ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Sunday, 3 November 2019

Biografi Wanita Tangguh bernama Jihan

1 comments


Jihan Mawaddah adalah seorang penulis kelahiran 1990 di Malang. Anak dari pasangan Ahmad Taufik Kusuma dan Sri Herawati ini sangat aktif dalam kegiatan sosialisasi pencegahan narkoba dan HIV AIDS. Tidak hanya seorang penulis, tapi juga seorang aktivis bahkan menjadi Koordinator Pelayanan Remaja Sehat Kota Malang 2018-2020

Jihan menjadi penyuluh spesialisasi narkoba dan HIV AIDS di Kementrian Agama Kota Malang serta menjadi Co-founder Gerakan One Week One Book Indonesia. Seorang perempuan penuh inspirasi yang menjadikan kisah hidup bagian dari buku-bukunya. Seorang co-founder wanita yang membuktikan bahwa wanita mana pun bisa menjadi bagian penting dalam suatu organisasi,


Wanita yang sudah menikah ini dulunya menapaki pendidikan di jenjang S1 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang dan D3 Studi Islam dan Bahasa Arab Mahad Aburrahman bi Auf Asean Moslem Charity Foundation. Membuktikan bahwa jurusan islam maupun pengetahuan tidak menghambat seseorang menjadi penulis, sekaligus wanita karrier, dibuktikan juga bahwa Jihan  merupakan Ketua Departemen Dakwah PDNA Kota Malang dengan masa bakti 2016-2020.

Hingga saat ini, ada 10 buku yang sudah ditulis oleh Jihan sekaligus diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Salah satu karya yang terinspirasi dari kisah nyatanya adalah Antologi Titik Terendah, di mana di tahun 2018 menjadi perantara Jihan menyalurkan inspirasinya karena saat di umur 25 tahun, ia tidak bisa memberikan keturunan lagi pasca histeroktomi. Sebuah maha karya yang memberikan pengaruh luar biasa pada orang-orang yang terutama sudah menikah untuk tetap memberikan dukungan pada pasangannya.

Beberapa buku lainnya yakni, Antologi Ruang Tengah, Antologi Perempuan (2018), Antologi Sahabat Sampai Surga (2018), Antologi  Hikmah (2019), Antologi Membahagiakan Ayah dan Ibu (2019), Antologi Kamus Istri (2019), Antologi Sederet Cerita Pecinta Buku (2018), Antologi Sederet Cerita Pecinta Buku (2018), Antologi Dari Hati (2019), dan yang akan diterbitkan Antologi My Beauty Journey. 

Selain itu, Jihan juga aktif di dunia blogger dengan nama blog www.jeyjingga.com dengan sedikit kekayaan untuk menambah Literatur Indonesia, dan di antaranya ada essay, kisah, kuliner, dan review yang bisa menambah pengetahuan. Jihan juga aktif di sosial media seperti Instagram dan Twitter, serta mengikuti komunitas One Day One Post untuk menambah ilmu dan juga memberi ilmu pengetahuan.


Continue reading →

Truth or Dare [End]

0 comments

Pertanyaan itu bukan untukku, melainkan untuk Murni. Karena sekarang dia terduduk menatap ketakutan padaku. Murni menutup mata sembari berkata, "Malam di mana aku melihat Sinta dan Usai berdua, mereka membicarakanku yang terlalu memohon cinta pada Usai. Padahal nyatanya, mereka saling mencintai. Sinta merelakan perasaannya seolah Usai memang memilihku padahal nyatanya ini semua adalah rekayasa. Aku juga tahu bahwa satu-satunya yang mencintaiku hanya Dide. Tapi Dide juga merelakan perasaannya pada Usai. Aku adalah benalu di sini, bukan?"

Aku tertegun. Murni ternyata mengetahui perjumpaan malam itu, awal dari semua kisah adalah memang karena Usai menyukaiku dan aku juga menyukainya hanya saja aku selama ini berpura-pura. "Dan aku mengetahui alasan kenapa kalian hanya berdua di sini, itu karena kau ingin merayakan ulang tahun dia kan, Usai?" tanya Murni sembari membentak.

Dide menunduk perlahan, berusaha menenangkan Murni. Tapi Murni menepisnya, dan melanjutkan, "Dide, kau pikir aku tidak tahu karena siapa orang tua Usai bertengkar. Karena mereka mendengar darimu bahwa Usai sering kali dibully  di sekolah, dipukul, itu karena orang tuanya tidak mendidik dia dengan benar, padahal nyatanya, kaulah yang menyebabkan Usai dibully.

