ALT_IMG

Want to Read?

Thank you so much for come. Akan sangat dihargai bila setelah dibaca berikan kritik dan saran, tapi yang membangun ya. Mungkin kita bisa berteman. You Guys Are Amazing Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Sunday, 6 October 2019

REVIEW MOBILE LEGEND

5 comments

Mobile Legend adalah suatu permainan online yang cara bermainnya berbasis war (perang), yang selalu terdiri dari dua tim yang akan bertanding, di mana dalam satu tim terdapat masing-masing lima anggota. Game ini memiliki tempat bertarung yang dinamakan Land of Dawn, serta di dalamnya terdapat tiga lane, yakni, top, bottom, dan middle. Namun, kunci utama dalam memenangkan pertandingan, adalah dengan menghancurkan turret.

Banyak Youtuber yang terkenal melalui game ini, yakni Jess No Limit, Oura Gaming, dan beberapa youtuber gaming lainnya. Game ini sangat terkenal hingga didownload seratus juta kali dengan 11.451.368 akun yang tercatat di Playstore. 

Mobile Legend dikembangkan dan diterbitkan oleh Moonton dan dirilis pada 11 Juli 2016. Dan di tahun 2017, game ini sangat booming bahkan anak-anak bisa memainkannya, melalu android maupun PC.

Game ini sangat melatih kecerdasan dalam menyusun stategi dan kekompakan tim, layaknya bermain di lapangan. Cara bermainnya pun sangat mudah, dan selalu diberikan tutorial bagi yang baru mendaftar akun, bahkan sekarang bahasanya sudah diperbaharui sebagian ke bahasa Indonesia.
Selain mudah dimainkan, game ini juga merupakan salah satu game War yang ukuran aplikasinya kecil, bahkan handphone yang memiliki sedikit RAM dapat mendownloadnya. Sangat cocok dimainkan dalam keadaan suntuk, atau bahkan stuck dalam berpikir, jika tidak ingin bermain untuk mengorbankan bintang, maka ada permainan Classic dan juga Brawl, serta dapat pula berlatih melalu V.S AI.

Namun, karena semua akun dapat mendownload game ini, banyak anak-anak yang tidak tahu cara memainkannya, bisa keluar sesuka hati, bermain sesuka hati, tanpa melihat kondisi cara bermain tim atau biasa disebut AFK. Hal inilah yang sangat mengganggu performa MLBB (Mobile Legend Bang-bang). 

Tapi, dalam setiap permainan, selalu ada tombol report untuk pemain yang sering AFK, dan Moonton memberlakukan hukuman yang pantas. Oleh karena itu, game ini sangat direkomendasikan bagi para gaming maupun masyarakat yang ingin mencoba tanpa harus mempelajari dengan sangat susah. Karena selain ukurannya sedikit, permainan ini juga mudah dipelajari, bahkan sesama teman dapat bermain bersama atau biasa disebut, Mabar. 

Dengan begitu, kemungkinan kenaikan bintang dan menjadi Pro Player serta Youtuber akan sangat besar. Game adalah bagian dari hobi, dan hobi yang bisa menghasilkan adsense adalah salah satu pekerjaan.
Continue reading →

Sampuraga

6 comments
Oleh: Sulis Rahmadani Hutagalung 


Sampuraga adalah kisah seorang pemuda di daerah Padang Bolak. Kisah ini sudah lama beredar bahkan ada bukti nyata, yakni adanya kolam air yang sangat panas di daerah Mandailing Natal. Bahkan kisah ini juga ada lagunya, dan diceritakan bagaimana asal mula Sampuraga. Tentang seorang pemuda yang merantau untuk mencari rezeki demi menghidupi ibunya.

Alkisah, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun hidup miskin, mereka selalu menyayangi satu sama lain. Bahkan mereka rela bekerja di ladang milik orang lain hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Hai Sampuraga,” sapa pemuda yang berlalu lalang di ladang itu. Karena begitu senangnya mereka pada sosok sampuraga yang jujur dan sangat rajin. Hingga pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh.

“Wahai, Sampuraga! Kau adalah sosok anak yang rajin, umurmu pun masih muda, lebih baik kau merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih layak, kau pasti menemukannya di negeri tersebut” Sang Majikan menepuk pundaknya sambil tersenyum.

“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga penasaran, “Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,” jelas sang Majikan. Mendengar hal itu, Sampuraga sangat senang seolah mimpinya terjawab.

