terkulai lemas dan berdarah tepat di bawah kemudi pesawat yang menghimpit Dewa.

“Kau tidak akan melihat mereka lagi jika kau tidak memberikan ini pada mereka,” ujar laki-laki itu lagi –yang wajahnya tertutupi sinar matahari yang menyengat. Raka kemudian menerima cairan bening dalam tempurung yang disodorkan orang itu dan memberikannya pada Dewa dan Hana.

Raka kemudian berjalan pelan untuk melihat sosok itu. Sosok seorang manusia yang memiliki bulu lebat tebal di daerah pipinya, mata coklat dengan kulit hitam terdapat garis-garis keriput di wajahnya. Lubang hidung laki-laki itu lebih lebar dari lubang hidung penduduk bumi biasanya.

“Ini di mana?” tanya Hana sambil memijit kepalanya yang pusing.

“Singkirkan benda ini dari kakiku,” pinta Dewa sambil menahan sakit tak tertahankan dalam tubuhnya.

Raka seketika berbalik dan membantu Hana untuk berdiri dan keluar dari pesawat. Sedangkan Dewa dibantu oleh laki-laki penolong tadi. Dewa yang sempat terkejut dengan penampakan laki-laki itu pun harus pingsan lagi dan terpaksa digendong keluar dari pesawat.
Continue reading →
Monday, 23 September 2019

Lighthouse From Naledi

20 comments
"Ketika kamu terjebak di suatu tempat dan menemukan rahasia kelam dan hampir merusak segalanya."

“Aku tidak ingin mati bodoh di sini,” teriak Dewa sambil menggenggam erat kemudi pesawat yang ditumpanginya. Pesawat ulang-alik yang membunuh lebih banyak orang dibandingkan dengan kendaraan ruang angkasa lainnya dalam sejarah.  

Ledakan Challenger menewaskan tujuh orang, enam astronot dan satu guru, saat peluncuran misi ke-10 pada tahun 1986. Ledakan Columbia menewaskan tujuh orang saat masuk kembali ke Bumi pada tahun 2003. Dan mereka masih terjebak di pesawat yang sama –NASA.

Demi mendapatkan dataset pluto terbaik yang pernah dikumpulkan dengan foto resolusi tinggi, data atmosfer, dan lainnya, mereka harus mengorbankan hidup untuk memulai pengunduhan (downlinking) melalui NASA yang sebelumnya telah diunduh oleh New Horizon –wahana antariksa milik lembaga antariksa Amerika Serikat.

“Kita sudah tiga tahun di sini dan data yang diunduh masih delapan puluh lima persen, aku tidak percaya,” ucap Raka pasrah. 

Tapi Hana –astronot perempuan satu-satunya itu menatap kedua temannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tatapan seakan semua ini akan mulus untuk dilalui.  

Perlahan, dengan sekuat tenaga ia memulai alternatif dan menyimpan puluhan gigabyte data yang telah dikumpulkan oleh New Horizon sebanyak sisa dari data yang barusan mereka kumpulkan untuk nantinya ditransfer ke bumi dalam waktu satu tahun lamanya.

“Hana, apa kau gila?” tanya Dewa sambil memegang erat kemudi pesawatnya.

“Jika kau melakukan ini, kita tidak akan pernah pulang,” bentak Raka berusaha mengambil alih pengunduhan dari tangan Hana.

“Diamlah. Aku tahu apa yang kulakukan.” 

Dalam sepersekian detik, Space Shuttle (NASA) yang mereka tumpangi itu melesat dengan kecepatan 17.500 mil atau dua puluh delapan ribu kilometer per jam menuju Bumi.

***
To be continue... 
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)