Aku tertegun kembali, ini permainan yang sangat tidak adil. Ini sangat di luar akal pikiran manusia, bagaimana sosok itu bisa tahu detail apa saja yang terjadi antara semuanya. Aku kemudian menutup mata dan memegang tangan Usai jika sewaktu-waktu ada yang terjadi, juga menggenggam tangan Dide. Berada di antara mereka dan Murni di hadapanku walaupun aku tidak bisa melihat eskpresi wajahnya.

"Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh pembuatnya, sebutkan nama panjangnya."

Suara itu datang lagi, muncul dan membuat semua menoleh saat lampu itu akhirnya hidup, dan hanya satu orang yang bersuara, "Namaku, Dide Karisma."

Murni menatap sekeliling dan akhirnya terjatuh pingsan. Aku menenangkan Usai yang hendak memukul Dide karena kutukan itu berasal darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu sampai sebuah sosok bisa menghampirinya. Tepat saat itu ayah Usai dan ibuku benar-benar datang dan memeluk kami berdua. Aku memeluknya erat, walaupun dalam hati terasa sakit.

Ibuku dan ayah Usai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Sedangkan Dide masih tidak berkutik, dia hanya menggumam sembari berkata, "Aku tidak tahu sosok apa itu, dia seolah mengikutiku, sekali aku memainkan permainan itu bersama temanku, sosok itu mengikutinya, sama seperti itu mengikuti kalian. Maafkan aku, karena aku juga tidak ingin terkena kutukan itu."

Murni kemudian bangun, dan meminum segelas air putih sembari Dide di sampingnya menatap dengan tulus. Usai dan aku di sisi lain juga merasa khawatir terhadap Murni. Murni menatapku lama dan akhirnya memelukku. Mengucap penyesalan akan semua yang terjadi, mengucapkan belasungkawa juga terhadap Usai, dan mengucapkan permintaan maaf karena tidak pernah menyadari kehadiran Dide.

Malam itu, malam terpanjang menuju Halloween. Menyisakan beberapa kenangan, untuk tidak memainkan permainan di luar akal itu. Aku dan Usai memutuskan untuk tetap merasakan perasaan yang sama hingga akhirnya tiba sementara Murni dan Dide juga menjadi sahabat sampai Murni bisa menerimanya. Permainan termudah, tapi kemudian menjadi tersulit karena teka-teki iu ternyata lebih rumit dari yang seharusnya. :")

***
Tulisan ini fiktif oleh penulis dan merupakan tantangan pekan akhir untuk RWC ODOP BATCH 7. Selamat Membaca. :)
Continue reading →

Truth or Dare [4]

0 comments

"Dare or Dare? Bukankah permainannya antara Truth or Dare?" Aku bertanya tapi tidak ada jawaban. Sampai seseorang lagi mengetuk, dan kukenali suara berat di balik pintu sana. Dide, sahabat kecilku yang kutahu menyukai Murni sejak pertama kali aku memperkenalkan mereka.  Sayangnya, Murni lebih memilih Usai.

"Aku ke sini ingin mengabarkan sesuatu, Ibumu Sin, babak belur, katanya seseorang memukulnya." Dide membuat jantungku berdebar lagi, sakit sekali rasanya. Aku ingin pulang, aku harus meninggalkan mimpi buruk ini.

Namun belum sempat aku beranjak, pintu itu tertutup dan sulit rasanya dibuka. Seolah suara itu sangat dekat sekali, dia masih menyuruhku memilih Dare. Jika aku tidak menjawab selama satu menit, sesuatu akan terjadi padaku. Aku memilih untuk tidak percaya dan masih berkutat melawan pintu sampai Usai akhirnya bersuara dan menyuruhku untuk melakukan Dare sebelum semuanya berakhir tragis.

"Dare," ucapku. Akhirnya suara itu menghilang, tapi tidak untuk beberapa saat karena kemudian dia datang lagi dan membawakan tantangan yang di luar dugaanku. Dia menyuruhku untuk menampar Usai seperti sakit hatiku pada ayahnya. Jika kau bersikap lembut, maka aku berbohong dan aku tidak ingin sesuatu terjadi.

Murni melihatku dengan berkaca-kaca, sedangkan Dide memegang bahuku agar tak kulakukan hal keji itu. Dan tanpa kusadari, tanganku melayang dan menampar Usai dengan sangat keras sampai Usai terbaring dan Murni mengusap pipinya yang merah.