“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh. Terlihat keinginan yang mendalam di mata pemuda rajin itu, hingga majikan pun tak segan memujinya.

“Kau pasti bisa Sampuraga, apalagi dengan cita-cita muliamu itu,” puji sang Majikan. Dengan bergegas, Sampuraga pulang ke rumah ibunya setelah sebelumnya mengulurkan tangan mengucapkan terima kasih kepada majikannya. Sampuraga menceritakan segala hal yang diucapkan oleh majikannya.

“Bu, bolehkah Raga merantau untuk memberikan kehidupan yang layak untuk ibu? Agar hidup kita pun bisa makmur, Bu” ucap Sampuraga kepada ibunya.  

“Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?” tanya ibunya memastikan di mana tepatnya anaknya akan bekerja. Anak yang dia panggil dengan sebutan Raga.

“Di Negeri Mandailing, Bu. Mereka menyebutkan bahwa tempat itu tanahnya subur, orang-orangnya makmur, bahkan majikan Raga sendiri menyuruh Raga untuk merantau ke sana,” jelas Sampuraga kepada ibunya yang hanya dijawab dengan anggukan lantas sesenggukan.

Tanpa melarang anaknya, ibunya pun berucap, “Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Maafkan Ibu, Nak, Ibu tidak bisa memberikan kebahagiaan yang kau inginkan.” Kemudian, ibunya pun memeluk Raga.

“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Mohon Doa dan Restunya buat Raga, ya Bu!“ Sampuraga dengan bahagianya menyalam ibunya dan dibalas pula oleh ibunya.

“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!”  seru sang ibu. Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. 

Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya. “Bu, hari ini Raga akan berangkat, jaga diri ibu baik-baik, jangan sampai sakit, tetaplah sehat hingga Raga pulang, dan jangan terlalu banyak bekerja keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.

“ Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” Ibu Raga sangat berat melepas kepergian itu, tapi ia juga berpesan agar Raga tidak melupakan jati dirinya dan pulang saat sudah berhasil.

Hati Raga bagai dihujam pisau, tak sanggu berpisah dengan ibundanya. Ibunda yang kerap selalu bersamanya sedari dulu ditinggalkan dalam kondisi dengan gubuk reot ini. Air mata tak terbendung, dan menetes begitu saja dari pelupuk matanya. Lagi dan lagi, ibunda kemudian menepuk pundaknya sambil berkata, “Sudahi air matamu. Jika memang takdir, kau akan pulang, Nak, tetaplah ingat siapa jati dirimu.”

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melewati beberapa perkampungan. Bahkan tantangan di hutan belantara tak lagi merupakan resiko besar demi pencapaian dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera. Sangat berbeda sekali dengan di kota dia dulu.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Saking rajinnya, Raga tak susah dalam mendapat pekerjaan, bahkan lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat.

“Aku tau dirimu Sampuraga, kau memang anak yang jujur, sebagai imbalan kau bisa mendapat modal usaha dariku,” ucap majikan tempat ia bekera tersebut.

Dan ternyata keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya. Tidak ada yang tidak kenal siapa Sampuraga, hanya saja orang tidak pernah tahu siapa latar belakangnya dulu, atau dengan siapa sebenarnya ia tinggal. Sang Majikan sangat senang dan bangga melihat keberhasilan Sampuraga. Ia bahkan berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.

“Raga, aku memang tidak mengenal perihalmu dulu, tapi aku tahu siapa kau sekarang, pemuda cerdas yang jujur dan sangat rajin. Dengan ini aku bertanya, maukah kau menikah dengan putriku dan menjadi menantuku?” tanya sang Majikan.

“Benarkah, Tuan? Saya juga sangat senang dengan putri Tuan yang cantik jelita itu. Saya bersedia untuk menikahinya, Tuan.” Sampuraga menjawab sambil berterima kasih kepada sang Tuan dengan sebesar-besarnya.

Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan. Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Apalagi keturunan pedagang yang kaya raya, tentulah pernikahan itu sangat mewah. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan.

“Sebentar lagi akan ada pernikahan putri saudagar kaya dengan pemuda bernama Sampuraga.” Berita itu bahkan tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, dan sudah bisa bekerja bersama dengan saudagar kaya itu.

Tapi ibunya tidak percaya, bahkan berulang kali hanya menepis seraya berucap, “Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Antara sedih, senang, bingung, ibunya pun ingin memastikan apa yang tersebar itu adalah benar anaknya atau tidak. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya yang tak lain dan tak bukan merupakan anaknya yang dulu pernah ingin memberikan kehidupan makmur untuknya. Raga sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri yang dulu ia berikan restu untuk merantau ke negeri ini.

Tapi kenapa anakku tidak mengabariku bahwa ia akan menikah? Pikiran itu membuat ibunya sedih, Namun tak memutuskan untuk membenci anaknya, bahkan saking rindunya, ibunya dengan cepat memanggil nama anaknya.

“Sampuraga!” pekik ibunya sangat lantang setelah sebelumnya dengan penuh perjuangan bertanya pada semua orang di mana anaknya. Bahkan orang-orang menganggapnya pengemis dan menertawakannya. Dan sekarang ia berulang kali memanggil nama itu, tapi tidak ada sahutan dari anak kandungnya itu.

Sedangkan Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.

“Sampuraga…Anakku! Ini aku Ibumu, Nak, kenapa tidak beritahu kau akan segera menikah?” seru nenek tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga yang dulu selalu terngiang di kepalanya.

“Kau terlihat sehat, Nak. Kau sudah kaya dan makmur persis seperti yang kau ucap dulu saat minta restu untuk pergi merantau ke negeri ini. Dan kau juga memiliki permaisuri yang cantik jelita. Ibu merindukanmu, Nak. Kenapa kau tidak pulang untuk melihat keadaann ibu?” kata sang ibu tertatih-tatih sambil memegang tongkat di tangannya.

Namun bukan pelukan hangat yang didapatkan ibunya, justru penolakan yang sangat luar biasa. Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir seolah sangat malu akan kehadiran ibunya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Padahal ia mengingat jelas itu adalah ibunya, namun rasa malu mengalahkan semuanya. Ia membela seolah ibunya lah yang mengaku-ngaku. Semua ajudan yang memegang tombak sontak menghalangi ibunya hingga jatuh dan terduduk begitu saja.

“Ibuku? Mana mungkin aku punya ibu tua jelek sepertimu! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Aku bahkan tidak ingat pernah meminta restumu. Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku dan mempermalukanku di depan keluargaku!” bentak Sampuraga sambil berdiri seolah mengusir.
Berulang kali ibunya mencoba berdiri namun terus dihadang oleh ajudannya hingga tangan ibunya berdarah tertimpa tombak. Tangan kirinya berulang kali mengulurkan untuk menyentuh Sampuraga, anaknya. Sedangkan saudagar kaya dan putri jelita itu menatap bingung. Bahkan berulang kali putri itu menyuruh Sampuraga untuk mengaku, tapi Raga bahkan mempertahankan kebohongannya.
“Kakanda, bila memang ini ibumu, katakan saja, dan minta maaflah padanya,” kata putri itu menenangkan calon suaminya.

“Sampuraga…. Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Dulu aku sangat menyayangimu karena kau pekerja keras dan rajin, jujur dan menyenangkan ibumu yang tua renta ini. Sekarang kenapa kau berubah, Nak? Ibu bahkan berhari-hari memikirkanmu yang tidak pulang takut jika terjadi sesuatu hal padamu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu sembari meneteskan air mata yang tak terbendung lagi. Bahkan darah segar yang mengalir dari tangannya sudah bercampur dengan air matanya.

“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku tidak mungkin ada di sini. Ibuku sudah lama meninggal dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga yang lantas diikuti Algojo dengan secara paksa akhirnya menyeret si ibu yang tangannya sudah berlumuran darah. Bahkan Alhojo itu pun tidak memiliki belas kasih pada perempuan tua itu, mereka benar-benar percaya bahwa ibu Sampuraga memang telah tiada.

Pemandangan itu membuat sang putri takut dan bersedih, sedangkan hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Dengan teganya ia mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Tidak hanya mengingkari tujuan utamanya, namun segala hal yang ia dapatkan di sini benar-benar membuatnya lupa diri sampai tidak tahu seberapa penting dan makbulnya doa seorang ibu. Sampuraga membiarkan perempuan itu tersakiti dan berlinang air mata. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya. Bahkan sang putri pun hanya diam dengan mata yang nanar.

Ibunya pasrah menghadapi segala hal yang terjadi apalagi sejak anaknya tidak mengakuinya. Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, dan rasa kecewa yang luar biasa, perempuan tua itu berdoa: “Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri. Biarkan ia mendapat ganjaran akan perbuatannya.” Ibunya bahkan bersenandung memanggil nama Sampuraga.