Dide yang melihat kejadian sadis itu akhirnya berontak dan menyuruh sosok itu bertanya pada dirinya. Dia tidak percaya dengan hal itu sampai, suara itu datang lagi dan menyuruhnya memilih antara Truth atau Dare. Dide tidak menjawab apa pun, dia bahkan menantang sosok itu untuk datang sembari dia memegang pisau sewaktu-waktu ingin membunuh.

Tapi beberapa detik kemudian, Dide malah mengarahkan pisau itu ke dirinya sendiri seolah ingin membunuh. Aku tidak membiarkan itu terjadi, aku menahan pisau itu sekuat yang kubisa dan akhirnya membuangnya. Dide termenung, dan akhirnya sadar bahwa permainan itu tidak main-main. Itu bukan lagi suatu permainan.

"Ceritakan kejadian seminggu yang lalu saat berada di jembatan. Akan kucabut kutukannya."
Continue reading →

Truth or Dare [3]

0 comments

"Sinta. Buka pintunya!" Suara ketukan itu mengagetkanku sekaligus berdiri dan membukanya, karena aku tahu persis suara siapa dibalik itu, Murni. Pacar Usai sekaligus sahabatku jauh sebelum aku bertemu dengan Usai. "Ada apa?" lanjutnya.

Aku hanya menariknya masuk dan menyuruhnya duduk. Sementara Usai masih berkutat dengan telepon genggam itu. Tanpa berlama-lama dia akhirnya memilih Truth. Tidak ada jawaban di telepon itu sampai kemudian suara itu muncul lagi, tapi lebih besar seolah dekat dengan kami bertiga.

"Apa yang kau lakukan kemarin malam?"

Usai tertegun. Matanya seperti ketakutan akan jawaban jika berbohong. Murni akhirnya memegang bahunya, dan menyuruhnya agar tenang dan menjawab.

"Aku memukul ayahku, sebab dia kutemukan bersama perempuan lain di ruangan ini," ujar Usai sembari menangis dan membuatku tertegun. Permainan ini bukan permainan sembarangan lagi, ini dapat membongkar semua peristiwa atau aib yang kita sembunyikan. Tapi nyatanya, aku pun tidak tahu apa dampak jika kami tidak menjawabnya dengan jujur.

"Jujurlah, atau malam ini akan jadi malam terakhir kalian."

Usai kemudian menahan tangisnya lagi, dan melanjutkan keseluruhan ceritanya. "Aku memukul ayahku, dan kutemukan dia bersama ibumu, Sinta."

Napasku tak terkendali, aku ingin pingsan saat itu juga, sampai Murni akhirnya menangkapku dan menenangkanku. Dia menyuruhku untuk tetap berpikiran positif bahwa yang terjadi bukan seperti yang diketahui oleh sosok itu. Aku benci permainan ini, aku tidak ingin lagi mendengar omong kosong ini. Aku memutuskan untuk beranjak dan menghidupkan lampu seolah saklar itu tidak ada yang mengendalikan.

Sekali aku menaikkan arah saklarnya lalu yang kuketahui sedetik kemudian adalah, lampu itu turun dan membuatnya mati lagi. Diselingi pertanyaan yang baru, Dare or Dare?
Continue reading →

Truth or Dare[2]

0 comments

"Truth or Dare? Pilih."

Suara itu kian dekat, membuat aku dan Usai saling bertatapan. Wajahnya pucat pasi, padahal kulitnya seharusnya tidak seputih itu. Dan tanpa kusadari, ternyata Usai memeriksa handphonenya sekaligus menghubungi teman-teman yang lain untuk datang ke sini. 

"Jawab, Sinta." Jantungku berdetak tak karuan saat sosok itu menyebut namaku. Bersamaan dengan matinya lampu dan membuatku sontak berteriak. Bahkan wajah Usai tak lagi bisa kulihat. Sembari  menghela napas, aku menjawab, "Truth."

"Di mana kau kemarin malam?" tanya sosok yang belum kelihatan wujudnya itu. Aku meneteskan mata perlahan, tak sanggup menceritakan kejadian pelik yang kualami kemarin. 

"Aku berada di jembatan, menyaksikan sebuah mobil kecelakaan dan kemudian mobilnya hangus terbakar," jawabku sambil menutup mata agar aku tak pernah melihat sosok apa pun di gelapnya ruangan ini. 

Tiba-tiba Usai berteriak, bahkan handphonenya terjatuh dan kursi itu bergetar seperti orang yang baru menerima kabar buruk. "Ibuku ... dia meninggal dalam kecelakaan di jembatan kemarin malam. Mereka baru mengabariku."