Seketika itu juga, tanpa berlama-lama, pesta itu berubah menjadi bencana yang luar biasa. Tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan dan memekakkan telinga akan suaranya. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Sampuraga dan permaisurinya menyaksikan langit tampak menyeramkan seperti itu. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya. Semuanya lenyap, bagai disapu bersih tanpa ada tanda-tanda kehidupan sebelumnya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Jika teman-teman melihat, di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang. Bahkan saking tersebarnya kisah ini, jika ada anak yang durhaka, maka diceritaknlah siapa Sampuraga. Bahwa anak-anak itu dapat dengan sekejab berubah menjadi air panas tersebut.

Bahkan saya sendiri pun pernah sewaktu kecil dibawa ke sana, dan air panasnya itu begitu panas hingga uapnya sangat banyak. Bila sebuah telur dimasukkan ke dalam air panas itu, maka matanglah dalam beberapa menit. Mungkin teman-teman familiar dengan cerita ini, karena jalan ceritanya mirip dengan Malin Kundang, tapi cerita rakyat memanglah tidak satu, melainkan banyak, dan dengan beda judul tapi makna yang sama. Saya juga pernah melihat langsung videonya, ada lagu Sampuraga yang sering diputar dulu berbahasa Mandailing yang sangat menggugah hati saya. Menangis menyaksikannya, dan cerita di atas adalah versi saya tentang Sampurga. Semoga teman-teman dapat memetik pelajaran dari cerita ini, bahwa setinggi apa pun derajat kita nanti akan kalah dengan doa restu orang tua saat mendoakan maupun mengutuk anaknya.

“Tulisan ini untuk memenuhi tantangan ODOP Batch 7”


Continue reading →
Saturday, 5 October 2019

Searching for Upnormal Network

0 comments
Cafe adalah salah satu tempat konsumsi internet terbanyak dalam ruang lingkup publik. Faktor yang sangat mempengaruhi pengunjung untuk mendatangi suatu cafe adalah Wifi.

Wifi adalah suatu sinyal yang saat ini menjadi incaran orang-orang di ruang publik, tidak hanya di cafe, melainkan di suatu taman, atau daerah kampus yang memiliki wifi gratis apalagi tanpa password. Bahkan banyak orang lebih memilih memasang wifi di rumah dibanding menggunakan kartu internet.

Tidak hanya WiFi, hotspot Portable juga menjadi sorotan warga pengguna internet. Karena Hotspot Portable adalah suatu perantara internet tercepat jika kondisi jaringan tidak stabil jika kartu yang berbeda.

Misalnya pengguna Tri atau Indosat akan kesulitan di beberapa tempat yang jaringannya tidak tercapai, akan tetapi Telkomsel dapat diakses, dan hal yang harus dilakukan hanyalah meminta pengguna Telkomsel menghidupkan Hotspot Portablenya. Bagi pengguna dengan kartu internet yang tidak dapat dijangkau, hanya dengan menghidupkan Wifi dan meminta password dari teman yang jaringannya lancar.

Tidak sedikit anak mahasiswa atau orang dewasa lainnya menghabiskan waktu di cafe apalagi dengan kualitas internet dan jaringan yang bagus. Baik itu dalam mengerjakan tugas mau pun bermain game.
Seperti salah satu cafe terkenal di Kota Medan yakni Warunk Upnormal. Sama seperti cafe kebanyakan atau warung elite lainnya, Upnormal memiliki banyak menu santap yang harganya sudah diminimalisir namun tetap dibayar di awal.

                                             

Dengan biaya parkir yang terbilang murah, warunk Upnormal banyak diminati para anak muda zaman sekarang. Apalagi setelah masuk, pengunjung selalu diberikan arahan agar duduk di tempat yang disediakan, termasuk tempat-tempat ber AC mau pun tempat terbuka dan semuanya free Wifi.

                                     

Selain disuguhi makanan yang unik, ternyata Warunk Upnormal juga menyajikan password wifi dengan unik pula, yakni menaruhnya di dalam struk makanan yang kita pesan sehingga tanpa harus bertanya pun, kita dapat menggunakannya.

                                              

Dan ternyata jaringan wifi nya pun stabil bahkan tergolong kencang, hal inilah yang semakin membuat publik merasa senang berada di sekitar cafe ini.