Seketika duniaku berhenti, permainan macam apa ini. Sungguh sangat tidak lucu, bahwa apa yang kemarin kualami bisa ada sangkut pautnya dengan yang terjadi malam ini. Sosok itu kemudian tidak terdengar lagi, lampu akhirnya hidup dan aku menemukan Usai dalam keadaan pingsan. Ternyata sejak tadi dia menangis dan terpukul akan kepergian ibunya. 

"Ibuku berjanji, akan melihaku tumbuh dewasa bersama orang yang kucintai," isaknya. Usai berulang kali terseduh mengingat kenangan yang terjadi bersama kedua orang tuanya sebelum pergi. Saat itu ayah dan ibunya sempat bertengkar namun akhirnya baikan dan ibu memutuskan untuk ke luar kota. Sedangkan ayahnya tinggal di rumah bersamanya. Lucunya, ayahnya juga belum pulang setelah berangkat kerja tadi pagi. Sampai sebuah telepon datang dan membuat dia sontak mengunci semua area rumah.

"Truth or Dare?"
Continue reading →

Truth or Dare [1]

0 comments


"Boo!" Aku mengagetkannya malam itu, tepat 30 Oktober di hari ulang tahunku. Dia yang masih ketakutan dan sangat anti dengan Halloween, tapi aku tanpa rasa bersalah mendatangi rumahnya. Beberapa menit dia tidak menggubrisku, bahkan menghela napas untuk jengkel pun tidak ada sama sekali. Ekspresinya datar, dan aku yang jadi takut malam ini.

Kemudian dia berdiri dan menyalakan komputernya, seperti mencari sesuatu dan aku masih melihat gerak-geriknya dari belakang. Dan tidak berapa lama, aku mendengar suaranya tertawa terbahak-bahak layaknya orang kesurupan. Aku berusaha untuk tetap biasa saja, tapi suasana semakin mencengkam, aku akhirnya lari menuju pintu keluar. Sayangnya, langkahku tak secepat langkahnya, karena saat ini, di rumah itu hanya ada kami berdua. Dan dia sedang menatapiku yang sedang jantungan.

"Takut, ya?" tanyanya dengan senyum sumringah disusul oleh tawanya yang menggema di rumah itu. Persis saat itulah baru aku menarik napas dengan lega. Berapa kali aku memukulinya dan membuat dia memekik kesakitan. Tidak setimpal dengan jantungku yang berkejar-kejaran. "Gitu aja takut," balasnya.

Aku memilih untuk diam dan menyeduh tehku. Sedangkan dia terus menerus meminta maaf padaku. Beberapa kali aku melihatnya merasa bersalah, padahal aku sudah memaafkannya. Lagi pula salahku juga yang memancing dia duluan. "Satu syarat," ujarku.

Dia kemudian duduk di sampingku sembari mengiyakan. Aku langsung mengeluarkan catatanku dan menulis Truth or Dare di beberapa baris itu. Truth or Dare, sebuah permainan antara kejujuran atau tantangan. Setiap pemain harus bertanya bergantian. Kebetulan karena hanya ada dua pemain, maka ini hanya antara aku dan Usai.

"Truth or Dare?"

Bulu kudukku merinding, tanganku bergetar, kami berdua bertatapan seperti orang yang melihat setan padahal tidak. Setidaknya aku tidak melihat wujudnya, karena suara itu bukan antara aku dan Usai, sebuah suara sebelum kami sempat memulainya.
Continue reading →
Saturday, 2 November 2019

Dear Raka

3 comments


Hari ini hujan turun sangat deras, sampai aku dan teman-temanku terus diusik petir dan akhirnya mati lampu. Aku tidak bisa menutup rasa sesalku kala aku tidak bisa pergi kemana-mana padahal ini malam minggu. 

Belum lagi rasa kangenku yang teramat sangat pada sang pujaan hati yang sedang "bekerja", anggap saja begitu. Setidaknya aku mengenalnya, dan aku kerap mengobrol dengannya via chat. 

Dia mengucap kangen berulang kali seolah sudah lama tidak berjumpa. Oh iya, aku melupakan fakta bahwa besok masih hari Minggu dan ada waktu untuk mengerjakan laporanku. 

Aku dirundung laporan beberapa hari ini, dasar teoriku belum kukerjakan, dan tulisan tangan itu belum kusentuh. Ah, aku sangat membenci praktikum. Membenci segala hal tentang laboratorium yang memaksaku melakukan hal pembodohan. 