                                     

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya orang yang duduk dan bersantai di siang atau malam hari. Karena tidak sedikit orang yang tergiur dengan cafe yang kualitas internetnya tergolong kencang.
Artinya masyarakat pasti memilah suatu tempat atau cafe yang digunakam untik bercengkrama apalagi sambil bermain Game maupun mengerjakan tugas.

                                                   

Melalui sinyal detector juga terbukti bahkan rata-rata hanya memiliki dua digit per ms. Jadi salah satu cafe di Medan ini merupakan salah satu bukti kemajuan internet di ruang publik. Karena dengan banyak pengunjung, Wifi tetap berjalan dengan lancar.

Karena pada dasarnya, orang-orang akan selalu mau bayar mahal jika tempat itu memang berkualitas, terutama di bagian jaringan apalagi yang sudah dibenahi dengan Wifi.

Tentu jika suatu tempat menarik perhatian, maka pasti akan direkomendasikan untuk ajakan pada teman-teman yang lainnya. Oleh karena itu, di era teknologi yang semakin maju ini, tidak ada alasan lagi jika suatu cafe tidak mau menyuguhkan kualitas internet yang bagus untuk dikonsumsi.

Karena pada nyatanya, baik pengunjung mau pun orang-orang yang bekerja di cafe itu pastilah membutuhkan jaringan yang baik pula. Dan bagi pengguna internet jangan pernah takut untuk mendatangi suatu cafe yang terkendala jaringan, karena pihak cafe pastilah mencari tempat yang pas untuk jaringan yang stabil. Selamat menikmati kualitas internet yang baik.
Continue reading →
Friday, 4 October 2019

Lighthouse From Naledi [The End]

4 comments
Reverse:
“Naledi ...,” panggil Raka yang membuat Naledi menoleh sebelum masuk kembali ke dalam Gua. “Apa yang akan terjadi dengan Key dan bangsa kalian?”


Mesentery sudah tidak ada lagi, kami lambat laun pun akan mati sesaat Tuan kami sudah kehabisan tenaga dan tidak bernapas lagi. Pergilah.”

Raka tidak tahu berkata apa saat mendengar Naledi bisa setegar itu menghadapi kematiannya. Naledi yang masih setia dengan Tuannya bahkan saat Tuannya pun sekarat.
Hana pun melambai tersenyum sembari pergi walaupun Naledi tidak pernah tahu apa maksud lambaian itu.

Dan tepat seperti yang Naledi katakan, setelah mereka berjalan satu kilometer melalui gurun, mereka akhirnya menemukan mercusuar itu. Berbekal minuman dari Naledi, mereka tidak pernah kelaparan dan memilih istirahat sebentar tepat di depan mercusuar itu. Ternyata mesentery yang ada dalam setiap manusia berfungsi juga.

Jeddah Lighthouse adalah mercusuar aktif yang terdapat di Jeddah, Arab Saudi. Hal inilah yang membuat mereka bisa dekat sekali dengan daerah gurun sekaligus menjawab pertanyaan Dewa.
Mercusuar berwarna putih setinggi 436 kaki  atau seratus tiga belas meter ini dinobatkan sebagai mercusuar  yang tertinggi di dunia. Jeddah Light terletak di ujung dermaga terluar, sebelah utara pintu masuk ke Pelabuhan Jeddah. Mercusuar ini terbuat dari beton dan baja, dengan bentuk silinder, dan di bagian bawah puncaknya terdapat bangunan bulat.

Dan di sini tepatnya mereka. Duduk menikmati Jeddah Lighthouse di malam hari. Dan menikmati tiga cahaya putih akan bersinar dari lampu utama setiap dua puluh detiknya. Semua berkat manusia baru bernama Naledi itu.

Manusia baru yang pertama kali mereka temukan dalam kecelakaan yang tidak disengaja. Manusia baru yang menyelamatkan hidup mereka entah beberapa kalinya. Manusia baru yang tidak sempurna namun memiliki kelebihan yang luar biasa. Tanpa Naledi, mereka tidak akan pernah sampai ke titik ini.

“Aku ragu bila kita kembali menjadi astronot, kita akan bernasib sama dengan Key,” ujar Raka membuka pembicaraan dengan raut wajah sedih mengingat nama mereka akan buruk di mata dunia.

“Sepertinya tidak, bila kita memiliki flashdisk itu,” sambung Dewa sambil memijit kakinya yang terlalu lelah.

Bintang di malam hari pun turut menyaksikan tiga orang berusia dua puluh satu tahun itu memandang gemerlapan langit. Astronot yang berusia delapan belas tahun saat pertama kali menjalankan misinya.

Hana yang sedari tadi diam akhirnya tersenyum seperti saat ia menggunakan alternatifnya, senyum yang tak bisa diartikan tapi ia yakin berhasil.

 Kedua temannya yang lain pun bingung mengartikan senyum Hana yang kini telah membaringkan tubuh di pasir yang dingin itu sesaat disusul Raka dan Dewa.

Sambil menepuk saku kiri celananya, Hana berkata, “Aku memiliki dua flashdisk yang sama, dan data itu masih di sini.”

***
THE END

note: akhirnya finish ya:)) semoga paham alur ceritanya :))
Continue reading →
Thursday, 3 October 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 7]

0 comments
 Reverse:
 “Manusiaku ...,” lirih Key sambil mengambil mesentery satu-satunya itu. Tapi sebelum mesentery itu sempat disentuh, kerangka itu tiba-tiba bergerak dan menatap sekeliling untuk kemudian berdiri dan berjalan pelan.


Key yang sebelumnya bersedih akhirnya gembira melihat ciptaannya dapat bergerak tanpa perlu diajari. Ingin Key memeluknya kalau tidak saja manusia baru itu memukul wajahnya hingga memerah.

"Tuan kau memaksakan mesentery cair itu bekerja dan pada akhirnya menyebabkan makhluk itu berubah, tidak menjadi ciptaanmu yang biasanya.” Naledi pertama membantu Tuannya yang berdiri akibat makhluk itu.

"Tidak. Dia ciptaanku. Aku tidak akan meninggalkannya, bahkan bila aku harus mengorbankan nyawaku menjadi manusia seperti dia,” balas Key kasar sambil menutup jalan keluar semua pintu dan menyuruh para Naledi untuk melindunginya.

Dengan kemarahan yang membuncah, Key memeluk manusia baru itu secara paksa agar menyatu dengan dirinya. T

Tapi percuma, manusia baru itu malah melawan dan pada akhirnya membuat Key kehabisan tenaga untuk melawannya. Di saat itulah para Naledi berusaha melumpuhkan manusia baru yang merupakan bagian mereka.

"Organ itu alergi terhadap asam, ambil air liur Tuan dan percikan ke mesentery makhluk itu.” Para Naledi itu langsung bergerak setelah Naledi pertama memerintah.

Key Alfido hanya pasrah dengan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Membiarkan makhluk itu mati begitu saja dengan tiga kali percikan asam yang berasal dari Tuannya.

Tanpa Key sadari, Hana, Dewa dan Raka menyaksikan kejadian itu dan perlahan keluar sesaat Key pingsan tak berdaya.

Setelah hal mengerikan itu, Naledi pertama yang dijumpai mereka langsung mengeluarkan mereka dari Gua kecil menuju Gua besar dan akhirnya sampai di balik batu tempat mereka pertama kali berhenti. 

“Biar kuberitahu satu hal, orang normal seperti kalian tidak berada di sini, mereka berada di ujung sana. Berjalanlah lurus sampai kalian menemukan sebuah menara dan di sana seharusnya kalian berada.” Naledi menunjuk menara yang begitu tinggi namun seperti tidak terlihat saat siang hari.

Raka tersenyum dan Hana lebih dulu memeluk Naledi  sambil mengucap perpisahan. Dewa yang awalnya enggan kemudian ikut memeluk Naledi karena bagaimana pun, Naledi yang memopohnya pada saat kakinya terluka.  
“Kau tidak berbohong bukan?” Dewa menyipitkan matanya yang langsung ditatap sinis oleh Hana. 

“Bangsa kami tidak berbohong, manusia normal yang lebih sering melakukan itu,” jawab Naledi. 

“Terima kasih Naledi, kau manusia baru pertama yang kami temui, mungkin bila Naledi lain yang menuntun, pasti kami akan tersesat.” Hana tersenyum sambil melambai walaupun Naledi hanya bisa diam dan memasang raut wajah datar.  

“Naledi ...,” panggil Raka yang membuat Naledi menoleh sebelum masuk kembali ke dalam Gua. “Apa yang akan terjadi dengan Key dan bangsa kalian?”
Continue reading →
Wednesday, 2 October 2019

Signal Detector di Bawah Pohon Rindang

9 comments










Signal Detector Di Bawah Pohon Rindang

Mendengar kata “pohon rindang” yang terbayang di benak saya maupun beberapa orang pastilah sebuah tempat yang penuh dengan pohon rindang, yang di setiap sudutnya dapat dirasakan angin berhembus dengan sejuknya. Banyak orang yang bercengkrama sehabis kuliah dan duduk menikmati pemandangan serta bermain bersama gadget mereka.