Di sini, aku bersama kedua temanku menatap gelapnya cahaya padahal masih di waktu sore. Inginku menghidupkan data dan mentionan dengan teman onlineku, atau setidaknya membalas pesan whatsapp orang lain, namun ketakutan akan petir yang menyambut handphoneku membuat aku mengundurkan diri. 

Mengundurkan diri untuk menghidupkan data maksudnya. Padahal siang itu aku sudah makan tapi rasanya masih ingin makan lagi, dan kami pun memutuskan untuk makan bolu yanh kemarin dibeli temanku, Aliza. 

Sementara aku selesai memotong pepaya, petir itu terus menerus berdatangan, membuatku tak nyaman. Ingin tidur, tapi kasurnya terlalu sempit untuk ukuranku. Alhasil aku hanya menyender di kulkas sembari mengaku bahwa aku sangat benci hujan akhir-akhir ini. 

Hujan memang rezeki, banya kota yang belum mendapatkan hujan apalagi sederas ini, tapi di sini terlalu sering dan membuatku jenuh. Apalagi jika hujannya disertai petir dan angin kencang, jalan setapak akan banjir dan jemuran pun akan berhamburan. 

Sebuah pesan membuatku kembali terpaku. Maklum, sebagai orang yang dirundung cinta padahal bukan siapa-siapa. Bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa aku di hidupnya. 

"Di sini tidak hujan," ucapnya.

Aku kembali mengetik dan mengatakan tunggu saja bahwa hujan itu akan mengarah ke sana. Lagi-lagi ia menepis. 

"Aku bisa saja berkendara sekarang dan membuktikan bahwa hari ini tidak hujan." Ia tertawa terpingkal-pingkal. Aku tetap menyuruhnya untuk melakukan pekerjaannya. 

"Nanti temanmu marah karena terlalu sering membuka hp," balasku.

"Mereka senang ada yang jadi bucin." Lagi-lagi ia membuatku menahan tawa. Bucin adalah budak cinta, sebutan bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta dan mau menyenangkan orang yang disukainya. Belum tentu pacaran loh ya, contohnya kami ini. 

"Aku ke sana yah," ucapnya mengakhiri obrolan itu. Aku tidak menjawab, setidaknya aku tahu dia tidak pernah mengingkari janji. Aku juga melanjutkan aktivitasku bersama temanku yang lain, masih diselimuti gelapnya senja. 

Tapi tak sedetik pun ada kabarnya, aku lelah menunggu. Entah aku tahu dia benar-benar datang atau semuanya hanya khayalan. Atau dia tidak sedang baik-baik saja. 

Hingga dering telfon itu berbunyi, persis menggetarkan hatiku dan jantungku berdegup kencang. Aku mendengar bahwa dia menghilang, hanya motornya yang ditemukan berasap layaknya disambar petir atau kecelakaan. 

Tidak ada kabar darinya, tidak ada kekuatan yang membuatku paham tentang semuanya. Apakah dia memang masih baik-baik saja atau sudah menghilang dan tak pernah kembali. Handphonenya, bajunya, tidak ditemukan satu pun di malam itu. 

Sampai satu pesan mengakhiri pengharapanku di malam yang kelabu. Satu pesan yang membuat isak tangisku menggebu-gebu. Bahwa ia tak akan pernah kembali. 

Hari ini dia sudah ditemukan, sebentar lagi disholatkan dan dimakamkan. Kami mengharapkanmu datang. 

Satu kali aku mengecewakan diriku sendiri, lebih berat dari kecewanya aku mengetahui bahwa ia sudah tiada. Aku tidak tahu ingin menyalahkan siapa, karena kemauan dirinya sendiri yang ke sini. Apa aku harus menyalahkan Tuhan?

Seolah hari ini kami masih bertemu, berkeluh kesah, dia selalu mengantarku ke mana pun sebisanya. Lalu aku patahkan pengharapannya sebab aku selalu membencinya. Dan di malam ini aku menyadari, betapa aku merindukannya. Betapa aku mencintainya dengan jiwa ragaku. Seorang sahabat yang selalu ada suka dan duka.

Bahkan keluarganya juga sangat menyayangiku. Aku tidak tahu apakah ini nyata atau tidak, tapi hujan itu semakin deras, diselingin dengan isak tangisku yang akhirnya disadari oleh temanku. Mereka bertanya perihal apa, tapi kujawab dengan tangisanku. Hingga mereka menenangkanku. 

Aku benci hujan, sangat membencinya. Dia merenggut Raka Aditya dari genggamanku. Setidaknya aku belum pernah menjawab pertanyaannya atau pengakuan balik bahwa aku mencintainya. 


Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)