Parkiran di Bawah Pohon Rindang

Di bawah Pohon Rindang (DPR) adalah julukan setiap mahasiswa Universitas Sumatera Utara pada tempat yang memiliki tempat parkir dan tempat duduk melingkar dan diapit oleh banyak pohon rindang di sekitar Fakultas Teknik.

Orang-orang bercengkrama di bawah pohon rindah

Setiap orang yang duduk bahkan yang bercengkrama sedang menunggu tumpangan pulang, pastinya selalu memainkan gagdet, baik itu yang bermain Mobile Legend, PUBG, maupun sosial media lainnya. Terutama aplikasi Grab atau Go-jek yang menjadi ciri khas mahasiswa ketika tidak ada tumpangan. Oleh karena itu, dalam mengakses seluruh aplikasi yang digunakan orang-orang sekarang, diperlukan internet. 

Seorang mahasiswa sedang bersantai di DPR

Namun, internet seperti apa yang dibutuhkan? Ada berbagai macam kartu dan sinyal yang mempengaruhi stabilitas jaringan di masing-masing android. Ada yang 3G, 4G, dan bahkan tidak ada sinyal sama sekali. Akan tetapi, kualitas internet di ruang publik sekarang ini semakin esktrim, dan bisa diakses sekalipun hanya di bawah pohon rindang.

Di bawah Pohon Rindang (DPR) hampir memiliki semua akses internet. Baik itu telkomsel, tri, smartfren maupun indosat. Dilansir dari kompas.com pada bulan enam, bahwa kecepatan internet tercepat masih diungguli oleh Telkomsel, akan tetapi masyarakat sekitar USU lebih sering menggunakan Tri (3) USU dikarenakan harga kartu internet Telkomsel mahal.

Kartu Tri USU adalah kartu Tri yang saat ini menjadi kartu termurah dengan kualias internet medium, hanya berkisar Rp 10.000,- dengan masa aktif satu minggu serta kuota 10GB dan bisa diakses 24 jam nonstop, dengan syarat hanya meregistrasi setiap kartu yang dipakai, artinya bukan dalam bentuk voucher melainkan satu kartu sekali pakai.

Jika seseorang berlangganan atau memakai kartu ini berturu-turut selama sebulan, berarti biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi internet hanya Rp. 40.000,- dengan kuota 40GB. Berbeda dengan tri, telkomsel mengeluarkan jenis kartu baru yakni kartu khusus game PUBG dan Mobile Legends, yang hanya Rp.25.000 dengan kuota 3GB selama sebulan. Bahkan telkomsel juga menawarkan paket 15GB bagi pengguna telkomsel lama seharga Rp.75.000

Mahasiswa pemakai kartu telkomsel dan smartfren

Tapi baik pengguna kartu Smartfren (kiri) dan pengguna kartu Telkomsel (kanan), mengaku sama-sama memiliki kualitas internet yang bagus bahkan 4G. Begitu jugan dengan pengguna kartu Tri yang sudah dibuktikan dengan sinyal detector.

Kualitas internet di ruang publik memang ditentukan dengan akses jaringan setiap kartu, dan banyak orang pula memiliki kartu yang sama. Oleh karena itu ada cara lain yang dapat dilakukan untuk melihat kualitas jaringan pada kartu sendiri, yang dinamakan Signal Detector.

Aplikasi Signal Detector


Signal Detector merupakan aplikasi yang juga dapat didownload di PlayStore untuk melihat seberapa baik kualitas jaringan yang digunakan serta dapat dilihat kecepatan internet dalam ms. Seperti data pengecekan kartu Tri yang digunakan di DPR yang selalu memiliki dua digit angka dalam ms.

Penggunaan Signal Detector


Dari status Signal Detector untuk Tri, kecepatannya selalu berubah tiap waktu, itulah yang dinamakan sinyal internet, terlebih lagi jika tiba-tiba berubah menjadi H+ atau 3G dan kembali lagi menjadi 4G. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, memang akses jaringan kartu semakin bisa digunakan di manapun.

Bahkan tempat seluas DPR (Di bawah Pohon Rindang) yang seperti taman, bisa diakses semua jaringan. Walaupun kadang-kadang sinyalnya berubah, tapi jaringannya masih dirasakan stabil. Hal ini juga yang membuat banyak mahasiswa yang tidak takut untuk bermain game, karena jika jaringan dalam keadaan lag (patah), orang-orang tidak akan menggunakannya dalam bermain game.

Semakin berkembangnya zaman, konsumsi internet memang semakin dibutuhkan, apalagi dalam mengerjakan tugas, menonton sosial media kesukaan, atau bahkan menghubungi keluarga pastinya menginginkan kualitas internet yang lebih baik. Tapi banyak orang terkendala di berbagai tempat, ada yang di daerahnya hanya bisa satu kartu saja, ada yang kartu yang lain tapi lag, bahkan ada yang memakai wifi tapi juga lambat.

Akan tetapi, pencakupan akses jaringan di perkotaan memang semakin maju, jadi tidak heran jika Di Bawah Pohon Rindang bisa mendapatkan kualitas jaringan yang bagus. Sekali pun di akses untuk ruang publik, tapi di Bawah Pohon Rindang bisa memberikan akses jaringan yang baik.
Selamat menikmati kualitas jaringan internet di ruang publik dengan kartu internet yang digunakan seperti di Bawah Pohon Rindang sambil bersantai, duduk, bercengkrama maupun bermain sosial media.


Continue reading →
Tuesday, 1 October 2019

Lighthouse From Naledi [Chapter 6]

6 comments

“Biasanya di sore hari menjelang malam, para Naledi berhenti bekerja dan tidur selama setengah jam, kalian keluarlah saat itu tiba, dan aku yang akan mengurus semua ini,” ujar Naledi sesaat setelah matahari mulai tenggelam dan digantikan bulan.

Tepat seperti yang Naledi katakan, para Naledi lain mulai tertidur pulas dan Key bahkan Raka masih berbincang. Saat kesempatan itu tiba, Naledi membukakan kurungan dan menuntun mereka keluar melewati Gua sempit di samping kurungan yang tertutup batu. Naledi menyuruh Hana dan Dewa menunggu sampai ia kembali membawa Raka. Di sisi lain, Raka yang masih diinterogasi Key pun akhirnya harus pasrah menerima tawaran untuk bekerja sama dengan Key. Sejak dulu, Raka memang menginginkan sebuah penemuan baru untuk ditunjukkannya pada dunia.

“Letakkan mesentery ini tepat di atas kerangka Naledi dan masukkan darah yang berasal dari wanitamu ke dalam serum ini.” Key memerintah Raka yang masih berjalan meletakkan mesentery.

“Hana? Kau memintaku mengambil darah Hana?” tanya Raka kasar sambil mundur secara perlahan.

“Hana? Hana sudah meminum air gurun itu, dan kau hanya perlu mengambil sisanya.” Key tertawa bengis dan merentangkan tangannya.

“Air gurun itu dapat membuat daya tahan tubuh seseorang meningkat, Hana tidak akan mati jika kau mengambil darahnya. Ayolah, kau hanya perlu mengambil apa yang telah kuberikan untuk temanmu,” sambung Key sambil menyeringai lebar dan menyuruh Raka untuk melakukan percobaan itu.

“Kau bajingan!” Raka mengumpat sambil melemparkan mesentery itu dengan kasar ke dalam kerangka yang telah utuh itu.

“Tidak! Bukan dengan cara seperti ini, kau pembawa bencana.” Key berteriak geram karena mesentery kesayangannya pecah di dalam kerangka tubuh yang telah sempurna. Sedangkan Raka mencari Hana dan Dewa yang kurungannya telah kosong. Belum sampai ia lima menit mencari, para Naledi keluar bersamaan dan mengejarnya yang terjebak dalam Gua kecil itu.

“Psst. Raka!” pekik Hana kecil dari Gua di samping kurungan yang tertutup batu saat Raka dikerumuni para Naledi. Perlahan Raka mendongakkan kepalanya dan melihat siluet Hana yang tengah memanggilnya untuk melewati batu besar itu.

“Tuan memanggil kalian, dia butuh bantuan!” Naledi yang pertama kali mereka jumpai itu memerintah seluruh Naledi untuk membantu Key yang terkena masalah. Raka memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.

“Manusiaku ...,” lirih Key sambil mengambil mesentery satu-satunya itu. Tapi sebelum mesentery itu sempat disentuh, kerangka itu tiba-tiba bergerak dan menatap sekeliling untuk kemudian berdiri dan berjalan pelan. 

***
to be continue...
Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)